Rembang, MEMANGGIL.CO - Program Desa Tangguh Bencana (Destana) kian menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat desa di Kabupaten Rembang. Tak sekadar program formal, Destana terbukti mampu menumbuhkan kesadaran, kesiapsiagaan, hingga kemampuan warga dalam menangani bencana secara mandiri sejak dini.
Warga desa yang tergabung dalam Destana kini semakin sigap mengenali potensi bencana di lingkungannya. Mulai dari langkah mitigasi awal, respons cepat saat kejadian, hingga kerja bakti pascabencana, semuanya dilakukan tanpa harus menunggu instruksi dari luar.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, mengatakan desa-desa Destana menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Menurutnya, kesadaran risiko bencana di tingkat masyarakat terus meningkat seiring berjalannya program tersebut.
“Alhamdulillah, desa yang sudah Destana itu mampu bergerak mandiri. Warga langsung kerja bakti dan melakukan penanganan awal sebelum melapor ke kami. Ini bukti kapasitas dan kepedulian masyarakat semakin kuat,” ujar Sri Jarwati saat dihubungi, Senin (19/1/2026).
Program Destana di Rembang sendiri mulai digulirkan pada 2018, dengan Desa Bendo, Kecamatan Sluke, sebagai pionir. Dua tahun berselang, BPBD Provinsi Jawa Tengah memperluas cakupan dengan membentuk Destana di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Bulu.
Perkembangan signifikan terjadi pada 2022. Sebanyak 12 desa ditetapkan sebagai Destana, tersebar di sejumlah kecamatan seperti Gunem, Sale, Pancur, Sluke, Sedan, Sumber, hingga Kaliori.
Pembentukan terus berlanjut pada 2023. Dua desa, Criwik dan Banyuurip di Kecamatan Pancur, dibentuk langsung oleh BPBD Kabupaten Rembang. Sementara 10 desa lainnya merupakan hasil kolaborasi BPBD kabupaten dan provinsi di wilayah Kaliori, Pancur, dan Sluke.
Pada 2024, dua desa kembali ditetapkan sebagai Destana, yakni Desa Dadapan di Kecamatan Sedan dan Desa Sale di Kecamatan Sale. Sedangkan pada 2025, BPBD menetapkan Desa Leran (Sluke) dan Desa Sendangmulyo (Lasem) sebagai Destana baru.
Menariknya, Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, ditetapkan sebagai Destana Mandiri. Pembentukan dilakukan langsung oleh pemerintah desa setempat tanpa menunggu fasilitasi BPBD.
Sri Jarwati yang akrab disapa Anjar menegaskan, percepatan pembentukan Destana menjadi prioritas daerah. Hal ini sejalan dengan target 100 Destana yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Rembang.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) 2025, tercatat 130 desa dari total 199 desa di Rembang masuk kategori rawan bencana dan direkomendasikan membentuk Destana secara mandiri.
“Harapannya, makin banyak desa tangguh, makin kecil pula dampak bencana. Kuncinya ada pada kolaborasi pemerintah desa, relawan, dan masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan dari tingkat lokal,” pungkas Anjar.