Cepu, MEMANGGIL.CO - Banjir yang terus berulang di wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, tidak hanya menyisakan persoalan genangan dan kerusakan lingkungan, tetapi juga memunculkan ancaman lanjutan yang kerap luput dari perhatian, yakni menurunnya kualitas air bersih yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, aspek sanitasi dan ketersediaan air layak konsumsi menjadi faktor krusial yang berpengaruh langsung terhadap risiko munculnya berbagai penyakit. Sayangnya, persoalan ini sering kali terabaikan, terutama saat fokus penanganan masih tertuju pada dampak fisik banjir.
Baca juga: RSUD Cepu Blora Pastikan Warga Terdampak Banjir Tetap Bisa Berobat
Direktur RSUD dr. R. Soeprapto Cepu, drg. Wilys Yuniarti, menegaskan bahwa sumber air masyarakat sangat rentan mengalami pencemaran pascabanjir, khususnya bagi warga yang masih bergantung pada sumber air tanah dangkal.
“Sangat penting sekali, karena biasanya setelah banjir sumber air kita, terutama yang menggunakan sumber air tanah permukaan atau dangkal, terimbas atau tercemar,” jelasnya kepada Memanggil.co, ditulis Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, air yang tercemar dapat menjadi media penyebaran berbagai penyakit, mulai dari gangguan pencernaan hingga infeksi kulit. Kondisi ini diperparah apabila masyarakat tetap menggunakan air tanpa melalui proses penyaringan atau pengolahan yang memadai.
Menyikapi potensi tersebut, RSUD Cepu telah melakukan langkah antisipatif dengan menyiapkan berbagai kebutuhan medis guna menghadapi kemungkinan lonjakan kasus penyakit pascabanjir. Kesiapan ini meliputi ketersediaan obat-obatan hingga sarana penunjang pelayanan kesehatan.
“Langkah konkret kita dengan mempersiapkan obat dan sarana untuk penyakit-penyakit yang sering muncul setelah banjir,” ujarnya.
Baca juga: Tinjau Lokasi Banjir Cepu, Wabup Blora Ungkap Akar Masalah dan Solusi Jangka Panjang
Selain kesiapan internal, RSUD Cepu juga memperkuat koordinasi lintas sektor sebagai bagian dari upaya penanganan yang lebih terintegrasi. Sinergi dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi kunci dalam memastikan deteksi dini dan penanganan cepat di lapangan.
“Kita tetap berkoordinasi dengan puskesmas dan Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Blora,” tambahnya.
Koordinasi tersebut dinilai penting untuk memetakan kondisi kesehatan masyarakat secara menyeluruh, sekaligus mencegah terjadinya lonjakan kasus yang tidak terpantau. Dengan sistem rujukan yang berjalan optimal, diharapkan penanganan pasien dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Meski hingga saat ini RSUD Cepu belum membuka posko kesehatan khusus bagi korban banjir, pihak rumah sakit memastikan kesiapan penuh apabila situasi di lapangan mengharuskan adanya layanan tambahan.
Baca juga: Waspada Penyakit Leptospirosis Saat Banjir, RSUD Cepu Blora Paparkan Tanda-Tandanya
“Kalau memang dibutuhkan, kita siap untuk membuka posko seperti saat banjir tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.
Kesiapan tersebut menjadi bagian dari langkah mitigasi yang terus dilakukan, mengingat banjir di Cepu bukan lagi peristiwa insidental, melainkan telah menjadi pola berulang setiap musim hujan.
Oleh karena itu, penanganan tidak hanya difokuskan pada kondisi darurat, tetapi juga pada upaya pencegahan dampak lanjutan, khususnya di sektor kesehatan masyarakat.
Editor : Redaksi