Surabaya, MEMANGGIL.CO – Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Kota Surabaya, Senin (2/3/2026), tak sekadar menumbangkan puluhan pohon. Bencana hidrometeorologi itu melumpuhkan aktivitas warga di 17 kecamatan, merusak bangunan, hingga merenggut satu korban jiwa di pusat kawasan bisnis kota.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mencatat, sedikitnya 57 pohon tumbang dalam rentang siang hingga sore hari. Sebarannya merata, mulai dari Tambaksari, Tegalsari, Asem Rowo, Gubeng, Sawahan, Bubutan, Wonokromo, Gunung Anyar, Mulyorejo, Krembangan, Bulak, Sukolilo, Sambikerep, Genteng, Tenggilis Mejoyo, Rungkut hingga Benowo.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, Linda Novanti, menjelaskan pohon-pohon yang tumbang memiliki diameter antara 40 hingga 60 sentimeter. Kombinasi angin kencang, hujan lebat, serta kondisi pohon yang sudah berusia tua menjadi faktor dominan penyebab robohnya pepohonan tersebut.
“Petugas langsung melakukan evakuasi dan perantingan di masing-masing lokasi untuk membuka akses jalan dan mencegah risiko lanjutan,” ujarnya.
Selain pohon tumbang, BPBD juga mencatat empat bangunan mengalami kerusakan di wilayah Gunung Anyar, Bubutan, Genteng, dan Sukomanunggal. Penanganan dilakukan dengan koordinasi bersama perangkat kelurahan setempat guna memastikan keamanan penghuni serta mencegah potensi bahaya susulan.
Namun, dampak paling tragis terjadi di kawasan barat Surabaya. Seorang pekerja tewas dalam insiden kecelakaan kerja di Gedung Apartemen Ascott, kawasan Pakuwon Mall, sekitar pukul 14.30 WIB.
Peristiwa bermula saat dua pekerja tengah membersihkan kaca dinding gedung menggunakan gondola yang menggantung di ketinggian. Hujan deras yang datang tiba-tiba disertai angin kencang membuat gondola berayun tak terkendali. Keduanya terombang-ambing di udara sebelum akhirnya proses evakuasi darurat dilakukan.
Tim internal Pakuwon Mall bersama BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya mengerahkan lima unit mobil pemadam ke lokasi. Kepala Bidang Pemadaman DPKP Surabaya, M Rokhim, memastikan satu pekerja meninggal dunia.
Korban tewas diketahui bernama Eddy Suparno (51), warga Tambak Wedi Baru. Sementara rekannya, Ribut Boediyanto (56), mengalami luka-luka dan kini menjalani perawatan intensif di RS William Booth. Jenazah korban masih menjalani proses pemeriksaan oleh tim Inafis.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa cuaca ekstrem bukan sekadar gangguan musiman, tetapi ancaman nyata yang bisa melumpuhkan kota dalam hitungan jam. Pemerintah Kota Surabaya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun di area berisiko tinggi saat hujan dan angin kencang melanda.
Editor : B. Wibowo