Blora, MEMANGGIL.CO - Teror pocong jadi-jadian mulai meresahkan warga di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sosok berbalut kain putih yang muncul tiba-tiba di jalan desa hingga area permukiman warga memunculkan berbagai spekulasi liar.
Fenomena tersebut belakangan ramai diperbincangkan di media sosial maupun grup percakapan warga. Tidak sedikit masyarakat yang mengaitkannya dengan aksi teror, konten media sosial hingga dugaan modus kriminal yang sengaja memanfaatkan ketakutan warga.
Di tengah keresahan itu, satu kasus akhirnya berhasil terungkap di Desa Cokrowati, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Sosok pocong yang sempat membuat geger warga ternyata hanya ulah sekelompok bocah sekolah yang iseng membuat konten dan bercanda dengan teman-temannya.
Namun, berbeda dengan kejadian di Todanan yang sudah menemukan titik terang, kemunculan pocong di Desa Gempolrejo, Kecamatan Tunjungan, hingga kini masih menyisakan misteri. Warga setempat mengaku masih dihantui rasa takut lantaran sosok menyerupai pocong disebut beberapa kali muncul pada malam hari.
Kasus di Todanan sendiri mulai terbongkar setelah warga melakukan penelusuran melalui rekaman CCTV di sekitar lokasi kemunculan pocong. Dari situlah identitas pelaku perlahan diketahui sebelum akhirnya diklarifikasi ke pihak pemerintah desa.
Warga asal Todanan, Fuad Mushofa, mengatakan rekaman kamera pengawas menjadi kunci utama terbongkarnya aksi tersebut.
“Dari CCTV, lha setelah diklarifikasi guyon karo koncone,” ujarnya kepada Memanggil.co, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, setelah identitas pelaku diketahui, pihak desa langsung bergerak cepat untuk memastikan kabar yang beredar tidak semakin membuat masyarakat panik.
“Tadi juga tanya ke lurahe,” katanya.
Kasatreskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, membenarkan bahwa kejadian di Desa Cokrowati bukan aksi kriminal ataupun teror terorganisir. Polisi menyebut peristiwa itu murni kenakalan remaja.
“Di Desa Cokrowati mas, guyonan sama temannya,” kata Zaenul saat dikonfirmasi.
Pengakuan Pihak Desa
Sementara itu, Kepala Desa Cokrowati, Edy Sutrisno, mengungkapkan sosok pocong yang viral tersebut ternyata diperankan anak sekolah berusia sekitar 14 hingga 15 tahun.
“Iya, itu bocah sekolah,” ujarnya.
Edy menjelaskan, aksi tersebut bermula ketika sejumlah anak berkumpul di rumah salah satu temannya. Di tengah aktivitas bermain itu, salah seorang mengambil mukena dari musala untuk dijadikan kostum pocong.
“Kronologinya itu dolanan nenggone koncone cah sekolah sini, terus nganggo pocong-pocongan kuwi, nganggo rukoh ko musala,” jelasnya.
Aksi iseng itu kemudian direkam dan menyebar luas hingga membuat warga panik. Situasi semakin sensitif karena isu pocong jadi-jadian memang sedang ramai dibicarakan masyarakat Blora dalam beberapa pekan terakhir.
Pemerintah desa bersama Bhabinkamtibmas akhirnya memanggil anak yang terlibat beserta orang tuanya untuk dimintai klarifikasi dan diberikan pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Bocah-bocah ditekoki kabeh terus pada ngaku, wong tuwane terus tak tekak e kabeh, karo Pak Babinkamtibmas, terus tak kon gawe pernyataan ben ora diulangi,” lanjut Edy.
Ia menegaskan, pelaku utama yang mengenakan kostum pocong hanya satu orang dan berasal dari Dukuh Manggir, Desa Ngumbul.
“Yang jadi pocong-pocongan itu tiang setunggal,” katanya.
Meski demikian, Edy mengaku belum mengetahui pasti motif para bocah tersebut. Menurutnya, aksi itu kemungkinan besar hanya bentuk kenakalan remaja yang tidak memikirkan dampaknya terhadap masyarakat luas.
“Aku yo ra paham, namine bocah yo ono seng ngoteniku,” ujarnya.
Pihak desa pun memberikan teguran keras kepada para pelaku maupun orang tua masing-masing. Sebab, aksi semacam itu dinilai bisa memicu keresahan dan ketakutan warga, terlebih di tengah maraknya isu teror pocong yang belum sepenuhnya terungkap di wilayah lain.
“Yo tak kandani akeh-akeh, wong tuane ya tak omongi, kulo minta tolong karena ini musimnya lagi ada teror begini, rawan-rawannya hal seperti itu,” tegas Edy.
Ia juga meminta para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka agar tidak lagi melakukan aksi serupa demi hiburan ataupun konten media sosial.
“Kulo berpesan selaku pihak orang tua tolong anaknya dikandani iseng apik jangan sampai terulang lagi,” imbuhnya.
Di sisi lain, kasus pocong misterius di Kecamatan Tunjungan hingga kini masih menjadi tanda tanya. Warga berharap aparat dan pemerintah desa dapat segera mengungkap kejadian tersebut agar keresahan masyarakat tidak semakin meluas.
Sementara itu, orang tua pelaku di Todanan disebut telah menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah desa dan masyarakat atas ulah anaknya yang sempat membuat geger satu kampung.
“Wong tuane nggih nyuwun ngapunten,” tandas Edy.