Tuban, MEMANGGIL.CO — Bertahun-tahun lalu, Sheila Aulia Qurrahman hanya bisa menyaksikan upacara kemerdekaan dari balik layar televisi dan ponsel. Di matanya, sosok anggota Paskibraka yang berdiri tegap di tengah lapangan bukan sekadar bagian dari upacara.
Ada kekaguman. Ada rasa ingin mencoba. Dan perlahan, tumbuh sebuah mimpi sederhana dalam benaknya yakni suatu hari nanti, ia ingin berada di sana.
Mimpi itu akhirnya menemukan jalannya pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di Alun-Alun Tuban, pelajar SMAN 1 Tuban tersebut berdiri tegap sebagai bagian dari Paskibraka Kabupaten Tuban.
Bukan sekadar menjadi anggota pasukan. Sheila mendapat kepercayaan mengemban tugas sebagai pembawa baki pada Upacara Penurunan Bendera.
Bersama 75 anggota Paskibraka lainnya, ia menjalankan tugas di hadapan peserta upacara dan masyarakat yang menyaksikan prosesi sakral tersebut.
Bagi Sheila, momen itu memiliki arti yang jauh lebih dalam dibanding sekadar sebuah tugas. Sebab, di balik langkah dan sikap tegapnya, ada impian masa kecil yang akhirnya menjadi nyata.
“Ini adalah bagian dari mimpi saya sejak kecil. Menjadi pembawa baki bendera,” kenang Sheila.
Mimpi yang Dipersiapkan Sejak Kelas X
Mimpi tidak datang begitu saja. Sheila tahu, untuk berdiri di tengah lapangan sebagai Paskibraka, dibutuhkan perjuangan panjang.
Sejak duduk di kelas X, ia mulai mempersiapkan diri. Latihan fisik dilakukan untuk membangun ketahanan tubuh.
Peraturan Baris Berbaris (PBB) juga terus diasah agar setiap gerakan dapat dilakukan dengan disiplin dan presisi.
Semua itu dilakukan sembari tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang pelajar.
“Saya mempersiapkan untuk bisa seleksi Paskibraka ini sejak kelas 10. Saya latihan fisik, saya latihan PBB, serta beberapa hal untuk menunjang untuk seleksi Paskibraka,” katanya.
Latihan yang terus berjalan membuat Sheila harus belajar mengatur waktu. Hari-harinya tidak hanya diisi dengan kegiatan sekolah dan tugas akademik, tetapi juga latihan yang menguras tenaga.
Di sinilah kedisiplinan mulai benar-benar diuji.
Ia harus mampu membagi waktu antara mengejar prestasi akademik dan mempersiapkan diri untuk mewujudkan impian yang sudah lama disimpan.
“Saya harus pintar-pintar membagi waktu, antara latihan untuk mewujudkan impian saya dan juga tugas-tugas sekolah yang harus saya kerjakan,” ujarnya.
Ratusan Peserta, Tiga Bulan Perjuangan
Perjalanan Sheila kemudian berlanjut ke rangkaian seleksi Paskibraka Kabupaten Tuban yang berlangsung selama tiga bulan.
Ia harus bersaing dengan ratusan siswa yang memiliki mimpi serupa. Masing-masing datang membawa kemampuan, semangat, dan keinginan untuk menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera.
Seleksi tersebut bukan hanya soal siapa yang paling kuat secara fisik atau paling baik dalam baris-berbaris.
Bagi Sheila, mental juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Setiap tahapan menuntut ketahanan, konsistensi, dan kemampuan untuk tetap berdiri ketika rasa lelah mulai datang.
Ada kalanya rasa lelah membuat keinginan untuk berhenti muncul. Namun, setiap kali itu datang, Sheila kembali mengingat alasan mengapa ia memulai semuanya.
Ia memilih menikmati proses, menjalani latihan satu demi satu, dan terus meyakinkan dirinya bahwa setiap tetes keringat merupakan bagian dari perjalanan menuju mimpi.
“Alhamdulillah berkat perjuangan itu, mimpi ini akhirnya membuahkan hasil,” tuturnya.
Ketika Mimpi Menjadi Amanah
Kini, pengalaman menjadi pembawa baki menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup Sheila.
Ia tidak hanya mendapatkan pengalaman berdiri di tengah lapangan pada momentum bersejarah. Lebih dari itu, Paskibraka mengajarkannya tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, sekaligus bagaimana menjalankan sebuah amanah di hadapan banyak orang.
Mimpi yang dahulu hanya ia lihat melalui layar televisi dan ponsel akhirnya benar-benar berada di depan matanya.
Namun, bagi Sheila, pencapaian itu bukanlah garis akhir.
Ia ingin pengalaman yang didapat selama menjadi Paskibraka menjadi bekal untuk terus berkembang. Ia juga ingin semangat tersebut menular kepada generasi muda lainnya.
Menurutnya, setiap anak memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda. Yang terpenting adalah keberanian untuk mengembangkannya dan kemauan untuk terus belajar.
“Terus kembangkan bakat kalian di bidang mana pun yang bisa menunjang jiwa nasionalisme terhadap negara. Jangan malu untuk berkembang, dan teruslah belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya,” pesannya.
Dari sebuah mimpi kecil yang tumbuh sejak bangku sekolah dasar, Sheila akhirnya belajar bahwa impian tidak cukup hanya dibayangkan.
Ia membutuhkan keberanian untuk memulai, kedisiplinan untuk menjalani proses, dan ketekunan untuk bertahan ketika perjalanan terasa berat.
Dan pada suatu sore di Alun-Alun Tuban, di bawah kibaran Merah Putih, Sheila membuktikan satu hal sederhana.
Mimpi yang dirawat dengan perjuangan, suatu hari akan menemukan waktunya untuk menjadi kenyataan.