Jakarta, MEMANGGIL.CO – Aktor senior Roy Marten memberikan pandangannya mengenai esensi restu orangtua dalam sebuah pernikahan. Menurutnya, meskipun sebuah pernikahan bisa dianggap sah secara hukum negara, ada nilai moral dan budaya yang terasa hilang jika tanpa restu orangtua.
Ayah dari Gading Marten ini menjelaskan bahwa dari sisi hukum sipil, pasangan yang sudah cukup umur memiliki hak untuk melangsungkan pernikahan tanpa kehadiran orangtua.
"Selama dia sudah masuk umur, kalau menurut saya, misal orangtua enggak datang, secara hukum sah ya sah," ujar Roy Marten saat ditemui di Studio Brownis, Jakarta Selatan, dikutip dari pemberitahuan media, Sabtu (17/1/2026).
Budaya Asia dan Nilai Kesakralan
Meski mengakui keabsahan hukumnya, Roy menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar urusan administrasi negara.
Ia menyoroti perbedaan budaya antara masyarakat Timur dan Barat dalam memandang peran keluarga.
Sebagai orang Asia, Roy menilai restu orangtua adalah elemen yang menyempurnakan kesakralan sebuah ikatan.
"Cuma ya kurang afdal. Sebaiknya pernikahan itu disetujui oleh kedua belah pihak orangtua," tuturnya.
"Karena kita orang Asia. Kalau orang Barat mungkin berbeda. Jadi sekali lagi, secara hukum sah? Saya kira sah. Tapi kurang afdal."
Dilema "Dimabuk Asmara"
Roy tidak menampik bahwa tantangan zaman sekarang membuat banyak anak muda sering kali mengabaikan pendapat orangtua ketika sudah merasa cocok dengan pasangannya.
Ia memahami bahwa logika sering kali kalah saat seseorang sedang jatuh cinta.
"Kalau saya pribadi sangat mengharapkan restu orangtua. Tapi kalau anak muda kalau sudah jatuh cinta kan tidak peduli sama orangtua katanya. Jadi enggak bisa sepihak," ucap aktor kawakan tersebut.
Hubungan Keluarga Sebagai Prioritas
Bagi Roy Marten, keterlibatan orangtua dalam pernikahan adalah bentuk penghormatan sekaligus pondasi sosial bagi pasangan baru.
Pesan ini seolah menjadi pengingat di tengah tren pernikahan anak muda yang semakin dinamis.
Sebelumnya, Roy juga sempat mengungkapkan bahwa momen berkumpul bersama keluarga besar adalah sebuah "kemewahan" di tengah kesibukan masing-masing anggota keluarganya.
Pernyataan Roy ini kemudian memicu beragam diskusi di media sosial mengenai batas antara hak privasi anak dalam memilih pasangan dan batasan restu orangtua dalam adat ketimuran.