Boyolali, MEMANGGIL.CO - Muktamar NU ke-35, insyaallah akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Bagaikan jamur di musim hujan, kandidat Ketua Umum PBNU bermunculan dari berbagai ranah akademisi, birokrat, pengusaha, politisi, hingga aktivis. Mereka memiliki basis pesantren, baik sebagai alumni maupun pengasuh, disertai kedalaman ilmu agama dan umum serta pengalaman organisasi yang tidak diragukan.

Salah satu figur tersebut adalah KH Abdul Ghaffar Rozin, yang populer disapa Gus Rozin.

Kehadiran Gus Rozin dalam kontestasi Ketua Umum PBNU oleh sebagian kalangan NU kultural maupun struktural ibarat kuncup bunga yang dinanti mekarnya. Jika kelak mekar, harapannya bukan sekadar menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menebarkan semerbak kebersamaan, membangkitkan spirit kolektif untuk merajut kembali kebersamaan yang belakangan terkoyak, sekaligus mendinamisasikan ikhtiar menuju kejayaan NU di awal abad kedua.

Jika Gus Rozin hadir di penghujung proses menuju Muktamar, bukan berarti ia terlambat melakukan deklarasi dan sosialisasi. Sikap tersebut lebih merupakan bentuk penghormatan terhadap proses internal PBNU untuk terlebih dahulu membuka ruang ishlah kaffah, sekaligus membangun atmosfer kepemimpinan yang kondusif tanpa menyeret struktur PWNU dan PCNU ke dalam pusaran konflik.

Ketika proses ishlah yang diharapkan tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda nyata, dengan nawaitu menjaga nilai-nilai luhur jam'iyah dan merawat NU menuju organisasi yang berdaulat, bermartabat, serta bermanfaat, Gus Rozin kemudian tampil sebagai kandidat melalui jalur poros tengah.

Poros tengah yang dimaksud bukanlah poros baru yang dibangun secara diametral, melainkan poros yang berusaha mempertemukan berbagai kekuatan dan kepentingan.

Tidak Berisik

Sebagai jam'iyah dengan modal sosial berupa basis massa yang sangat besar, NU memiliki heterogenitas dari sisi pendidikan, kultur, ekonomi, maupun religiusitas. Karena itu, secara sosiologis NU membutuhkan strong leadership, tetapi bukan kepemimpinan yang meninggalkan prinsip ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, sebagaimana diajarkan Ki Hadjar Dewantara.

Dalam perspektif Aswaja, pemimpin NU semestinya tampil sebagai khadimul ummah, pelayan umat, bukan sayyidul ummah dalam pengertian menempatkan diri sebagai pihak yang harus selalu berada di atas umat.

Gus Rozin menawarkan lima prinsip kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan NU saat ini.

Pertama, akhlakul karimah sebagai landasan moral kepemimpinan. Kedua, musyawarah sebagai dasar pengambilan keputusan. Ketiga, keadilan sebagai prinsip dalam menetapkan kebijakan. Keempat, khidmah sebagai orientasi utama kepemimpinan. Kelima, maslahah sebagai tujuan akhir dari setiap kebijakan.

Gus Rozin, yang kini berusia 50 tahun, memiliki modal untuk menjadi strong leader yang mampu menempatkan diri sesuai prinsip ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Dalam bidang pendidikan, ia memiliki dua basis keilmuan. Pertama, ilmu agama dengan kekuatan tradisi kitab turats khas pesantren dan sanad keilmuan yang terjaga. Kedua, ilmu pengetahuan umum yang diperoleh melalui pendidikan filsafat pada jenjang S1 di Jakarta, pendidikan kontemporer pada jenjang S2 di Monash University, Australia, serta jenjang S3 di UIN Walisongo Semarang.

Dari sisi dzuriyah, Gus Rozin juga memiliki keterhubungan dengan sejumlah poros pesantren besar yang masyhur dalam tradisi NU, antara lain Pondok Pesantren Denanyar, Tambakberas, Lirboyo, Maslakul Huda Kajen, dan Krapyak Yogyakarta.

Dari jalur Tambakberas, misalnya, terdapat rangkaian hubungan keluarga melalui Nyai Hurriyah, Nyai Musyarofah, hingga Nyai Khodijah yang merupakan istri KH Hasbullah Said. Sementara dari jalur Denanyar, keterhubungan tersebut juga bersambung melalui Nyai Hurriyah, Nyai Musyarofah, dan Nyai Khodijah, istri KH Bisri Syansuri.

Dari jalur Krapyak Yogyakarta, terdapat hubungan melalui Ning Tutik Nurul Jannah, istri Gus Rozin, yang bersambung kepada KH Toha Zaini, KH Zaini Munawir, hingga KH Munawir. Adapun dari jalur Lirboyo, hubungan tersebut tersambung melalui Ning Tutik, KH Toha Widodo, Nyai Qomariyah, hingga KH Abdul Karim Lirboyo.

Sementara dari jalur Maslakul Huda, hubungan tersebut antara lain melalui Nyai Nafisah Sahal Mahfudz, yang merupakan kakak dari ibu Gus Rozin.

Dalam kultur NU, latar belakang tersebut menunjukkan kuatnya keterhubungan Gus Rozin dengan jejaring pesantren dan keluarga besar ulama NU.

Dari sisi ekonomi, Gus Rozin juga dapat dikatakan sebagai pribadi yang relatif telah selesai dengan urusan domestiknya. Ia mengasuh pesantren, memimpin lembaga pendidikan, memimpin perguruan tinggi, terlibat dalam pengelolaan lembaga kesehatan dan lembaga keuangan syariah, serta memiliki sejumlah lini usaha. Di saat yang sama, ia dipercaya memimpin Majelis Masyayikh.

Dengan kondisi tersebut, secara argumentatif, Gus Rozin memiliki ruang yang cukup untuk berkonsentrasi mengurus NU tanpa menjadikan NU sebagai tumpuan bagi kepentingan pribadinya.

Ada kalanya orang yang merasa telah memiliki semuanya justru mudah terjebak pada sikap kibir, songong, bahkan permisif. Namun, karakter seperti itu tidak tampak dalam diri Gus Rozin. Ia dikenal humble, cair dalam berkomunikasi dan cenderung tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membelah.

Ia bukan tipe figur yang gemar berteriak atau bersorak untuk menunjukkan eksistensi. Komunikasinya dengan berbagai lini berlangsung cair, tanpa harus membelah atau menggores. Ia tidak suka mendongakkan kepala dan membusungkan dada. Sebaliknya, ia lebih banyak menebarkan senyum dan suasana damai.

Karena itu, istilah "tidak berisik" menjadi menarik untuk menggambarkan karakter politik Gus Rozin. Tidak berisik bukan berarti tidak memiliki sikap. Tidak tampil gaduh bukan berarti tidak memiliki gagasan. Justru dalam konteks kepemimpinan organisasi sebesar NU, kemampuan untuk bekerja dalam ketenangan, merawat komunikasi, dan mengelola perbedaan dapat menjadi modal yang sangat penting.

Gus Rozin juga memiliki pengalaman kerja dan pengabdian yang panjang. Ia pernah dipercaya menjadi utusan khusus presiden, staf khusus, anggota panitia seleksi, dewan pakar, dewan pengawas lembaga keuangan syariah, dan hingga kini menjadi Ketua Majelis Masyayikh Kementerian Agama. Berbagai amanah tersebut menjadi bagian dari rekam jejak yang dapat menjadi modal dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

Turbulensi dalam sebuah jam'iyah atau organisasi sering kali dipengaruhi faktor kepemimpinan. Turbulensi dapat berubah menjadi petaka apabila pemimpin puncak tidak memiliki kecakapan mitigasi dan kemampuan problem solving.

Retorika yang agitatif, visi yang melangit, serta janji-janji politik tidak akan cukup untuk menyelesaikan turbulensi apabila tidak dibarengi kemampuan memecahkan masalah dan jiwa melayani.

NU tidak membutuhkan wawu panjang yang sekadar "wah", tetapi membutuhkan uswah, yakni pemimpin sekaligus teladan.

NU memiliki modal sosial, modal kapital, serta sumber daya manusia yang sangat besar. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang benar-benar memahami "isi perut" NU, memiliki reputasi, dedikasi, serta pengalaman panjang dalam dunia khidmah, sekaligus mampu menjadi perekat dan pemantik bangkitnya spirit kolektif.

Dengan kepemimpinan yang tepat, berbagai potensi yang dimiliki NU dapat dikonversi menjadi prestasi untuk mewujudkan NU yang dicita-citakan para muassis dan seluruh warga NU.

Visioner dan Realistis

Gus Rozin tidak sekadar hadir dalam kontestasi. Ia hadir dengan visi strategis yang populis sekaligus realistis.

Ia memahami anatomi NU hari ini dan tantangan NU di masa mendatang. Ia juga memiliki pengalaman panjang dalam mendiagnosis persoalan organisasi karena selama lebih dari tiga dekade bergumul langsung dengan dinamika NU.

Perjalanan tersebut dimulai dari IPNU, GP Ansor, RMI, jajaran Katib Syuriah PBNU, hingga saat ini dipercaya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah.

Dalam rentang waktu tersebut, Gus Rozin menorehkan sejumlah pengalaman dan capaian, termasuk melalui kiprahnya di Majelis Masyayikh. Beberapa di antaranya berkaitan dengan penguatan regulasi pesantren, olimpiade sains dan ke-NU-an, penugasan dai NU di tingkat internasional, penugasan dai NU di daerah 3T, Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif, serta berbagai program lainnya.

Gus Rozin tidak sekadar ingin menjadikan NU setara dengan organisasi kemasyarakatan lain. Ia ingin NU tampil lebih unggul karena memiliki modal yang besar untuk itu.

Setidaknya terdapat sejumlah ikhtiar strategis yang ditawarkan, antara lain penguatan Aswaja, khittah dan Qanun Asasi; tata kelola organisasi yang transparan; penguatan pendidikan NU dalam satu ekosistem yang terintegrasi; kaderisasi yang sistematis, profesional, dan berkelanjutan; pengembangan NU Satu Data yang akurat; penguatan kemandirian ekonomi; serta mendorong diplomasi dan kolaborasi NU di tingkat nasional maupun global.

Semua kandidat Ketua Umum PBNU tentu memiliki cara, gagasan, dan cita-cita masing-masing untuk tampil sebagai pemenang dalam kontestasi Muktamar ke-35.

Namun, yang dihadapi sesungguhnya bukan sekadar persoalan kontestasi dan memilih kandidat. Persoalan yang jauh lebih substansial adalah bagaimana memastikan terpilihnya Ketua Umum PBNU yang mampu menjadi pemecah masalah, tidak problematik, tidak resisten terhadap kritik, tidak terjebak dalam menara gading, serta mampu merangkul seluruh kekuatan NU.

Dalam konteks itulah, Gus Rozin memiliki modal rekam jejak yang menarik untuk diperhitungkan.

Ia menawarkan model kepemimpinan yang tidak gaduh, tetapi bekerja. Tidak banyak berteriak, tetapi mampu membangun komunikasi. Tidak sekadar berbicara tentang visi, tetapi memiliki pengalaman panjang dalam mengelola berbagai persoalan.

Jika karakter tersebut mampu diterjemahkan menjadi kepemimpinan PBNU, Gus Rozin berpotensi menghadirkan wajah NU yang lebih teduh dan rindang; NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.

Pada akhirnya, Muktamar bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu, Muktamar adalah momentum untuk menentukan arah perjalanan jam'iyah di masa depan.

NU membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan, bukan mempertajam perbedaan; mampu melayani, bukan dilayani; mampu bekerja dalam ketenangan, bukan membangun kegaduhan.

Dan mungkin, di tengah banyaknya suara yang saling bersahutan, figur yang tidak berisik justru layak untuk didengarkan.