Surabaya, MEMANGGIL.CO - Penyanyi Ashanti Hastuti menjalani ujian doktor terbuka Program Studi Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rabu (13/05/2026).
Dalam sidang terbuka tersebut, istri musisi Anang Hermansyah itu mempertahankan disertasi berjudul Respon Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia.
Diakui Ashanty, selama perjalanan menyelesaikan pendidikan doktor bukanlah hal mudah. Di tengah aktivitasnya sebagai penyanyi, istri, ibu, hingga nenek, ia harus menghadapi proses akademik panjang dan penuh revisi.
“Alhamdulillah setelah melewati perjuangan panjang berkat promotor saya yang luar biasa ini. Kalau bukan karena Pak Suko mungkin aku enggak selesai dari sini. Selalu memotivasi, selalu memberikan energi positif bahwa tidak boleh menyerah, harus berjuang sampai titik akhir,” papar Ashanty.
Ashanty mengenang bagaimana dirinya sempat beberapa kali merasa ingin menyerah sejak awal perkuliahan karena judul disertasinya berulang kali ditolak.
“Ditolak judul empat kali. Judul pertama ditolak, kedua, ketiga, bahkan saya sudah publikasi juga, tapi ditolak lagi. Jadi judul keempat baru diterima,” katanya.
Menurut Ashanty, proses pendidikan doktor memberi tantangan besar karena ia tetap harus menjalankan berbagai tanggung jawab di dunia hiburan dan keluarga.
“Aku sangat bangga buat orang-orang yang masih mau belajar di umur yang mungkin sudah tidak muda lagi. Selain itu, kesibukan sebagai istri, ibu, nenek, kerjaan banyak, ikut lomba dan banyak hal, tapi tetap berusaha bagaimana harus selesai dengan baik,” ungkap Ashanty..
Ashanty berharap hasil penelitiannya dapat memberi kontribusi nyata bagi industri musik Indonesia, khususnya terkait kemampuan musisi lintas generasi beradaptasi di era digital.
“Semoga bisa berguna buat industri musik Indonesia. Walaupun terlihat hanya perbandingan antara baby boomers dan Gen X dalam beradaptasi di digital, tapi yang dibahas dan dibedah banyak sekali,” terangnya.
Sementara, Promotor Ashanty, Dr Suko Widodo, menegaskan tidak ada perlakuan khusus selama proses akademik berlangsung meski Ashanty merupakan figur publik dan seorang penyanyi.
“Saya kira tidak ada kompromi. Mau artis, mau anak presiden, apa pun dalam pengetahuan saya sama haknya. Ashanty telah memenuhi kedisiplinan sebagai seorang akademisi dan konsisten,” terang Suko.
Suko mengatakan, penelitian Ashanty menarik karena mengangkat sisi yang jarang dibahas dalam industri musik Indonesia, yakni perjuangan penyanyi senior menghadapi perubahan digital.
“Bayangkan siapa yang memikirkan seorang Rafika Duri, seorang Rhoma Irama harus berhadapan dengan anak-anak muda dalam dunia digital. Kelihatannya simpel, tapi coba baca dulu disertasinya 300 halaman,” ucap dia.
Menurut Suko, kekuatan penelitian Ashanty terletak pada pendekatan storytelling dan dokumentasi pengalaman para musisi senior yang selama ini jarang tercatat dalam kajian akademik.
“Hal paling penting bagi Ashanty adalah autentifikasi dari orang-orang yang memang layak diapresiasi. Di Indonesia, histori akademis pribadi seperti itu relatif belum ada dan dia lakukan itu,” ungkap Suko.
Sementara itu, Anang Hermansyah yang hadir langsung dalam ujian doktor Ashanty mengaku bangga melihat perjalanan akademik istrinya hingga berhasil meraih gelar doktor.
“Enggak ada dalam bayangan dia bahwa dia harus ada di podium tadi, bahwa dia sekarang ada di akademi dan selesai dengan baik. Karena waktu ketemu aku, pacaran dengan aku, dia sudah S1 selesai dan bilang enggak akan ngurusin lagi,” ujar Anang.
Menurut Anang, capaian hingga jenjang doktor merupakan sesuatu yang di luar ekspektasi Ashanty.
“Ternyata bisa sampai S3 itu hal yang di luar ekspektasi dia. Buat aku selamat. Mudah-mudahan nanti keilmuan dia bisa diaplikasikan kepada masyarakat, terutama di industri musik Indonesia yang memang membutuhkan masukan-masukan untuk seni musik Indonesia berkompetisi di era hari ini,” terang Anang.
Anang juga menilai pengalaman Ashanty sebagai penyanyi, influencer, dan YouTuber membuat penelitian tersebut relevan dengan kondisi industri saat ini.
“Ashanty dalam posisi industri cukup menarik. Dia bernyanyi, punya kegiatan lain, influencer, YouTuber. Strategis dia untuk bisa menyelesaikan perjalanan akademis yang bagus untuk menyebarkan bagaimana dia ada di industri dan bertahan di umur yang seperti ini,” jelas Anang bangga.