Tuban, MEMANGGIL.CO - Sebuah video yang beredar luas di media sosial TikTok membuat sebagian warga Tuban dan Bojonegoro resah. Video tersebut memuat narasi bertuliskan "Bojonegoro - Tuban Waspada Gempa Besar" dan menyebut adanya potensi gempa bumi dahsyat yang akan mengguncang dua wilayah tersebut.

Dalam video itu, pengunggah menggunakan berbagai istilah ilmiah seperti emisi gas radon, anomali gravitasi, data GPS, InSAR, hingga badai matahari untuk meyakinkan publik bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Lantas, benarkah informasi tersebut? 

Video TikTok menyebut Tuban dan Bojonegoro akan dilanda gempa besar. Narasi yang dibangun seolah-olah berdasarkan kajian ilmiah dan hasil pemantauan aktivitas geologi terbaru.

Hasil Penelusuran

Berdasarkan penelusuran yang dipublikasikan melalui situs Klinik Hoaks Tuban, informasi tersebut dipastikan tidak benar alias hoaks.

Penegasan itu disampaikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban. Hingga saat ini, tidak ada peringatan resmi terkait potensi gempa besar di wilayah Tuban maupun Bojonegoro.

Prakirawan BMKG Tuban, Nur Syamsi Muhammad Alfian, mengaku pihaknya juga menerima banyak pertanyaan dari masyarakat terkait video viral tersebut.

"Kami juga sempat melihat unggahan itu," ujarnya, ditulis Selasa (16/6/2026). 

"Informasi itu ikut ditanyakan BPBD kepada kami," imbuhnya.

Menurut Alfian, salah satu ciri informasi yang patut dicurigai adalah tidak adanya sumber resmi yang jelas.

"Banyak informasi yang tidak mencantumkan sumber," katanya.

"Terkesan seperti menakut-nakuti," lanjutnya.

Fakta Ilmiah

BMKG menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi secara akurat kapan, di mana, dan seberapa besar gempa bumi akan terjadi sebelum peristiwa tersebut berlangsung.

Sate Pak Rizki

Dengan kata lain, setiap klaim yang menyebut tanggal pasti, lokasi spesifik, maupun kekuatan gempa yang akan datang tidak memiliki dasar ilmiah.

"Belum ada metode ilmiah yang bisa memprediksi gempa secara tepat," tegas BMKG.

Video viral tersebut juga mencantumkan istilah-istilah seperti gas radon, InSAR, GPS, dan anomali gravitasi. Meski istilah itu memang dikenal dalam dunia penelitian, penggunaannya dalam video tersebut dinilai tidak disertai data resmi maupun kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, klaim adanya pergeseran sesar aktif beberapa sentimeter dalam waktu singkat hingga kondisi tanah yang disebut berubah seperti "spons yang diperas" dipastikan tidak sesuai dengan kondisi geologi normal di wilayah Tuban dan Bojonegoro.

Narasi lain yang mengaitkan badai matahari dengan potensi gempa bumi juga dibantah.

BMKG juga menjelaskan bahwa badai matahari dapat memengaruhi sistem komunikasi satelit, GPS, maupun jaringan listrik. Namun, belum pernah terbukti secara ilmiah menjadi pemicu gempa tektonik besar di suatu wilayah tertentu.

Tak hanya itu, istilah "siku-siku Jupiter" yang disebut dalam video viral juga bukan bagian dari terminologi dalam ilmu astronomi maupun seismologi modern.

Kesimpulan

Klaim bahwa Tuban dan Bojonegoro akan mengalami gempa besar sebagaimana disebut dalam video TikTok adalah HOAKS.

Tidak ada peringatan resmi dari BMKG terkait prediksi gempa besar di dua wilayah tersebut. Hingga saat ini, ilmu pengetahuan juga belum mampu memprediksi waktu pasti terjadinya gempa bumi.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terlebih yang berpotensi memicu kepanikan.

Jika menemukan informasi serupa, warga dapat melakukan pengecekan melalui kanal resmi BMKG, BPBD, maupun layanan Klinik Hoaks Tuban.

Di era banjir informasi seperti sekarang, kewaspadaan terhadap bencana memang penting. Namun, kewaspadaan itu harus dibangun di atas data dan sumber resmi, bukan rasa takut yang lahir dari narasi tanpa dasar ilmiah.