Surabaya, MEMANGGIL.CO – Krista Exhibitions kembali menggelar pameran berskala internasional Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 di Grand City Exhibition Hall, Surabaya.
Memasuki tahun ke-19 pelaksanaannya, pameran tersebut menjadi panggung utama percepatan efisiensi industri grafika dan pengemasan, sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang saat ini melaju positif di angka 5,96 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan nasional sebesar 5,61 persen.
Besarnya potensi pasar di wilayah Indonesia Timur mendorong pihak penyelenggara meningkatkan intensitas pameran. CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, memaparkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang luar biasa membuat intensitas pameran di Surabaya ditambah menjadi tiga kali dalam setahun, dari yang semula hanya dua kali.
"Khusus tahun ini, kami membawa teknologi pangan untuk industri kecil hingga besar ke pameran SPE. Event ini kini terintegrasi langsung dengan Allpack Surabaya (Ispack) serta penambahan sektor beauty pack. Langkah penggabungan ini diambil karena industri makanan, minuman, dan kosmetik merupakan penyerap terbesar dari teknologi pengemasan (packaging)," ungkap Daud Salim dalam Konferensi Pers, Jumat 3 Juli 2026.
Daud menambahkan, struktur demografi Indonesia saat ini didominasi oleh generasi milenial dan usia produktif yang mencapai 55 persen. Kondisi tersebut secara langsung melipatgandakan kebutuhan logistik pangan serta permintaan terhadap kemasan yang kreatif dan inovatif.
Pameran SPE 2026 kali ini diikuti oleh 153 perusahaan, termasuk di antaranya 10 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Area pameran difokuskan pada penyediaan solusi teknologi industrial printing, packaging decoration, digital printing untuk promosi, hingga cetak tekstil.
Menariknya, pameran tahun ini juga mulai unjuk gigi dengan menampilkan mesin-mesin cetak produksi lokal hasil rakitan anak bangsa demi mengurangi ketergantungan pada mesin impor.
Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, mengatakan, pameran ini hadir sebagai jawaban bagi para pelaku usaha di tengah fluktuasi ekonomi global dan domestik.
Saat ini, nilai pasar industri cetak di Indonesia telah menembus angka fantastis Rp190 triliun per tahun, yang mayoritasnya didorong oleh sektor kemasan (packaging) serta cetakan komersial.
"Kondisi makroekonomi menuntut pelaku usaha untuk adaptif dan mengevaluasi ulang struktur biaya. SPE 2026 bukan sekadar ajang jual beli mesin, melainkan ruang solusi bisnis. Teknologi terbaru yang dipamerkan menawarkan efisiensi tinggi, minim limbah, dan kecepatan produksi yang mampu menjaga daya saing," ungkap Ahmad Mughira.
Ia mengimbau agar 80 persen anggota PPGI yang saat ini berada di sektor UMKM tidak lagi terjebak di pasar yang jenuh (saturated market). Pelaku usaha lokal didorong untuk segera bergeser ke arah smart packaging dan otomatisasi cetak yang pasarnya dinilai masih terbuka lebar.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPD PPGI Jawa Timur, Iwan Dhamar, menepis anggapan keliru bahwa era digitalisasi mematikan industri percetakan.
Menurutnya, yang terjadi saat ini bukanlah penurunan fungsi, melainkan pergeseran bentuk kebutuhan dari media konvensional seperti koran dan buku ke arah kemasan kreatif serta produk yang dikustomisasi.
"Dulu, memesan cetakan kemasan harus dalam jumlah massal yang sulit dijangkau UMKM. Sekarang, dengan perkembangan teknologi digital, cetak kemasan bisa dilakukan tanpa batas minimum (no minimum order), bahkan bisa di-kustomisasi secara khusus per individu menggunakan bantuan perangkat lunak mutakhir dan kecerdasan buatan (AI)," terang Iwan.
Ia juga mengapresiasi kualitas talenta lokal Jatim yang terbukti unggul, di mana kompetisi desain kemasan tingkat nasional terbaru berhasil disapu bersih oleh perwakilan mahasiswa dari Surabaya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Koperasi dan UKM menambahkan, Surabaya dan Jawa Timur merupakan magnet sekaligus hub logistik utama bagi Indonesia Timur.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, sektor industri pengolahan memegang proporsi tertinggi dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur, yakni sebesar 31,45 persen. Di dalam sektor pengolahan tersebut, industri percetakan, kertas, dan reproduksi media menyumbang kontribusi hampir 5 persen.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Yudi Ariyanto, menekankan komitmen penuh pemerintah untuk terus mendorong kolaborasi agar UMKM di Jawa Timur, yang saat ini berjumlah sekitar 4,5 juta pelaku usaha, tidak kalah bersaing di pasar global.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Haryo Bimo Bramantyo, berharap pameran ini menjadi momentum transformasi bagi pelaku usaha kecil.
"Melalui adopsi teknologi yang dipamerkan di SPE 2026, UMKM diharapkan mampu naik kelas. Dari yang semula hanya melakukan penjualan langsung, kini bertransformasi menjadi support system atau penunjang utama bagi industri-industri manufaktur skala besar," pungkasnya.
Editor : B. Wibowo