Jombang, MEMANGGIL.CO - Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, menyiapkan pelayanan khusus bagi warga Nahdlatul Ulama yang datang ke Jombang selama pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Salah satu bentuk pelayanan tersebut yakni membuka akses ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari selama 24 jam.
Baca juga: 14 Hari Mengayuh Sepeda dari Sumatera Selatan, Ndan Arif Tiba di Jombang untuk Muktamar NU
Kebijakan tersebut diberlakukan untuk menyambut peserta, peninjau, serta tamu Muktamar yang datang dari berbagai daerah.
Pembukaan akses sepanjang hari juga memberikan keleluasaan bagi warga Nahdliyin untuk menyesuaikan waktu ziarah dengan agenda mereka selama berada di Jombang.
Muktamar ke-35 NU sendiri akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Pelaksanaan agenda besar tersebut diperkirakan meningkatkan mobilitas warga NU dari berbagai wilayah di kawasan Jombang dan sekitarnya.
Selama hari biasa, Pesantren Tebuireng menerapkan jadwal tertentu bagi masyarakat yang hendak berziarah ke kompleks makam. Waktu kunjungan biasanya dibuka pada pukul 08.00–15.00 WIB dan kembali dibuka pada pukul 20.00–02.00 WIB.
Namun, ketentuan tersebut ditiadakan selama rangkaian Muktamar berlangsung. Peserta dan tamu Muktamar dapat melakukan ziarah tanpa terikat jadwal kunjungan reguler yang berlaku pada hari-hari biasa.
Mudir V Bidang Pendidikan Formal Pesantren Tebuireng, KH Achmad Roziqi, mengatakan pembukaan akses tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para muktamirin. Pesantren ingin memberikan kesempatan kepada mereka yang datang dari berbagai daerah untuk berziarah ke makam para muassis NU.
“Kami membuka akses makam Pesantren Tebuireng secara penuh, karena kami hendak menghormati para muktamirin yang hendak berziarah ke Tebuireng,” ujar KH Achmad Roziqi, dikutip Senin (24/8/2026).
Ia menegaskan, selama Muktamar berlangsung tidak ada waktu yang dilarang bagi masyarakat untuk melakukan ziarah.
Keputusan tersebut juga mempertimbangkan padatnya agenda peserta Muktamar selama berada di Jombang. Dengan akses yang dibuka sepanjang hari, peserta dapat memilih waktu berziarah setelah maupun sebelum mengikuti agenda organisasi.
Kawasan makam yang dibuka mencakup makam Gus Dur dan KH Hasyim Asy’ari yang berada di kompleks Pesantren Tebuireng.
Kedua tokoh tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah NU dan menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasi sejak masa awal hingga perkembangannya saat ini.
Tebuireng Siapkan Pengaturan Peziarah
Pembukaan akses selama 24 jam tidak berarti pengelola membiarkan arus peziarah berlangsung tanpa pengaturan. Pesantren Tebuireng telah menyiapkan skema khusus untuk mengatur pergerakan masyarakat yang datang ke kawasan makam.
Pengaturan tersebut dilakukan untuk menjaga ketertiban sekaligus mempertahankan suasana kondusif di lingkungan pesantren. Para peziarah nantinya diarahkan mengikuti jalur yang telah disiapkan oleh pengelola.
Salah satu pengaturan yang disiapkan adalah penggunaan pintu belakang kawasan pesantren sebagai akses masuk peziarah. Skema tersebut diharapkan dapat membantu mengatur arus kunjungan selama jumlah peziarah meningkat.
Selain jalur masuk, Pesantren Tebuireng juga menyiapkan personel keamanan yang bertugas secara bergantian. Tim tersebut akan berjaga selama 24 jam untuk memastikan kegiatan ziarah berlangsung tertib dan aman.
Kesiapan tersebut menjadi penting karena Muktamar NU diperkirakan membawa banyak warga dari luar daerah ke Jombang.
Sebagian dari mereka tidak hanya mengikuti agenda Muktamar, tetapi juga memanfaatkan kesempatan untuk berziarah ke makam para ulama.
Dengan pengaturan tersebut, aktivitas ziarah diharapkan tidak mengganggu kegiatan pesantren. Pada saat yang sama, masyarakat tetap mendapatkan ruang yang cukup untuk menjalankan tradisi ziarah selama berada di Tebuireng.
Momentum Muktamar dan Tradisi Ziarah
Bagi warga Nahdliyin, ziarah ke makam ulama merupakan salah satu tradisi yang telah lama hidup di lingkungan pesantren.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengenang jasa dan perjuangan para ulama yang memiliki peran dalam perkembangan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.
Baca juga: Jelang Muktamar NU ke-35, Korlantas Polri Perkuat Pengamanan Arus Lalu Lintas di Jombang
Makam KH Hasyim Asy’ari memiliki arti khusus bagi warga NU karena beliau merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.
Sementara Gus Dur merupakan salah satu tokoh NU yang kemudian dipercaya memimpin Indonesia sebagai Presiden keempat Republik Indonesia.
Keduanya memiliki latar perjalanan yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki hubungan kuat dengan Tebuireng.
Keberadaan makam kedua tokoh tersebut menjadikan kawasan pesantren sebagai salah satu tempat yang banyak dikunjungi warga NU dari berbagai daerah.
Momen Muktamar ke-35 di Jombang kemudian memberikan konteks tersendiri bagi aktivitas ziarah tersebut. Peserta yang datang untuk mengikuti forum organisasi memiliki kesempatan sekaligus untuk mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan sejarah NU.
Pembukaan akses 24 jam membuat kesempatan tersebut semakin luas. Peserta yang memiliki jadwal kegiatan padat tetap dapat mengatur waktu untuk berziarah tanpa harus menunggu jam kunjungan reguler.
Pelayanan untuk Muktamirin
Kebijakan Pesantren Tebuireng juga memperlihatkan kesiapan lingkungan pesantren dalam menyambut kedatangan warga NU dari berbagai wilayah.
Pelayanan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan utama, tetapi juga mencakup kebutuhan para tamu selama berada di Jombang.
Peserta Muktamar memiliki latar belakang dan agenda yang berbeda-beda. Karena itu, fleksibilitas waktu ziarah menjadi salah satu fasilitas yang dapat membantu mereka menyesuaikan kegiatan selama berada di sekitar lokasi Muktamar.
Bagi sebagian peserta, kesempatan berziarah mungkin menjadi bagian penting dari perjalanan menuju Muktamar. Terlebih, pelaksanaan Muktamar berlangsung di Jombang yang memiliki sejumlah pesantren dan situs yang berkaitan erat dengan sejarah NU.
Dengan dibukanya makam selama 24 jam, peserta tidak harus memilih antara mengikuti agenda organisasi dan melakukan ziarah. Keduanya dapat dilakukan dengan pengaturan waktu masing-masing selama tetap mengikuti ketentuan dan arahan pengelola pesantren.
Baca juga: Dari Purwokerto hingga Surakarta, Jejak Muktamar NU di Tengah Gejolak Orde Lama
Menjaga Ketertiban Selama 24 Jam
Meski akses dibuka sepanjang hari, pengelola tetap menempatkan ketertiban sebagai perhatian utama. Kehadiran tim keamanan selama 24 jam menjadi bagian dari upaya memastikan aktivitas masyarakat berlangsung dengan tertib.
Pengaturan jalur masuk juga dilakukan untuk menghindari penumpukan peziarah di kawasan tertentu. Masyarakat yang datang diharapkan mengikuti arahan petugas agar pergerakan di dalam kompleks pesantren dapat berjalan lancar.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena aktivitas ziarah berpotensi berlangsung sejak pagi hingga malam. Dengan sistem pengamanan bergantian, pengelola berupaya memastikan pelayanan tetap berjalan meskipun kunjungan berlangsung tanpa jeda waktu.
Pesantren juga diharapkan tetap menjadi ruang yang nyaman bagi santri dan masyarakat yang menjalankan aktivitas lain. Karena itu, para peziarah perlu menjaga suasana lingkungan pesantren dan menghormati ketentuan yang telah ditetapkan pengelola.
Muktamar Menjadi Momentum Mengenang Sejarah NU
Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi forum untuk membahas persoalan organisasi dan kepemimpinan. Kehadiran ribuan warga NU di Jombang juga menjadi kesempatan untuk kembali mengenang sejarah panjang organisasi melalui pesantren dan makam para ulama.
Tebuireng menjadi salah satu titik yang memiliki hubungan kuat dengan sejarah tersebut. Di kawasan ini terdapat makam KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur yang menjadi tujuan ziarah warga dari berbagai daerah.
Pembukaan akses makam selama 24 jam diharapkan dapat memberikan ruang bagi para muktamirin untuk menjalankan tradisi tersebut. Kebijakan itu sekaligus menjadi bentuk penghormatan Pesantren Tebuireng kepada warga NU yang datang dalam rangka mengikuti Muktamar.
Pada akhirnya, Muktamar ke-35 NU bukan hanya menghadirkan dinamika organisasi di Tambakberas. Di sisi lain, momentum tersebut juga menghidupkan kembali suasana keagamaan dan tradisi pesantren di berbagai kawasan Jombang, termasuk Tebuireng.
Dengan akses ziarah yang dibuka sepanjang 24 jam selama Muktamar, warga Nahdliyin memiliki kesempatan lebih luas untuk berkunjung ke makam Gus Dur dan KH Hasyim Asy’ari.
Pengelola Pesantren Tebuireng berharap seluruh rangkaian kunjungan dapat berlangsung tertib, aman, dan tetap menjaga kekhidmatan lingkungan pesantren.
Editor : Redaksi