Surabaya, MEMANGGIL.CO – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya, menghentikan sementara operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah sekitar 200 siswa dari 12 sekolah diduga mengalami keracunan makanan pada Senin (11/5). Seluruh distribusi makanan dari dapur tersebut langsung ditarik menyusul laporan siswa mengalami mual dan pusing usai menyantap menu MBG.
Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla, mengatakan keputusan penghentian distribusi dilakukan sesaat setelah pihaknya menerima laporan adanya siswa yang mengalami gejala keracunan. Dari total rata-rata 3.020 porsi yang biasanya dikirim setiap hari, distribusi hari itu langsung dihentikan sebelum seluruh paket makanan tersalurkan.
“Biasanya mendistribusikan 3.020 porsi setiap harinya, tetapi hari ini hanya mendistribusikan 2 ribu sekian, karena saat saya menerima informasi bahwa ada sekolah yang keracunan, langsung saya stop,” ujar Chafi, Senin (11/5).
Tak hanya menghentikan distribusi, operasional dapur MBG di Tembok Dukuh juga ditutup sementara hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Sampel makanan kini diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLK) Surabaya untuk memastikan penyebab insiden tersebut.
“Kita berhenti operasional, kita evaluasi dulu sampai semua benar-benar baik. Yang jelas menunggu hasil laboratorium sampel makanan,” katanya.
Chafi menegaskan dapur SPPG yang baru beroperasi sejak Februari 2026 itu telah memiliki izin dan sertifikasi sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN). Ia mengklaim bahan baku makanan, termasuk daging yang diduga menjadi pemicu keracunan, diterima dalam kondisi layak dan diolah sesuai standar operasional.
“Dagingnya nggak basi, karena saat kita terima dagingnya sudah bagus. Memang daging itu bahan yang sangat riskan. Bumbunya pun sudah sesuai sama resep dan standar masaknya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, drg Tyas Pranadani, menyebut laporan pertama diterima sekitar pukul 09.00 WIB setelah sejumlah sekolah melaporkan siswa mengalami keluhan kesehatan. Para siswa kemudian mendapat penanganan di Puskesmas Tembok Dukuh dan sebagian dirujuk ke RSIA IBI Surabaya.
Menurut Tyas, gejala yang paling banyak dialami siswa adalah mual dan pusing. Berdasarkan informasi dari pihak sekolah, menu MBG hari itu berbeda dari biasanya karena terdapat olahan daging.
“Kalau dari pantauan kami dan laporan guru-guru, biasanya nggak dikasih daging, hari ini ada daging. Jadi mungkin dari dagingnya, karena selama ini nggak pernah dikasih daging,” ujar Tyas.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena melibatkan program MBG yang tengah dijalankan pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi pelajar. Hingga kini, Dinas Kesehatan Surabaya bersama pihak terkait masih melakukan investigasi guna memastikan sumber penyebab dugaan keracunan massal tersebut.
Editor : B. Wibowo