MEMANGGIL.CO - Penurunan cadangan air tanah 40ri tahun sebelumnya menjadi tantangan besar dalam permasalahan air di Kabupaten Bojonegoro. Hal tersebut dilaporkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kabupaten Bojonegoro terkait penurunan air tanah.
Tidak hanya PDAM, Badan Penanggulangan Bendana Daerah (BPBD) juga sempat memprediksi bahwa ada 106 desa yang mungkin akan mengalami kekeringan pada tahun 2025. Melihat tantang tersebut, wilayah Bojonegoro memiliki potensi besar dalam pemanfaatan sumber air.
Tapi tidak perlu dikuatirkan wilayah Bojonegoro memiliki 433 embung dan 45 waduh yang tersebar di seluruh wilayah Bojonegoro. Sehingga pasokan air diperkirakan masih tercukupi.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakilnya Nurul Azizah, meluncurkan program unggulan terkait masalah air yaitu dengan pemetaan dan penyaluran sumber air dalam tanah dan air permukaan.
Kita akan terus mencari sumber-sumber air lain dan mencoba untuk melakukan pengeboran. Ini adalah langkah nyata, karena Bojonegoro yang sejahtera dimulai dari kebutuhan dasar, seperti ketersediaan air, jelas Wahono yang ditulia pada 23/2/2025.
Wahono dan Nurul selalu orang tua masyarakat kabupaten Bojonegoro tersebut, berkomunikasi dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (Ditjen SDA Kemen PU) mengenai percepatan penuntasan air.
Berdasarkan kajian yang telah dibahasa tersebut keduanya bersama Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam mengatasi masalah air perlu ada penggunaam deteksi air geo magnetotelurik yang mampu mendeteksi air bahwa tanah yang nantinya akan disalurkan kepada masyarakat.

Disamping itu, dengan dukungan dari Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) TNI Angkatan Darat, pemerintah Bojonegoro berhasil menemukan titik sumber mata air baru yang ada di dalam tanah dan sudah dialirkan ke masyarakat.
Kita telah menemukan 6 sumber air potensial di beberapa titik di Bojonegoro, diantaranya di Desa Banjaran di Kecamatan Baureno, Desa Ngantru di Kecamatan Ngasem, dan Desa Bakalan di Kecamatan Tambakrejo, lanjut Wahono.
Menurutnya, pemerintah Bojonegoro juga berkolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo serta Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk berupaya memaksimalkan air untuk kebutuhan masyarakat.
"Diharapkan, berbagai inisiatif ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi ketersediaan air di Kabupaten Bojonegoro, baik dalam mendukung kebutuhan domestik, pertanian, maupun industri lokal, harapnya.
Adapun lokasi yang menjadi prioritas dalam inisiatif ini meliputi Bengawan Solo, Sendang Jonoporo, Sendang Krondonan, serta Waduk Gongseng. Pemerintah Bojonegoro dengan masalah air akan terus berkomitmen untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber mata air untuk kesejahteraan masyarakatnya.