Tuban, MEMANGGIL.CO — Dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tuban, sebuah proses pembinaan tumbuh perlahan.

Bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang belajar, bekerja, dan mempersiapkan diri untuk kembali menatap kehidupan di tengah masyarakat.

Salah satunya terlihat dari kolam-kolam budidaya ikan lele yang dikelola bersama warga binaan.

Setelah melalui proses pemeliharaan, pemberian pakan, menjaga kebersihan kolam hingga memantau pertumbuhan ikan, kini waktunya hasil dari proses tersebut dipanen.

Panen ikan lele menjadi lebih dari sekadar aktivitas mengambil hasil budidaya. Di baliknya terdapat cerita tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, sekaligus kesempatan bagi warga binaan untuk mengenal keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah mereka menyelesaikan masa pembinaan.

Program budidaya lele tersebut merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan Lapas Tuban.

Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi 15 Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, terutama dalam mendorong pembinaan yang produktif serta mendukung ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.

Setiap hari, warga binaan terlibat langsung dalam merawat ikan. Pakan diberikan secara rutin, kondisi kolam diperhatikan, sementara pertumbuhan ikan dipantau dari waktu ke waktu.

Rutinitas sederhana itu perlahan membentuk kebiasaan. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan, ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan ada hasil yang harus dijaga hingga waktunya tiba.

Kini, hasilnya dapat dilihat dari ikan-ikan lele yang dipanen.

Kepala Lapas Tuban, David Anderson Setiawan, mengatakan budidaya ikan menjadi salah satu upaya menghadirkan pembinaan yang tidak berhenti pada pemberian aktivitas semata, tetapi juga memberikan pengalaman nyata bagi warga binaan.

“Pembinaan kemandirian tidak hanya memberikan aktivitas bagi warga binaan, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun pengalaman dan kemandirian yang nantinya dapat diterapkan setelah mereka kembali ke masyarakat,” ujar David, Selasa (8/9/2026).

Bagi Lapas Tuban, kolam lele tersebut menjadi ruang belajar yang sederhana, tetapi memiliki makna besar. Warga binaan diajak memahami bahwa sebuah hasil tidak datang secara instan.

Ada proses yang harus dijalani. Ada ketekunan yang harus dipelihara. Dan ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Lebih lanjut dari kolam itulah nilai-nilai kemandirian ditanamkan. Bukan sekadar bagaimana menghasilkan ikan, tetapi bagaimana membangun sikap disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan ketika kembali ke lingkungan masyarakat.

Panen akhirnya menjadi penanda bahwa proses yang dirawat dengan ketekunan dapat menghasilkan sesuatu yang nyata.

Ikan lele memang menjadi hasil yang terlihat. Namun, bagi program pembinaan Lapas Tuban, hasil yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya pengalaman dan kepercayaan diri warga binaan untuk menata kembali masa depan.

Sebab, pembinaan sejatinya bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjalani hari ini, tetapi juga tentang bagaimana ia dipersiapkan untuk menjalani kehidupan setelah keluar dari balik tembok pemasyarakatan.

Dari sebuah kolam sederhana di lingkungan Lapas Tuban, harapan itu dirawat. Setiap ikan yang dipanen menjadi bagian dari cerita bahwa kesempatan untuk belajar dan berubah selalu bisa dimulai dari hal-hal sederhana.