Surabaya, MEMANGGIL.CO  — Maraknya praktik jasa joki tugas hingga karya ilmiah di lingkungan perguruan tinggi menjadi perhatian sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Mereka merespons persoalan tersebut dengan menggagas gerakan edukasi antijoki bertajuk “Cuan Dikorbankan, Integritas Dihancurkan”.

Gerakan yang diinisiasi Tim Manjur tersebut tidak sekadar menjadi kampanye penolakan terhadap jasa joki akademik. Mereka juga berupaya membangun kesadaran mahasiswa agar tidak menjadikan praktik kecurangan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas perkuliahan.

Inovasi ini dilombakan dalam ajang Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026.

Gagasan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap semakin dinormalisasikannya praktik kecurangan akademik di lingkungan perguruan.

Berdasarkan data Survei Penilaian Integritas Pendidikan KPK 2026, sebanyak 43 persen responden masih menemukan praktik joki tugas akhir.

Sementara itu, survei awal yang dilakukan Tim Manjur menunjukkan 84,6 persen mahasiswa mengetahui keberadaan jasa joki di lingkungan sekitar mereka.

Ketua Tim Manjur, Nabila Dwi Wahyu Santoso, mengungkapkan, kemudahan akses jasa joki di media sosial membuat sebagian mahasiswa menganggap kecurangan akademik sebagai hal yang lumrah. Joki kerap dianggap sebagai solusi instan atas beban perkuliahan. 

"Padahal, kebiasaan ini merusak kompetensi dan kejujuran akademik. Parahnya, itu merugikan kita sebagai mahasiswa. Tugas yang seharusnya bikin kita belajar dan berkembang malah dikerjakan orang lain, kan rugi," kata mahasiswi S-1 Manajemen Pendidikan, Selasa, 3 November 2026. 

Untuk mengikis praktik tersebut, Tim Manjur mengembangkan strategi edukasi terstruktur berbasis gerakan SATU, yang meliputi, sebarkan untuk  mengedukasi publik melalui platform Instagram dan YouTube, termasuk membedah modus bisnis joki serta menyelenggarakan siniar (podcast) literasi akademik bersama dosen. 

Ajak dalam menggalang kolaborasi aktif dengan berbagai organisasi kemahasiswaan. 

Temui dengan melakukan sosialisasi langsung ke sejumlah perguruan tinggi, seperti UINSA, Unusa, hingga Universitas Uluwiyah Mojokerto. 

Ukuhkan dengan membangun komitmen bersama melalui deklarasi penolakan joki akademik. 

Kampanye interaktif ini tidak hanya mengandalkan visual, tetapi juga mengukur efektivitas pesan melalui metode pre-test dan post-test.  

Hingga kini, lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai kampus telah menandatangani komitmen bersama untuk menolak penggunaan jasa joki. 

Dosen pembimbing Tim Manjur, Kartika Herlina Candraning Shiam, menilai gerakan ini sangat krusial dalam menjaga mutu lulusan perguruan tinggi.  

Menurutnya, kesadaran menolak joki harus dibangun dari pemahaman bahwa proses menyelesaikan tugas adalah bagian tak terpisahkan dari pembentukan kompetensi dan daya saing profesional di dunia kerja. 

"Persoalan ini relevan untuk terus disuarakan di berbagai forum agar kesadaran kolektif tentang pentingnya integritas akademik di lingkungan perguruan tinggi dapat terjaga," ungkap Kartika. 

Gerakan ini digagas secara interdisipliner oleh Nabila Dwi Wahyu Santoso bersama tiga rekannya, yakni Viana Putri Aisyah (S-1 Manajemen Pendidikan), Muhamad Dava Fals Ditya (S-1 Pendidikan Seni Rupa), dan Mochammad Fahreza Islamuddin (S-1 Desain Komunikasi Visual).