Bontang, MEMANGGIL.CO - Gas subsidi: LPG 3 kilogram sulit diperoleh warga. Hampir di seluruh pengecer termasuk pangkalan di Bontang, stok gas tabung melon tersebut kosong. Kondisi ini pun membuat kepanikan tersendiri bagi masyarakat.
Apalagi, mereka yang hingga saat ini belum terlayani jaringan gas (Jargas). Beberapa masyarakat mengaku, baru bisa mendapatkan gas ketika memiliki keakraban atau hubungan dengan pedagang.
Salah seorang warga, Andi Irmawan (37), mengungkapkan, ketersediaan LPG 3 kg tidak selalu stabil. Saat kondisi normal, gas masih bisa ditemukan di warung atau toko pengecer. Namun, ketika pasokan terganggu, situasinya berubah drastis.
“Kalau pasokan terganggu, kita harus kenal atau jadi langganan dengan pengecer baru bisa dapat. Biasanya harus telepon dulu. Pesan kalau gas datang baru disimpankan. Kalau tidak pesan, ya tidak kebagian,” kata Andi, Rabu, 10 Juni 2026.
Hal serupa juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Ningsih (47), seorang pedagang bakso gerobak mengaku, dalam sebulan terakhir ini ia kesulitan mendapatkan gas subsidi itu. Untuk mengakali itu, terpaksa dirinya harus menyiapkan stok lebih banyak dari biasanya.
“Seminggu ini memang susah dapat tabung. Makanya saya siapkan tiga tabung untuk stok. Itu pun harus pesan dulu sama toko langganan. Karena kalau datang ke tokonya langsung, tidak akan kedapatan. Pasti cepat habis,” jelasnya.
Menurut Ningsih, ketersediaan LPG 3 kg sangat berpengaruh terhadap kelangsungan usahanya. Bahkan, dirinya pernah tidak berjualan karena kehabisan gas. Paling sering kondisi ini dialaminya saat momen libur hari raya keagamaan.
“Kalau tidak nyetok, kami bisa libur jualan. Pernah waktu libur hari raya, kami kehabisan stok, jadi tidak bisa jualan. Kalaupun saya dapat gas, harganya sudah naik gak karu-karuan. Bahkan pernah dapat Rp 50 ribu satu tabung,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memperbaiki pola penyaluran LPG 3 kg di Bontang. Tujuannya agar lebih merata dan tepat sasaran. Dengan demikian, masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro dapat lebih mudah mendapatkan gas bersubsidi tersebut.
“Harapannya, pola penyaluran diperbaiki, supaya masyarakat kecil seperti kami bisa lebih mudah dapat gas subsidi,” tutup Ningsih.
Media ini pun mendatangi beberapa pangkalan dan pengecer gas di Kota Taman. Dari pantauan itu, semua yang didatangi saat ini tidak memiliki stok gas subsidi itu. Alias kosong. Ada sekitar lima pangkalan dan pengecer yang saat itu didatangi.
Misalnya saja di pangkalan milik Ahmad Rifai di Jalan KS Tubun. Dirinya mengaku mendapat distribusi gas dalam satu minggu hanya tiga kali. Yakni setiap Selasa, Kamis dan Sabtu. Jumlahnya juga tidak menentu.
“Saya sih tidak pernah datang tiap hari. Kalau pun datang hanya 50 tabung. Setengahnya langsung dibawa oleh pengecer. Apesnya kalau hari libur, tidak ada distribusi tabung gas yang datang,” bebernya.
Karena jumlahnya hanya sedikit, ketika gas subsidi itu datang, pasti langsung habis diambil orang: pengecer atau masyarakat langsung. “Jarang bisa bertahan lama gas di sini. Datang pasti langsung habis. Sekarang saja lagi kosong,” bebernya.
Kondisi kelangkaan LPG tiga kilogram jadi pertanyaan tersendiri bagi Pertamina Patra Niaga. Sebab, selama ini distribusi ke daerah selalu lancar. Tidak ada hambatan. Pun kuota yang diberikan tetap sama.
Sales Branch Manager Kaltimut VII Gas, M. Angga Dexora mengatakan, sejauh ini pasokan tidak pernah ada masalah. Distribusi juga tidak pernah ada hambatan. Namun, ia mengaku, selama ini kerap terjadi hambatan informasi dan distribusi di tatanan akhir.
Tetapi, berdasarkan informasi kelangkaan ini, timnya akan melakukan survei ke lapangan. Mereka akan mendatangi sejumlah titik di kelurahan yang menjadi pusat keluhan warga. Bahkan, saat ini semua titik itu masuk dalam radar pemantauannya.
“Kami sudah mengantongi lokasi kelurahan yang dilaporkan warga. Dalam waktu dekat, tim kami akan langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” kata Angga.
Walau, Angga kembali memastikan, dari Pertamina Patra Niaga hingga ke agen, sirkulasi pengiriman gas melon ini berjalan tanpa hambatan. Distribusi ke wilayah Bontang diklaim tetap mengalir sesuai kuota dan kebutuhan normal masyarakat.
“Dari sisi Pertamina, kami pastikan tidak ada kendala. Penyaluran tetap berjalan sesuai kebutuhan, jadi secara umum kondisinya aman. Kalau kuotanya, saya lupa secara pasti untuk di Bontang berapa,” jelasnya.
Meski pasokan dari pusat aman, Pertamina mengendus adanya celah ketidaksesuaian di rantai paling bawah, yakni dari agen, pangkalan, hingga ke tangan pengecer atau warung-warung kecil.
Sistem distribusi berjenjang ini diakui memiliki ritme yang berbeda-beda. Pengiriman dari agen ke pangkalan tidak serentak. Melainkan menyesuaikan kebutuhan dan permintaan wilayah masing-masing.
“Ada pangkalan yang menerima pasokan setiap hari. Ada juga yang seminggu lima kali, empat kali, atau bahkan tiga kali. Fleksibilitas ini yang perlu kami verifikasi ulang di lapangan,” ucapnya.
Menurutnya, persoalan menjadi rumit ketika gas bersubsidi ini sudah keluar dari pangkalan resmi dan masuk ke ranah pengecer. Di tingkat inilah harga kerap melambung tinggi dan stok tiba-tiba menjadi langka bagi warga miskin serta pelaku usaha mikro yang berhak.
Untuk wilayah Bontang, pasokan gas berasal dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur. Berdasarkan aturan resmi, harga di pangkalan tidak boleh melampaui batas yang ditetapkan pemerintah.
“Untuk radius hingga 60 kilometer dari SPBE, Harga Eceran Tertinggi (HET) adalah Rp 21 ribu, sesuai dengan SK Gubernur Kaltim. Nah, dalam SK itu tidak mengatur HET di luar 60 kilometer itu. Ini celah terbesar sebenarnya,” tegas Angga.
Bahkan, regulasi itu juga belum menyentuh tingkat pengecer atau toko kelontong. Celah hukum inilah yang kerap dimanfaatkan oknum untuk memainkan harga dan menimbun stok. Tetapi, ia meminta agar tidak ada oknum yang melanggar aturan.
“Kami tidak akan segan memberikan sanksi tegas secara bertahap. Mulai dari Surat Peringatan (SP) satu, dua, tiga, hingga tindakan paling keras berupa pemutusan hubungan usaha (PHU),” tegas Angga. (*)