Blora, MEMANGGIL.CO - Jalan hidup Arief Rohman tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari lingkungan religius, menjalani tempaan hidup sebagai santri, hingga akhirnya dipercaya masyarakat memimpin Kabupaten Blora sebagai bupati.
Latar belakang tersebut membentuk karakter kepemimpinannya yang sederhana, membumi, serta menjadikan amanah sebagai pijakan utama dalam menjalankan roda pemerintahan.
Bagi Arief Rohman, jabatan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan nilai-nilai moral yang ia pegang teguh.
“Bagi saya, jabatan bupati adalah amanah. Amanah itu harus dijalankan dengan kerja nyata, kejujuran, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat,” ujarnya, ditulis Minggu (11/1/2026).
Tempaan Nilai Pesantren
Pengalaman sebagai santri menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidup Arief Rohman. Lingkungan pesantren menanamkan nilai disiplin, kesederhanaan, kemandirian, serta keikhlasan dalam mengabdi.
Nilai-nilai tersebut tidak ia tinggalkan ketika memasuki dunia organisasi, politik, hingga pemerintahan.
Dari pesantren, Arief Rohman belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang dilayani, melainkan melayani. Prinsip inilah yang terus ia pegang hingga kini, saat memimpin daerah dengan wilayah yang luas, potensi besar, sekaligus tantangan sosial yang kompleks seperti Kabupaten Blora.
Lahir dan besar di Blora, Arief Rohman memahami betul karakter masyarakatnya, masyarakat agraris yang menjunjung tinggi gotong royong, kerja keras, dan kejujuran. Pemahaman tersebut membentuk pendekatan kepemimpinan yang membumi dan dekat dengan rakyat.
Proses Panjang Menuju Pengabdian
Perjalanan Arief Rohman menuju kursi Bupati Blora tidak datang secara tiba-tiba. Ia menempuh proses panjang melalui berbagai pengalaman organisasi dan pengabdian masyarakat. Dari proses itulah tumbuh keyakinan bahwa pemimpin tidak boleh berjarak dengan rakyatnya.
“Pemerintah tidak boleh hanya hadir di balik meja. Kami harus turun ke lapangan, mendengar langsung keluhan warga, dan memastikan solusi benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Kebiasaan turun langsung ke desa-desa, berdialog dengan petani, pelaku UMKM, tokoh agama, dan generasi muda menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya kepemimpinannya.
Ia meyakini, kebijakan yang baik lahir dari pemahaman langsung atas persoalan di lapangan, bukan semata laporan administratif.
Pembangunan Merata sebagai Ibadah Sosial
Sebagai kepala daerah, Arief Rohman menegaskan komitmennya terhadap pembangunan yang adil dan merata. Ia menolak pola pembangunan yang timpang dan hanya menguntungkan wilayah tertentu.
“Pembangunan di Blora tidak boleh timpang. Desa-desa harus maju bersama, karena kemajuan daerah tidak diukur dari satu wilayah saja, tetapi dari kesejahteraan seluruh masyarakat,” katanya.
Pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan desa, akses pertanian, pendidikan, dan layanan kesehatan terus diperkuat. Namun bagi Arief, pembangunan fisik hanyalah alat. Tujuan utamanya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Investasi terbesar kita adalah sumber daya manusia. Infrastruktur penting, tetapi tanpa SDM yang kuat, pembangunan tidak akan berkelanjutan,” ujarnya.
Prinsip tersebut sejalan dengan nilai yang ia peroleh sejak menjadi santri: membangun manusia berarti membangun masa depan.
Pelayanan Publik dan Reformasi Birokrasi
Dalam tata kelola pemerintahan, Arief Rohman mendorong perubahan cara pandang birokrasi. Aparatur sipil negara (ASN) tidak lagi sekadar pelaksana administrasi, tetapi pelayan publik yang harus peka terhadap kebutuhan masyarakat.
“Pelayanan publik harus cepat, mudah, dan manusiawi. Masyarakat datang ke pemerintah untuk dilayani, bukan dipersulit,” katanya.
Ia secara konsisten menanamkan nilai integritas dan profesionalisme kepada ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora.
“Saya selalu mendorong ASN di Blora untuk bekerja profesional dan responsif. Birokrasi harus menjadi penggerak pembangunan, bukan penghambat,” tegasnya.
Pemanfaatan teknologi dan digitalisasi layanan publik terus didorong sebagai upaya menghadirkan pemerintahan yang transparan, efisien, dan akuntabel.
Kolaborasi sebagai Kunci Perubahan
Berangkat dari pengalaman pesantren yang menanamkan nilai kebersamaan, Arief Rohman meyakini bahwa pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci percepatan pembangunan.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan desa, dunia usaha, perguruan tinggi, tokoh masyarakat, dan generasi muda adalah kunci pembangunan Blora,” ungkapnya.
Ia mendorong lahirnya inovasi daerah hingga ke tingkat desa, agar potensi lokal dapat berkembang dan memberi dampak nyata bagi perekonomian masyarakat.
Menjaga Jati Diri di Tengah Perubahan
Di tengah arus modernisasi, Arief Rohman tetap menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai lokal dan religius sebagai fondasi pembangunan.
“Blora harus maju tanpa kehilangan jati diri. Nilai gotong royong dan kearifan lokal harus tetap menjadi fondasi pembangunan,” ujarnya.
Baginya, kemajuan daerah tidak boleh mengikis karakter masyarakat yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Harapan Seorang Santri untuk Blora
Menutup refleksinya, Arief Rohman menyampaikan harapan yang sederhana namun sarat makna, harapan seorang santri yang kini mengemban amanah sebagai bupati.
“Harapan saya sederhana: masyarakat Blora bisa hidup lebih sejahtera, mendapatkan pelayanan yang layak, dan benar-benar merasakan kehadiran pemerintah dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dari pesantren hingga pendapa kabupaten, Arief Rohman terus menapaki jalan pengabdian dengan prinsip yang sama: bekerja jujur, merangkul semua pihak, dan menghadirkan pemerintahan yang benar-benar berpihak pada rakyat Blora.