MEMANGGIL.CO - Di balik gemerlap riasan dan kreasi seni, Salma Shafiyyah (23) bukan hanya belajar merias wajah, tetapi juga merias masa depannya sendiri.

Mahasiswi Prodi Tata Rias Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini baru saja menorehkan prestasi gemilang dengan indeks prestasi (IP) 3,69. Sebuah angka yang bukan sekadar deretan digit, melainkan cerminan dari kegigihan, kerja keras, dan dukungan tak henti dari orang-orang di sekitarnya.

Sejak awal masuk kuliah, Salma menyadari bahwa tantangan terbesar bukan pada materi perkuliahan itu sendiri, melainkan pada ketersediaan akses yang memadai. Sebagai seorang mahasiswa disabilitas,
Ia juga merasakan langsung minimnya Juru Bahasa Isyarat (JBI) di lingkungan kampus.

"Saya merasa kurang akses JBI. Jadi, saat dosen menjelaskan, saya tidak begitu paham," kata Shafiyyah kepada awak media, Sabtu 31 Agustus 2025.

Namun, keterbatasan tidak membuatnya menyerah. Justru, hal ini memicu semangatnya untuk berjuang lebih keras. Salma tidak sendirian. Perempuan kelahiran 2021merasa sangat terbantu oleh para teman-teman (dengar) yang selalu ada untuknya.

"Teman-teman sangat membantu aku. Dosen-dosen juga selalu mendukung dan membimbing aku untuk mendapatkan nilai yang bagus," kenangnya.

Untuk itu, dukungan yang kuat inilah yang menjadi fondasi utama kesuksesannya.

HUT RI

Bagi Salma, keberhasilannya meraih IP yang tinggi membuktikan satu hal, penyandang disabilitas memiliki potensi yang sama untuk meraih prestasi gemilang, tidak peduli seberapa besar tantangannya.
Oleh karena itu ia berharap kisahnya dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk tidak melihat disabilitas sebagai halangan, melainkan sebagai bagian dari identitas yang bisa menghasilkan kekuatan.

Kini, setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya, Salma memiliki beberapa tujuan karir yang ingin dicapainya, Ia bercita-cita untuk berkarier di kantor pemerintahan atau menjadi seorang MUA (Make-Up Artist) profesional. Pilihan ini menunjukkan betapa luasnya spektrum potensi yang bisa digapai.
"Saya yakin, dengan ketekunan bisa sukses di salah satu bidang tersebut," tandas Salma.

Kisah Salma mengingatkan kita pada perjuangan individu lain, seperti Shafirah, seorang model disabilitas yang juga berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa mengatur waktu antara karirnya di dunia model dengan pendidikan.

Keberhasilan para penyandang disabilitas ini menegaskan satu hal penting: disabilitas bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru awal dari sebuah perjalanan untuk membuktikan diri.

"Ini adalah bukti nyata bahwa dengan tekad kuat, dukungan, dan kesempatan yang setara, para penyandang disabilitas bisa menjadi sarjana, orang sukses, dan menjadi inspirasi bagi banyak orang," pungkas Salma.