Transisi Energi Tak Berhenti di B50, BRIN Minta Pemerintah Siapkan E20

Reporter : Saputra
Kepala BRIN Arif Satria. (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menilai penerapan BBM B50 adalah langkah penting menuju kemandirian energi. 

Namun Arif menyebut pengembangan energi terbarukan tidak boleh berhenti disitu.

"Ini sebuah ikhtiar kita untuk membangun kekuatan transisi energi yang baik," ujar Arif saat berada di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Sabtu (04/07/2026).

Menurut Arif, pengembangan biofuel merupakan respons terhadap perubahan iklim yang menuntut energi dan proses produksi lebih bersih. Konsep ini bagian dari Clean Production dan Green Energy. 

Ia menambahkan, sektor energi adalah kunci kemandirian nasional. Dengan B50, campuran 50% biodiesel sawit dan 50% solar, Indonesia diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

"Jadi B50 merupakan salah satu pintu agar kita ke depan tidak tergantung lagi pada impor," katanya. 

Meski mengapresiasi B50, Arif menekankan Indonesia harus segera bersiap masuk ke tahap berikutnya, yaitu E20. 

"Kita juga harus sudah mulai masuk ke depan menjadi E20, berbasis pada etanol," imbuhnya. 

E20 adalah bahan bakar campuran 20% etanol dengan 80�nsin. Menurutnya, bauran energi ramah lingkungan seperti ini penting untuk mempercepat transisi energi nasional.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian ESDM mulai memberlakukan B50 secara nasional sejak 1 Juli 2026. Ini merupakan kelanjutan dari program B40 sebelumnya.

Penerapan tidak dilakukan serentak. Pemerintah memberi masa transisi 3 bulan untuk menghabiskan stok B40 dan menyesuaikan proses pencampuran serta distribusi, sebelum B50 berjalan penuh.

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru