Jombang, MEMANGGIL.CO - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), identitas perhelatan yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mulai diperkenalkan kepada publik. Salah satunya melalui sebuah lagu resmi berjudul “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” yang hadir dengan nuansa religius dan kental dengan tradisi pesantren.

Lagu tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026. Kehadirannya bukan hanya sebagai musik pengiring, tetapi juga membawa pesan tentang amanah, rasa syukur, kesinambungan tradisi, serta semangat melanjutkan perjuangan para masyayikh dan pendahulu NU.

Secara musikal, lagu ini memiliki karakter yang berbeda dengan penggunaan syair berbahasa Arab. Syair tersebut menggunakan metrum Bahr Wafir, kemudian dikemas melalui aransemen yang memadukan instrumen bercorak Timur Tengah dengan sentuhan musik Nusantara.

Perpaduan itu membuat “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” terasa dekat dengan atmosfer pesantren. Di sisi lain, sentuhan Nusantara membuat karya tersebut tetap memiliki karakter lokal yang kuat dan mudah diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam Indonesia.

Dua Putri Dzurriyah di Balik Lagu Muktamar

Lagu resmi Muktamar NU ke-35 ini dibawakan oleh dua vokalis dari kalangan dzurriyah, yakni Ning Lia Nikmah Wafira atau Ning Vira dan Ning Majdah. Keterlibatan keduanya memberikan dimensi tersendiri karena suara yang mengiringi Muktamar berasal dari lingkungan keluarga pesantren.

Keduanya tidak hanya menjadi pengisi vokal. Kehadiran dua putri dzurriyah tersebut juga dapat dibaca sebagai gambaran kesinambungan tradisi, ketika generasi penerus keluarga pesantren ikut berkontribusi dalam sebuah momentum penting bagi perjalanan Nahdlatul Ulama.

Ning Vira memandang keterlibatannya sebagai amanah sekaligus kehormatan. Lagu tersebut diharapkan dapat menjadi pepiling atau pengingat agar Muktamar melahirkan kepemimpinan yang amanah, visioner, mandiri, dan tetap berpegang pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah.

Pesan yang disampaikan melalui lagu juga tidak berhenti pada persoalan organisasi. Ada harapan agar warga Nahdliyin tetap menjaga agama, merawat tradisi, mencintai bangsa, serta meneruskan perjuangan yang telah diwariskan para masyayikh.

Rekaman Singkat, Pesan yang Panjang

Di balik proses produksinya, lagu tersebut memiliki cerita tersendiri. Pengambilan vokal di studio disebut berlangsung sekitar satu hingga dua jam, meski kedua penyanyi memiliki waktu persiapan materi yang berbeda.

Ning Vira telah mempelajari materi lagu sebelum proses rekaman. Sementara Ning Majdah baru mendalami materi pada hari pelaksanaan rekaman, tetapi proses pengambilan suara tetap berjalan dengan lancar hingga menghasilkan karya yang menjadi lagu resmi Muktamar.

Bagi Ning Majdah, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang membahagiakan sekaligus tidak disangka. Ia memandang kepercayaan mengisi vokal lagu resmi Muktamar sebagai bentuk dedikasi dan rasa syukur sebagai bagian dari dzurriyah pesantren.

Harapan terhadap lagu itu juga berkaitan dengan kelancaran Muktamar. Karya tersebut diharapkan ikut mengiringi seluruh rangkaian kegiatan agar berjalan lancar, penuh hikmah, membawa keberkahan, dan mendapat keridaan Allah SWT.

Makna “Al-‘Audah ilal Ushul”
Judul “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” memiliki pesan yang sangat relevan dengan momentum Muktamar. Secara sederhana, gagasan al-‘audah ilal ushul dapat dimaknai sebagai kembali kepada akar atau dasar.

Pesan tersebut menjadi semakin kuat karena Muktamar NU ke-35 berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Tambakberas bukan hanya menjadi lokasi penyelenggaraan, tetapi juga bagian dari lingkungan pesantren yang lekat dengan tradisi keilmuan dan sejarah panjang pendidikan Islam.

“Kembali kepada akar” tidak berarti NU harus berhenti pada masa lalu. Sebaliknya, akar dapat menjadi pijakan untuk menghadapi perubahan zaman dengan tetap mempertahankan identitas, tradisi, dan nilai yang diwariskan para ulama.

Pesan itu terasa penting ketika Muktamar menjadi ruang untuk membicarakan masa depan organisasi. Perubahan zaman menuntut kemampuan beradaptasi, namun adaptasi tetap membutuhkan fondasi nilai agar arah perjuangan tidak kehilangan pijakan.

Menjadi Identitas Musikal Muktamar

Muktamar NU ke-35 tidak hanya akan diwarnai forum persidangan dan pembahasan organisasi. Berbagai unsur budaya dan kreativitas juga menjadi bagian dari atmosfer menuju perhelatan tersebut, termasuk hadirnya lagu resmi.

“Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” kemudian menjadi salah satu identitas musikal yang membawa nama Muktamar ke tengah masyarakat. Lagu tersebut dapat menjadi medium yang lebih mudah diterima generasi muda untuk mengenal pesan dan suasana Muktamar.

Kehadiran lagu juga memperlihatkan bahwa pesan keagamaan dan tradisi pesantren dapat dikemas melalui karya seni tanpa kehilangan substansinya. Syair Arab, musik Timur Tengah, sentuhan Nusantara, serta vokal dua putri dzurriyah menyatu dalam satu karya.

Pada akhirnya, lagu tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju Muktamar NU ke-35. Dari Tambakberas, sebuah pesan disampaikan melalui musik untuk menjaga amanah, merawat tradisi, menghormati warisan ulama, dan menatap masa depan dengan tetap berpijak pada akar.

Dengarkan Lagu Resmi Muktamar NU ke-35

Masyarakat dan warga Nahdliyin dapat menyimak langsung lagu resmi Muktamar NU ke-35 berjudul “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” melalui YouTube.

▶️ Dengarkan Lagu Resmi Muktamar NU ke-35:

Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul – YouTube

Muktamar ke-35 NU akan menjadi salah satu momentum penting perjalanan organisasi. Dan sebelum forum dimulai, lantunan lagu tersebut telah lebih dulu membawa suasana Tambakberas kepada publik.