Blora, MEMANGGIL.CO - Jembatan Kidangan di ruas Jalan Nasional Blora–Cepu, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, menjadi perhatian lantaran sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Terbaru, dua kecelakaan terjadi dalam rentang waktu kurang dari lima jam pada hari yang sama.
Rangkaian kecelakaan tersebut menyita perhatian khusus pihak Satlantas Polres Blora untuk menindaklanjuti. Kepolisian bersama pihak Dishub Blora kemudian survei langsung di kawasan Jembatan Kidangan.
Aduan masyarakat terkait kondisi keselamatan di lokasi menjadi salah satu dasar dilakukannya pengecekan lapangan.
Kecelakaan pertama terjadi sekitar pukul 17.10 WIB. Insiden tersebut melibatkan dua sepeda motor dan menyebabkan seorang pelajar menjadi korban.
Belum genap lima jam berselang, kecelakaan kembali terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Kali ini, insiden melibatkan sepeda motor Kawasaki Ninja dengan kendaraan roda empat.
Dua kejadian dalam satu hari itu membuat persoalan keselamatan di Jembatan Kidangan kembali mencuat. Bukan hanya kecelakaan yang menjadi perhatian, tetapi juga kondisi lalu lintas dan karakteristik fisik jalan di kawasan tersebut.
Kasi MRLL Dishub/ Dinrumkimhub Kabupaten Blora, Satriyo, mengatakan pihaknya menerima aduan masyarakat dan menindaklanjutinya dengan melakukan survei di lokasi.
“Kami ucapkan terima kasih terkait aduan yang disampaikan masyarakat terhadap kami. Ini juga menjadi perhatian bagi kami,” kata Satriyo saat didampingi Anggota Satlantas Polres Blora di lokasi, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, survei dilakukan untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi kawasan sebelum pemerintah menentukan bentuk penanganan.
Hasil pengecekan tersebut selanjutnya akan dibawa ke forum lalu lintas yang melibatkan sejumlah pihak terkait.
“Setelah hasil survei hari ini, kita akan mengadakan forum lalu lintas untuk mekanisme penanganan lanjutan terkait seringnya kejadian laka lantas di Jembatan Kidangan ini,” ujarnya.
Dari pengamatan awal, terdapat sejumlah persoalan yang dinilai perlu mendapatkan perhatian. Dua di antaranya adalah tingginya kepadatan arus kendaraan dan adanya penyempitan badan jalan ketika kendaraan melintasi kawasan Jembatan Kidangan.
“Mungkin kalau sepintas ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama terkait tingginya kepadatan lalu lintas, kemudian ada penyempitan jalan Jembatan Kidangan,” jelas Satriyo.
Kondisi tersebut menjadi penting karena kawasan jembatan merupakan bagian dari jalur yang menghubungkan Blora dengan Cepu.
Ketika volume kendaraan meningkat, ruang gerak kendaraan menjadi lebih terbatas, terlebih ketika pengendara memasuki bagian jalan yang mengalami penyempitan.
Dalam kondisi seperti itu, kewaspadaan dan pengaturan kecepatan menjadi faktor penting. Pemerintah daerah kini mulai menginventarisasi langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Salah satu langkah yang diprioritaskan adalah pembenahan penerangan di kawasan Jembatan Kidangan.
“Yang pertama, kita akan perbaiki untuk penerangan jalan yang ada di Jembatan Kidangan,” kata Satriyo.
Penerangan menjadi perhatian terutama karena jalur tersebut tetap digunakan kendaraan pada malam hari. Pencahayaan yang memadai diharapkan dapat membantu pengendara melihat kondisi badan jalan, kendaraan dari arah berlawanan maupun situasi di sekitar jembatan.
Selain penerangan, pemerintah juga akan menyiapkan opsi pemasangan pita kejut untuk mendorong pengendara mengurangi kecepatan ketika memasuki kawasan tersebut.
“Terus yang kedua, akan kita rumuskan untuk pembuatan pita kejut di area ini. Mungkin itu langkah yang bisa kita lakukan dengan cepat,” ujarnya.
Pita kejut diharapkan dapat memberikan rangsangan kepada pengendara agar lebih waspada dan tidak melaju dengan kecepatan tinggi saat mendekati area jembatan.
Namun, rencana tersebut belum serta-merta dapat langsung dieksekusi. Pemerintah masih akan membahasnya melalui forum lalu lintas karena penanganan kawasan jalan melibatkan sejumlah instansi dan pihak yang memiliki kewenangan berbeda.
Selain fasilitas fisik, kebutuhan terhadap rambu serta papan imbauan keselamatan juga masuk dalam pembahasan.
Satriyo mengatakan pihaknya akan melibatkan Jasa Raharja dalam forum lalu lintas untuk membahas kemungkinan penyediaan papan imbauan bagi pengguna jalan.
“Terkait dengan rambu-rambu, kita dalam forum kita akan mengundang Jasa Raharja, yang mana nanti akan kita bahas untuk permintaan papan imbauan untuk berhati-hati,” ujarnya.
Papan imbauan tersebut direncanakan ditempatkan pada dua sisi kawasan Jembatan Kidangan sehingga informasi keselamatan dapat terlihat oleh pengguna jalan dari dua arah.
“Nanti untuk papan imbauan ada dua. Yang pertama di sebelah timur dan yang kedua ada di sebelah barat,” kata Satriyo.
Dengan demikian, konsep awal penanganan tidak hanya bertumpu pada satu fasilitas. Pemerintah mulai mengarah pada kombinasi antara peningkatan penerangan, pengendalian kecepatan melalui pita kejut, serta pemasangan papan peringatan keselamatan.
Langkah tersebut dinilai perlu disusun berdasarkan kondisi lapangan, termasuk kepadatan lalu lintas dan penyempitan jalan yang ditemukan dalam survei.
Meski demikian, masyarakat masih harus menunggu hasil forum lalu lintas untuk mengetahui bentuk penanganan yang benar-benar akan dilaksanakan, termasuk waktu pengerjaannya.
“Kalau untuk eksekusi, nanti kita bahas di forum. Kita belum bisa memastikan karena ini lintas sektoral,” jelas Satriyo.
Ia menegaskan, pembahasan tidak hanya melibatkan Dishub/Dinrumkimhub. Sejumlah pihak lain juga diperlukan untuk menentukan siapa melakukan apa dan fasilitas apa yang dapat segera diwujudkan.
“Artinya kita perlu Jasa Raharja, kemudian ada pihak-pihak lain juga. Nanti kita diskusikan di forum lalu lintas, nanti kita petakan untuk eksekusinya paling cepat kapan,” ujarnya.
Artinya, survei lapangan yang dilakukan pemerintah belum menjadi tahap akhir. Survei justru menjadi pintu masuk untuk menyusun penanganan yang lebih terukur terhadap persoalan keselamatan di Jembatan Kidangan.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan pelaksanaan langkah penanganan pada pekan berikutnya, Satriyo kembali menegaskan bahwa pemerintah masih akan memulai dengan forum lintas sektoral.
“Kita forumkan dulu, minggu depan langkahnya tetap forum dulu,” tegasnya.
Persoalan seringnya kecelakaan lalu lintas di area sekitar Jembatan Kidangan dengan demikian tidak hanya berhenti pada catatan mengenai dua kecelakaan yang terjadi dalam satu hari.
Pemerintah perlu melihat adanya faktor lain yang perlu dibenahi, terutama kepadatan arus lalu lintas, penyempitan jalan, penerangan, adanya cor bahu jembatan yang menghalangi jarak pandang pengguna jalan, pengendalian kecepatan dan keberadaan informasi keselamatan.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama karena Jembatan Kidangan berada pada jalur yang digunakan masyarakat dengan intensitas lalu lintas cukup tinggi. Setiap perubahan kondisi arus maupun ruang jalan dapat memengaruhi tingkat kewaspadaan pengendara.
Dua kecelakaan yang terjadi dalam hitungan jam juga menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan kehati-hatian pengguna jalan. Kondisi prasarana, pencahayaan, pengaturan lalu lintas serta informasi peringatan turut menjadi bagian dari sistem keselamatan.
Pemerintah daerah kini memiliki sejumlah opsi awal. Namun, realisasi setiap langkah masih menunggu pembahasan dalam forum lalu lintas.
Sembari menunggu proses tersebut, pengguna jalan yang melintas di Jembatan Kidangan tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Pengendara diharapkan menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan, menjaga jarak aman dan memperhatikan kendaraan lain ketika memasuki kawasan jembatan.
Setelah aduan masyarakat ditindaklanjuti dengan survei, tahap berikutnya kini berada pada forum lintas sektoral. Forum tersebut akan menentukan prioritas, pembagian kewenangan hingga kemungkinan percepatan eksekusi fasilitas keselamatan.
Jembatan Kidangan pun kini menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian lebih serius, terutama setelah dua kecelakaan terjadi dalam sehari. Persoalan kepadatan dan penyempitan jalan yang ditemukan di lapangan menjadi dasar bagi pemerintah untuk mencari langkah penanganan sebelum kembali terjadi insiden serupa.