Tuban, MEMANGGIL.CO — Kemerdekaan biasanya dirayakan dengan sorak-sorai, panggung hiburan, dan pesta rakyat. Namun, tahun ini Pemerintah Kabupaten Tuban memilih jalan berbeda.

Di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemkab Tuban justru menahan euforia. Pesta Kemerdekaan yang telah dipersiapkan akhirnya dibatalkan.

Pesta kemerdekaan itu rencananya digelar usai penurunan bendera merah putih di Alun-alun Tuban, Senin, (17/8/2016).

Acara itu dibatalkan bukan karena kehilangan makna kemerdekaan. Bukan pula karena semangat kebangsaan surut.

Keputusan itu diambil sebagai bentuk simpati dan solidaritas kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang menghadapi bencana gempa bumi.

Keputusan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban Dr. Ir. Budi Wiyana, M.Si., selaku Ketua Panitia Hari Besar Nasional (PHBN) Kabupaten Tuban, Minggu (16/8).

Menurut Budi, pembatalan Pesta Kemerdekaan merupakan keputusan yang diambil setelah mempertimbangkan berbagai masukan, terutama arahan dan petunjuk Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky.

“Setelah mempertimbangkan berbagai hal dan masukan dari berbagai pihak, terutama arahan dan petunjuk Mas Bupati, kami memutuskan untuk membatalkan Pesta Kemerdekaan sebagai bentuk simpati dan kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita yang terdampak bencana gempa bumi di NTT,” ujar Budi.

Keputusan itu mungkin membuat suasana perayaan kemerdekaan di Tuban terasa berbeda. Namun, di balik tidak adanya pesta, terselip pesan kemanusiaan yang jauh lebih dalam.

Bagi Pemkab Tuban, kemerdekaan bukan semata tentang merayakan kebebasan dengan kemeriahan.

Kemerdekaan juga tentang bagaimana sesama anak bangsa saling menguatkan ketika sebagian lainnya sedang berada dalam kesulitan.

Karena itu, pembatalan pesta tidak dimaknai sebagai pengurangan terhadap penghormatan kepada Hari Kemerdekaan. Justru, momentum tersebut dijadikan ruang untuk memperkuat kepedulian, persaudaraan, dan solidaritas sebagai satu bangsa.

Budi mengajak seluruh masyarakat Tuban untuk turut mendoakan warga NTT yang terdampak bencana. Ia berharap masyarakat yang sedang menghadapi musibah diberikan keselamatan, kekuatan, dan ketabahan.

“Duka saudara kita adalah duka kita bersama,” ungkapnya.

Kalimat itu menjadi penanda bahwa jarak geografis tidak seharusnya menjadi batas bagi rasa kemanusiaan. Tuban mungkin berada jauh dari NTT, tetapi kepedulian dapat melampaui batas pulau dan daerah.

Di sisi lain, penghormatan terhadap kemerdekaan tetap dilakukan. Upacara Pengibaran Bendera dan Upacara Penurunan Bendera tetap digelar di Alun-Alun Tuban sesuai rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Upacara tetap dipandang penting sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan.

Lebih dari itu, upacara menjadi momentum untuk kembali meneguhkan semangat persatuan, kebangsaan, dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan demikian, Tuban tidak benar-benar berhenti merayakan kemerdekaan. Hanya saja, cara merayakannya tahun ini berbeda.

Jika biasanya kemerdekaan dirayakan dengan pesta dan kegembiraan, kali ini sebagian kegembiraan itu ditundukkan untuk memberi ruang bagi rasa empati.

Pemkab Tuban pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas pembatalan Pesta Kemerdekaan.

Pemerintah berharap keputusan tersebut dapat dipahami bukan sebagai penghilangan kemeriahan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama anak bangsa yang sedang tertimpa musibah.

“Kami mohon maaf kepada masyarakat atas pembatalan Pesta Kemerdekaan. Semoga keputusan ini dapat dipahami sebagai bentuk empati dan solidaritas kita bersama. Saat saudara-saudara kita di NTT sedang menghadapi musibah, mari kita tunjukkan bahwa kita hadir dan peduli,” pungkasnya.