Surabaya, MEMANGGIL.CO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur optimistis pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2026 tetap solid di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Angka tersebut melambung jauh di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan melemah dari 3,4 persen menjadi hanya 3 persen akibat eskalasi ketegangan geopolitik global.
Kepala KPwBI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, memaparkan, ketidakpastian global yang dipicu oleh sentimen geopolitik, seperti dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran, serta tingginya inflasi global memicu perubahan drastis pada portofolio investasi jangka pendek di tingkat internasional.
Kendati demikian, Jawa Timur dan Indonesia dinilai memiliki benteng domestik yang kokoh.
"Kunci kesiapan dan ketahanan ekonomi kita terletak pada konfigurasi struktur ekonomi yang ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Indonesia, khususnya Jawa Timur, memiliki kedua keunggulan ini," kata mantan Kepala Perwakilan BI Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pemaparannya pada acara Media Breifing Triwulan II 2026 di Kantor OJK Jatim, Senin, 22 Juni 2026.
Struktur PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jawa Timur saat ini didominasi oleh konsumsi masyarakat yang mencapai porsi 61 persen, disusul oleh sektor investasi sebesar 26 persen.
Fondasi ekonomi berbasis domestik ini dinilai membuat Jawa Timur jauh lebih resilien dan memiliki daya tahan tinggi dari guncangan eksternal jika dibandingkan dengan negara yang bergantung penuh pada sektor perdagangan internasional seperti Singapura.
Optimisme BI Jatim didukung oleh indikator makroekonomi yang bergerak positif. Pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan I - 2026 tercatat impresif di angka 5,61 persen, sementara ekonomi di koridor Pulau Jawa tumbuh lebih tinggi mencapai 5,79 persen.
Di sisi lain, stabilitas harga juga berhasil dijaga. Inflasi nasional per Mei 2026 tercatat berada di level 3 persen. Ibrahim memastikan inflasi Jawa Timur sepanjang tahun 2026 akan tetap aman berada di dalam rentang target sasaran 2,5 ±1%.
"Kami terus memperkuat koordinasi lintas sektor melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama pemerintah daerah untuk menjaga daya beli masyarakat. Hasil survei bulanan, termasuk aktivitas transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) baik dari sisi merchant maupun pengguna, mengonfirmasi aktivitas konsumsi yang terus meningkat," ungkap Ibrahim.
Selain pasar domestik yang kuat, performa ekspor Jawa Timur dilaporkan justru menunjukkan tren peningkatan di tengah ketidakpastian global.
BI Jatim secara aktif turun ke lapangan guna menjaring aspirasi langsung dari para pelaku usaha.
"Kami berkomunikasi langsung dengan pelaku dunia usaha untuk menjadi 'mata dan telinga' pusat, menangkap apa yang menjadi concern mereka saat ini. Hasilnya, ekspor kita justru naik," imbuh Ibrahim.
Sebagai bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong efisiensi perdagangan ekspor-impor, BI terus memperluas implementasi Local Currency Settlement (LCS).
Menurutnya, kebijakan ini memotong jalur konversi mata uang ganda seperti dari Yen Jepang ke Dolar AS baru ke Rupiah menjadi penyelesaian langsung menggunakan mata uang lokal masing-masing negara.
"Melalui LCS, transaksi dagang internasional menjadi jauh lebih mudah dan murah. Ini esensi kebijakan kami untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan," urainya.
Sementara itu, Ibrahim juga menekankan pentingnya menjaga iklim investasi agar pertumbuhan ekonomi tinggi di Jawa Timur bersifat inklusif.
Tak hanya itu, BI Jatim juga tengah bersiap memberikan perhatian khusus pada sektor perkebunan dan pertanian yang diproyeksikan akan menjadi salah satu pendorong utama ekonomi daerah pada bulan depan melalui momentum panen dan penguatan rantai pasok.