Demak, MEMANGGIL.CO - Kepemimpinan dalam sebuah organisasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga menyangkut kesediaan seorang pemimpin untuk mendengar suara dari berbagai lapisan. Kemampuan mendengar menjadi salah satu unsur penting dalam membangun organisasi yang sehat, terutama ketika organisasi menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Pemimpin yang memiliki keberanian untuk mendengar tidak hanya membuka ruang bagi masukan dari lingkungan terdekatnya, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mereka yang berada di tingkat bawah untuk menyampaikan persoalan secara langsung.
Dalam konteks organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), pola kepemimpinan semacam itu menjadi semakin relevan. Organisasi yang memiliki struktur luas hingga tingkat daerah dan akar rumput membutuhkan komunikasi dua arah agar setiap kebijakan tidak berhenti pada keputusan di tingkat elite, tetapi dapat memahami kondisi yang berkembang di lapangan.
Kepemimpinan yang sepenuhnya bersifat top down berpotensi menciptakan jarak antara pengambil kebijakan dengan anggota organisasi. Dalam jangka pendek, pola tersebut memang dapat memberikan kesan adanya stabilitas karena keputusan berjalan dari atas ke bawah. Namun, tanpa ruang dialog yang memadai, persoalan di tingkat bawah berpotensi tidak tersampaikan secara utuh.
Karena itu, kepemimpinan empatik menjadi salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan. Dalam model ini, seorang pemimpin tidak hanya berperan sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai pendengar yang berusaha memahami persoalan sebelum menentukan langkah.
Sosok Gus Rozin dapat dilihat dalam konteks tersebut. Sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Gus Rozin dikenal memiliki mobilitas dalam melakukan kunjungan ke sejumlah daerah.
Aktivitas tersebut tidak hanya berlangsung di wilayah Jawa, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah di luar Jawa. Beberapa wilayah yang disebut pernah dikunjungi antara lain Bengkulu, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan hingga Sulawesi.
Kunjungan ke berbagai daerah tersebut pada satu sisi merupakan bagian dari tradisi silaturahmi yang selama ini menjadi salah satu karakter kuat dalam kehidupan Nahdlatul Ulama. Namun pada sisi lain, mobilitas tersebut juga dapat dipandang sebagai upaya membangun komunikasi langsung dengan warga dan pengurus di berbagai daerah.
Pertemuan langsung memungkinkan seorang pemimpin memperoleh gambaran yang berbeda dibandingkan hanya menerima laporan administratif dari struktur organisasi.
Persoalan yang muncul di tingkat akar rumput sering kali memiliki konteks yang tidak seluruhnya dapat digambarkan melalui laporan formal. Karena itu, kehadiran pemimpin di tengah warga menjadi salah satu cara untuk memperoleh informasi secara lebih utuh.
Gagasan tersebut memiliki relevansi dengan pemikiran Stephen Covey dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People. Salah satu prinsip yang dikenal dari pemikiran Covey adalah “seek first to understand, then to be understood”, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai upaya memahami orang lain terlebih dahulu sebelum meminta orang lain memahami dirinya.
Dalam kepemimpinan, prinsip tersebut menempatkan proses mendengar sebagai bagian penting sebelum seorang pemimpin menyusun keputusan atau menawarkan solusi.
Pemimpin yang langsung memberikan solusi tanpa memahami akar persoalan berisiko menghasilkan kebijakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Sebaliknya, pemimpin yang terlebih dahulu mendengar memiliki peluang lebih besar untuk memahami persoalan secara menyeluruh.
Konsep serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran Otto Scharmer melalui Theory U. Dalam konsep tersebut dikenal istilah generative listening, yakni kemampuan mendengar secara mendalam untuk memahami realitas dan membuka kemungkinan munculnya solusi baru.
Dalam konteks organisasi, proses tersebut membutuhkan kehadiran langsung, keterbukaan, serta kesediaan untuk menerima berbagai perspektif.
Bagi NU, kebutuhan terhadap pola kepemimpinan seperti itu menjadi semakin penting seiring dengan semakin kompleksnya tantangan organisasi. NU tidak hanya berhadapan dengan persoalan internal organisasi, tetapi juga perubahan sosial, perkembangan teknologi, dinamika generasi muda, pendidikan, ekonomi serta berbagai persoalan masyarakat.
Karena itu, kebijakan organisasi tidak cukup hanya dirumuskan berdasarkan perspektif struktural. Suara dari pengurus di daerah, lembaga pendidikan, pesantren, komunitas dan warga Nahdliyin di tingkat akar rumput juga perlu menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Dalam konteks tersebut, kunjungan Gus Rozin ke berbagai daerah dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi yang lebih dekat dengan basis organisasi.
Pendekatan semacam ini menempatkan pemimpin bukan semata sebagai figur yang memberikan instruksi, tetapi sebagai bagian dari proses untuk memahami kondisi organisasi secara langsung.
Solusi bagi NU, dengan demikian, tidak selalu harus lahir dari ruang rapat atau meja birokrasi organisasi. Banyak persoalan justru dapat ditemukan ketika pemimpin hadir di tengah masyarakat dan mendengar langsung pengalaman mereka.
Kepemimpinan partisipatif membutuhkan pola komunikasi yang memungkinkan anggota organisasi ikut menyampaikan gagasan, kritik dan kebutuhan. Dalam kerangka tersebut, empati menjadi instrumen penting karena pemimpin tidak hanya mendengar isi pesan, tetapi juga berusaha memahami latar belakang persoalan yang disampaikan.
Latar belakang Gus Rozin dari lingkungan pesantren juga menjadi salah satu faktor yang menarik dalam melihat gaya kepemimpinannya. Tradisi pesantren selama ini identik dengan nilai kesederhanaan, penghormatan terhadap orang lain, kerendahan hati serta hubungan yang kuat antara kiai dan masyarakat.
Di sisi lain, pengalaman dalam mengelola lembaga pendidikan menuntut kemampuan manajerial dan adaptasi terhadap perubahan.
Pertemuan antara tradisi kepemimpinan pesantren dengan pendekatan manajemen modern dapat menjadi modal dalam membangun organisasi yang lebih adaptif.
Dalam pendekatan manajemen modern, kebutuhan pengguna atau anggota organisasi menjadi salah satu perhatian utama. Organisasi dituntut mampu memahami kebutuhan anggotanya sebelum merancang program maupun kebijakan.
Konsep tersebut memiliki kemiripan dengan pendekatan kepemimpinan empatik. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga perlu memahami alasan mengapa suatu kebijakan dibutuhkan dan bagaimana dampaknya bagi anggota organisasi.
Dalam konteks NU, hubungan antara pemimpin dan warga Nahdliyin juga tidak hanya dibangun melalui struktur formal. Kepercayaan menjadi modal penting yang menentukan keberhasilan sebuah kepemimpinan.
Stephen Covey menyebut konsep tersebut sebagai emotional bank account, yakni akumulasi kepercayaan yang terbentuk melalui interaksi dan hubungan yang positif. Semakin kuat kepercayaan, semakin mudah komunikasi dan kerja sama dibangun.
Kepercayaan tidak dapat dibentuk secara instan. Ia membutuhkan konsistensi, keterbukaan dan kesediaan untuk menghargai orang lain.
Karena itu, pemimpin yang bersedia hadir di tengah masyarakat, mendengarkan masukan dan memahami persoalan dari berbagai daerah memiliki peluang lebih besar untuk membangun hubungan emosional dengan anggota organisasi.
Dalam konteks perjalanan NU ke depan, pola kepemimpinan semacam ini menjadi salah satu kebutuhan penting. Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu membaca perubahan sekaligus tetap dekat dengan basis sosialnya.
Gus Rozin, melalui mobilitas dan komunikasi lintas daerah yang dilakukannya, menunjukkan salah satu model pendekatan tersebut. Pengalaman pesantren, pengelolaan lembaga pendidikan serta keterlibatan dalam dinamika organisasi menjadi kombinasi yang dapat menjadi modal dalam membangun kepemimpinan yang lebih partisipatif.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang seberapa banyak keputusan yang dapat dibuat, tetapi juga seberapa jauh seorang pemimpin memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.
Dalam organisasi sebesar NU, kemampuan untuk mendengar menjadi semakin penting karena suara yang harus dipahami bukan hanya berasal dari satu kelompok. Ada suara pesantren, pengurus daerah, lembaga pendidikan, generasi muda, komunitas dan masyarakat Nahdliyin di berbagai wilayah.
Kepemimpinan yang mampu mempertemukan berbagai suara tersebut akan memiliki ruang yang lebih besar untuk membangun organisasi secara inklusif.
Dari perspektif itu, Gus Rozin dapat dilihat sebagai salah satu figur yang membawa gagasan kepemimpinan berbasis kedekatan, komunikasi dan empati. Apakah pendekatan tersebut mampu menjawab seluruh tantangan NU tentu akan ditentukan oleh proses dan perjalanan kepemimpinan ke depan.
Namun satu hal yang jelas, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kemampuan seorang pemimpin untuk hadir, mendengar dan memahami persoalan sebelum menentukan arah kebijakan merupakan modal penting bagi masa depan organisasi.
Oleh: Mohammad Fahsin
Pengasuh PP Kyai Gading Mranggen, Demak