Surabaya, MEMANGGIL.CO - Polemik pengosongan ruang Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan sejumlah komunitas seni di Kompleks Balai Pemuda Surabaya terus menuai kritik. Seniman dan budayawan menilai langkah Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani persoalan tersebut justru memunculkan kesan bahwa ruang budaya diperlakukan layaknya aset administratif biasa, bukan bagian dari sejarah kebudayaan kota.

Budayawan Meimura menyoroti pernyataan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang menyebut Balai Pemuda terbuka untuk seluruh seniman. Menurutnya, pernyataan tersebut muncul setelah publik lebih dulu menyaksikan pengosongan ruang, penjagaan Satpol PP, hingga pengangkutan gamelan dari kawasan Balai Pemuda.

“Publik sudah melihat surat pengosongan, ketegangan, sampai gamelan diangkut. Setelah itu muncul narasi bahwa Balai Pemuda terbuka untuk semua. Persoalannya bukan sekadar boleh memakai atau tidak, tetapi bagaimana sejarah dan ekosistem budaya diperlakukan,” kata Meimura, Senin (12/5/2026).

Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa dipahami hanya sebagai urusan pemanfaatan gedung. Sebab sejumlah komunitas seperti DKS, Bengkel Muda Surabaya, Sanggar Merah Putih hingga Warung Ning telah puluhan tahun beraktivitas di Balai Pemuda dan menjadi bagian penting perjalanan kesenian Kota Pahlawan.

Menurutnya, ruang-ruang itu telah melahirkan berbagai aktivitas kebudayaan, mulai diskusi, latihan teater, pertunjukan seni hingga proses kaderisasi seniman lintas generasi. Karena itu, pengosongan mendadak dinilai memunculkan kegelisahan di kalangan pelaku seni.

“Lima puluh tahun berada di Balai Pemuda bukan sekadar menempati ruangan. Itu sudah menjadi bagian dari memori budaya Surabaya,” ujarnya.

Sorotan paling kuat, lanjut Meimura, muncul saat gamelan pelog dan slendro yang disebut sebagai pemberian almarhumah Tuti Aziz ikut dipindahkan. Ia menilai gamelan bukan sekadar benda inventaris, melainkan simbol penting dalam kebudayaan Jawa yang memiliki nilai historis dan emosional bagi komunitas seni.

Sate Pak Rizki

“Gamelan itu bukan barang biasa. Dalam tradisi Jawa, gamelan adalah penanda kehidupan budaya. Karena itu publik marah bukan hanya soal ruangan kosong, tetapi cara memperlakukan kebudayaan,” katanya.

Di sisi lain, Pemkot Surabaya sebelumnya menegaskan bahwa Balai Pemuda merupakan ruang terbuka bagi seluruh seniman dan komunitas budaya. Pemkot juga menyebut penataan dilakukan menyesuaikan regulasi terbaru terkait kelembagaan dewan kebudayaan di daerah.

Aksi demonstrasi para seniman beberapa hari terakhir pun berlangsung dengan nuansa satire dan simbol budaya khas Surabaya. Sejumlah poster kritik hingga aksi teatrikal mewarnai unjuk rasa di kawasan Balai Pemuda. Bagi kalangan budayawan, demonstrasi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap ruang budaya yang selama ini menjadi bagian dari identitas kota.

“Ini bukan perang melawan pemerintah kota. Seniman hanya ingin memastikan ruang budaya tetap punya ruh dan sejarahnya tidak hilang,” tutur Meimura.