Blora, MEMANGGIL.CO - Suasana siang di Dukuh Betekan, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, terasa berbeda. Rintik hujan sempat membasahi tanah desa, namun tak menyurutkan langkah ratusan jamaah yang hadir dalam Pengajian Umum Rutinan Majelis Dzikir Wa Ta’lim Ritibul Haddad.
Di tengah kebersamaan itu, Bupati Blora, H. Arief Rohman hadir dan menyatu tanpa sekat bersama masyarakat. Kehangatan suasana semakin terasa ketika seorang ibu-ibu jamaah spontan menyapa dengan logat khas pedesaan, “Pak Bupati minta foto angsal?”
Alih-alih menjaga jarak atau bersikap formal, Bupati yang akrab disapa Gus Arief ini justru merespons dengan santai dan penuh keakraban.
“Sini-sini, mana HP-nya, selfie saja,” ucapnya sambil tersenyum, ditulis Senin (12/1/2026).
Kalimat sederhana itu langsung mencairkan suasana dan mengundang tawa jamaah yang hadir.
Momen kecil tersebut menjadi potret kepemimpinan yang membumi. Seorang bupati yang hadir bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari warga yang ikut larut dalam kebersamaan.
Pengajian yang digelar bersama Kyai Nur Hadi dan KH. Nurul Burhan itu tetap berlangsung khidmat meski cuaca kurang bersahabat.
Sekitar 1.000 jamaah setia mengikuti rangkaian acara hingga usai. Doa dan lantunan dzikir mengalir seiring hujan yang turun perlahan, menambah kekhusyukan suasana.
Turut hadir Kepala Desa Ngraho, Sri Lestari Indayani, yang mendampingi jalannya kegiatan. Kehadiran pemerintah daerah dan pemerintah desa dalam forum keagamaan ini mencerminkan sinergi yang erat antara pemimpin dan masyarakat di akar rumput.
Bagi Gus Arief, kegiatan seperti ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang silaturahmi dan penguatan batin bersama warga.
“Alhamdulillah, siang ini penuh berkah. Bisa hadir, bersilaturahmi, dan berdoa bersama masyarakat,” ungkapnya.
Kehangatan acara tak berhenti di pengajian. Seusai kegiatan, Gus Arief mendapat kejutan sederhana namun berkesan. Seorang penjual jajanan memberikan sempolan yang dibungkus daun jati, lengkap dengan gambar foto dirinya pada bungkus tersebut.
“Penjualnya kreatif,” ujar Gus Arief sambil tersenyum.
“Terima kasih, semoga dagangannya laris,” tambahnya, disambut doa dan tawa para jamaah.
Momen kecil itu menjadi gambaran kedekatan pemimpin dengan denyut ekonomi rakyat kecil tanpa protokoler, tanpa jarak, dan tanpa sekat.
Kehadiran Gus Arief di tengah pengajian warga Kedungtuban mencerminkan prinsip kepemimpinannya: nyawiji, menyatu dengan rakyat. Ia tidak hanya hadir dalam forum resmi atau seremoni pemerintahan, tetapi juga di ruang-ruang sosial dan spiritual masyarakat.
Melalui kebersamaan seperti inilah, nilai gotong royong, religiusitas, dan kekeluargaan terus dijaga sebagai fondasi pembangunan Blora.
Dengan semangat “Nyawiji mBangun Blora Akur Makmur Misuwur” serta “Sesarengan mBangun Blora Maju dan Berkelanjutan,” Gus Arief menegaskan bahwa membangun daerah tidak semata soal infrastruktur dan angka, tetapi juga soal hati, kebersamaan, dan keberkahan.