Jombang, MEMANGGIL.CO - Perjalanan panjang Makhsun Arif Hidayat menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang akhirnya berakhir setelah 14 hari mengayuh sepeda dari Sumatera Selatan.

Kader senior Banser berusia 56 tahun itu menempuh ribuan kilometer melintasi Pulau Sumatera hingga Jawa dengan membawa misi sederhana, yakni menghadiri Muktamar NU sekaligus mengekspresikan rasa syukur dan khidmah kepada organisasi.

Pria yang akrab disapa Ndan Arif tersebut berangkat dari wilayah Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Ia kemudian melanjutkan perjalanan melewati sejumlah daerah hingga akhirnya tiba di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang menjadi lokasi Muktamar ke-35 NU.

Keputusan menggunakan sepeda untuk perjalanan sejauh itu bukan muncul secara mendadak. Ndan Arif mengaku telah mempersiapkan kondisi fisik dan mental selama sekitar lima bulan sebelum Tambakberas ditetapkan sebagai lokasi Muktamar.

“Saya memang sudah berniat datang ke Muktamar dengan bersepeda. Ini bentuk rasa syukur karena masih diberi kesehatan dan kekuatan,” ujar Ndan Arif, ditulis Senin (24/8/2026). 

Bagi Ndan Arif, perjalanan tersebut bukan sekadar tantangan fisik. Ia ingin menjadikan perjalanan lintas pulau itu sebagai bentuk pengabdian sekaligus cara sederhana untuk ikut menyemarakkan Muktamar NU dari daerah asalnya.

Selama perjalanan, dukungan dari sesama kader NU menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya mampu menyelesaikan rute panjang tersebut. Sejumlah pengurus dan kader NU, Ansor, serta Banser di berbagai daerah turut menyambut dan memberikan dukungan ketika Ndan Arif melintas.

Dukungan tersebut salah satunya datang dari PW GP Ansor Lampung ketika Ndan Arif melintasi wilayah tersebut.

Setibanya di Jakarta, perjalanan Ndan Arif juga mendapat perhatian langsung dari Ketua Umum PP GP Ansor Addin Jauharudin yang menyambut sekaligus melepasnya untuk melanjutkan perjalanan menuju Jombang.

Bukan hanya jajaran Ansor dan Banser, dukungan juga datang dari struktur NU di daerah yang dilalui. Sambutan dari PWNU, PCNU hingga MWC NU membuat perjalanan panjang tersebut terasa tidak dijalani seorang diri.

“Ketika sahabat-sahabat Ansor dan Banser menyambut di jalan, saya merasa seperti mendapat tambahan tenaga. Padahal secara fisik tentu sudah capek,” tutur Ndan Arif.

Setelah menempuh perjalanan selama dua pekan, Ndan Arif akhirnya tiba di kawasan Tambakberas pada Selasa malam, 18 Agustus 2026.

Kedatangannya kemudian berlanjut pada momen yang memiliki arti khusus karena ia berada di lingkungan yang memiliki hubungan erat dengan sejarah berdirinya NU.

Ndan Arif bertemu dengan keluarga besar keturunan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU. Ia disambut Gus Ahmad Silahuddin Asya'ari atau Gus Adi dan Gus Heru bersama kader Banser setempat.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu momen emosional setelah perjalanan panjang dari Sumatera Selatan. Rasa lelah yang sebelumnya dirasakan seolah terbayar ketika Ndan Arif akhirnya dapat berada di Tambakberas dan bertemu keluarga salah satu tokoh penting dalam sejarah NU.

Bagi Ndan Arif, KH Abdul Wahab Chasbullah bukan hanya nama dalam sejarah organisasi. Sosok yang dikenal sebagai salah satu pendiri NU itu dinilainya memiliki jasa besar dalam perjalanan organisasi dan perjuangan bangsa.

“Kalau ditanya tentang Mbah Wahab, saya tidak bisa berkata banyak. Saya sangat terharu bisa sampai di sini dan bertemu keluarga beliau,” ujar Ndan Arif.

Ndan Arif sendiri merupakan kelahiran Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sebelum kemudian menetap di Musi Rawas Utara. Ia tercatat telah tinggal di wilayah tersebut sejak 2012 dan aktif dalam lingkungan Ansor serta Banser.

Perjalanan menuju Jombang dilakukan dengan melewati rute panjang dari Sumatera menuju Jawa.

Berdasarkan laporan sejumlah sumber, perjalanan dimulai pada 5 Agustus 2026 dan berakhir ketika ia tiba di kompleks makam KH Abdul Wahab Chasbullah di Tambakberas pada malam 18 Agustus.

Setibanya di tujuan, perjalanan tersebut tidak langsung berhenti sebagai sebuah cerita perjalanan. Kehadiran Ndan Arif di Tambakberas menjadi bagian dari semangat warga Nahdliyin dari berbagai daerah yang mulai berdatangan menjelang Muktamar ke-35 NU.

Bagi Ndan Arif, Muktamar bukan hanya forum organisasi yang mempertemukan para pengurus NU dari berbagai tingkatan. Ia berharap forum tersebut dapat menghasilkan keputusan yang memberikan manfaat bagi jam'iyah sekaligus menjawab kebutuhan warga NU di tingkat bawah.

Ia juga berharap pelaksanaan Muktamar ke-35 NU berlangsung dengan suasana damai dan penuh persaudaraan. Kepemimpinan yang lahir dari forum tersebut diharapkan mampu menjaga NU tetap dekat dengan jamaah dan struktur organisasi hingga tingkat akar rumput.

“Saya berharap muktamar berjalan damai dan melahirkan pemimpin PBNU yang istiqamah. Pemimpin yang bisa mengayomi jam'iyah sampai ke bawah, sampai ke warga Nahdliyin di akar rumput,” pungkasnya.

Perjalanan 14 hari Ndan Arif dari Sumatera Selatan ke Jombang akhirnya menjadi salah satu cerita menarik menjelang Muktamar ke-35 NU.

Ribuan kilometer yang dilalui dengan sepeda tidak hanya menjadi catatan ketahanan fisik seorang kader senior Banser, tetapi juga memperlihatkan kuatnya dukungan dan solidaritas warga NU di sepanjang perjalanan.