Cepu, MEMANGGIL.CO - Banjir yang sering terjadi di wilayah Cepu, Kabupaten Blora, tidak hanya menyisakan persoalan klasik berupa kerusakan lingkungan dan terganggunya aktivitas warga, tetapi juga membawa ancaman lain yang tak kalah serius, yakni potensi meningkatnya penyakit di tengah masyarakat.
Genangan air yang bertahan dalam waktu tertentu, bercampur dengan lumpur serta limbah rumah tangga, menjadi media yang ideal bagi berkembangnya berbagai bakteri dan kuman penyebab penyakit. Kondisi ini semakin berisiko bagi warga yang masih beraktivitas di area terdampak tanpa perlindungan memadai.
Baca juga: Waspada Penyakit Leptospirosis Saat Banjir, RSUD Cepu Blora Paparkan Tanda-Tandanya
Merespons hal itu, Direktur RSUD dr. R. Soeprapto Cepu, drg. Wilys Yuniarti, mengingatkan bahwa banjir memiliki korelasi kuat terhadap munculnya sejumlah penyakit menular yang kerap menyerang warga pascabencana.
“Banjir banyak sekali berdampak pada kesehatan, misalnya menyebabkan penyakit pada kulit, diare, dan juga leptospirosis,” ujarnya pada Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, penyakit kulit menjadi salah satu yang paling sering muncul akibat paparan langsung air banjir yang kotor. Selain itu, gangguan pencernaan seperti diare juga berpotensi meningkat seiring menurunnya kualitas air bersih dan sanitasi lingkungan.
Tak hanya itu, ancaman penyakit leptospirosis juga perlu diwaspadai. Penyakit yang ditularkan melalui air yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus, ini kerap muncul di wilayah yang mengalami genangan dalam waktu cukup lama.
Menurut drg. Wilys, kondisi lingkungan pascabanjir yang cenderung kotor dan tercemar menjadi faktor utama meningkatnya risiko penyakit. Air yang menggenang tidak hanya membawa material alami, tetapi juga berbagai limbah yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Baca juga: RSUD Cepu Blora Pantau Dampak Banjir, Warga Diminta Tak Lengah dengan Risiko Penyakit
“Kontak langsung dengan air banjir tanpa perlindungan dapat mempercepat penularan penyakit, terutama bagi warga yang beraktivitas di area terdampak,” jelasnya.
Karena itu, RSUD Cepu menekankan pentingnya langkah pencegahan sederhana namun konsisten dilakukan oleh masyarakat. Kesadaran individu dinilai menjadi benteng pertama dalam menekan potensi penyebaran penyakit.
“Untuk mencegah risiko tersebut kami menghimbau kepada masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan diri, cuci tangan pakai sabun dan juga menjaga kebersihan diri,” tegas drg. Wilys.
Baca juga: Wayang Krucil Janjang Tampil di Pendopo Bupati Blora, Gus Arief Dorong Jadi Wisata Edukasi
Selain kebersihan diri, warga juga diimbau memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, termasuk memastikan air yang digunakan tetap aman dan tidak tercemar. Hal ini penting mengingat banyak sumber air warga yang berpotensi terdampak langsung oleh banjir.
Peringatan ini menjadi semakin relevan mengingat intensitas banjir di wilayah Cepu yang cenderung berulang setiap musim hujan. Tanpa langkah antisipasi yang serius, dampak kesehatan dikhawatirkan dapat berkembang menjadi masalah yang lebih luas dan berkepanjangan.
Lebih lanjut, RSUD Cepu pun mengingatkan bahwa kewaspadaan tidak hanya diperlukan saat banjir berlangsung, tetapi juga setelah air surut. Pada fase inilah berbagai penyakit justru kerap mulai muncul dan menyebar di tengah masyarakat.
Editor : Redaksi