Surabaya, MEMANGGIL.CO – Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development (RICD) Universitas Airlangga (Unair), Prof. Muhammad Miftahussur membagikan pengalaman implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) dalam membangun dampak global.
Prof. Miftah menyebut perguruan tinggi berperan sebagai katalis transformasi berkelanjutan melalui tiga fungsi yakni edukasi, inovasi dan riset, serta pengabdian masyarakat.
"Perguruan tinggi memiliki peran strategis yang memungkinkan kita untuk menghadapi tantangan global melalui tiga fungsi yang saling terhubung," ujar Prof. Miftah dalam paparan yang disampaikan di Global Sustainable Development Congress (GSDC).
Unair mengintegrasikan SDGs ke kurikulum pendidikan dan pembelajaran berbasis komunitas. Setiap mahasiswa baru mengikuti orientasi SDGs lewat PKKMB.
Program AMORA mendorong kepemimpinan SDGs bagi mahasiswa aktif, sementara UNAIR SDGs Ambassador mencetak mahasiswa sebagai sustainability advocate dan changemaker.
Melalui program BBK (Belajar Bersama Komunitas), 3.000 mahasiswa diterjunkan dua kali setahun ke seluruh provinsi Jawa Timur untuk memberi solusi nyata atas permasalahan masyarakat.
Strategi ini diperkuat program UNAIR Sustain Action, Mangrove Festival, Floating Hospital atau Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, dan Brantas River Sustainability Initiative.
Secara institusional, SDGs terintegrasi ke rencana strategis UNAIR. SDGs Center mengoordinasi inisiatif berkelanjutan dari fakultas dan unit.
Sustainability Report terpublikasi setiap tahun sebagai bukti fokus pada sustainability campus.
UNAIR juga menguatkan keterlibatan kelompok inklusif dan rentan, kemitraan nasional-global, serta dampak pembangunan berkelanjutan.
"Melalui kemitraan, kami aktif berkontribusi dalam pembuatan kebijakan dan penguatan kapasitas, mendukung 42 institusi publik, dan 353 desa binaan di berbagai daerah," tegas Prof. Miftah.
Menutup paparan, Prof. Miftah menekankan masa depan pembangunan berkelanjutan lahir dari kolaborasi.
"Masa depan pembangunan berkelanjutan tidak akan terbentuk oleh institusi bekerja sendirian. Melainkan oleh institusi yang mampu menghubungkan pengetahuan, inovasi, kemitraan, dan komunitas untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan," pungkasnya.