Jakarta, MEMANGGIL.CO - Kitab Primbon Jawa mencatat sedikitnya 38 letak tahi lalat atau andeng-andeng yang dipercaya memiliki makna tertentu terkait karakter, peruntungan, hingga perjalanan hidup seseorang. Kepercayaan tradisional ini masih hidup dan terus dicari masyarakat, terutama di tengah meningkatnya minat terhadap budaya dan kearifan lokal Jawa.
Dalam pandangan Primbon, tubuh manusia tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari alam yang sarat simbol. Tahi lalat dianggap sebagai salah satu tanda fisik yang menyimpan pesan, tergantung di mana posisinya berada.
Makna Dibaca Berdasarkan Letak
Primbon Jawa membagi tafsir andeng-andeng berdasarkan letaknya, mulai dari kepala, wajah, tubuh, tangan, hingga kaki. Tahi lalat di bagian kepala sering dikaitkan dengan kecerdasan dan cara berpikir, sementara di wajah dipercaya mencerminkan karakter sosial, wibawa, hingga cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan.
Adapun andeng-andeng di bagian tubuh tengah kerap dimaknai sebagai simbol tanggung jawab hidup dan ketahanan menghadapi ujian. Sementara tahi lalat di kaki dan telapak kaki sering diasosiasikan dengan kerja keras, perjalanan hidup, serta kecenderungan merantau.
Warisan Tafsir Leluhur Jawa
Kepercayaan terhadap makna tahi lalat merupakan bagian dari sistem pengetahuan Primbon Jawa yang telah diwariskan lintas generasi. Kitab ini tidak hanya membahas andeng-andeng, tetapi juga weton kelahiran, watak manusia, hari baik, hingga etika hidup bermasyarakat.
Budayawan menilai, tradisi membaca tanda tubuh mencerminkan cara orang Jawa memahami manusia secara utuh tidak hanya fisik, tetapi juga batin dan relasinya dengan alam semesta.
Tidak Bersifat Ilmiah, Namun Tetap Lestari
Meski tidak didukung kajian medis atau ilmiah, tafsir tahi lalat dalam Primbon Jawa tetap dipercaya oleh sebagian masyarakat. Pengetahuan ini umumnya digunakan sebagai bahan refleksi diri, obrolan keluarga, hingga rujukan budaya, bukan sebagai penentu mutlak nasib seseorang.
Para pemerhati budaya menegaskan bahwa Primbon sebaiknya dipahami sebagai produk kearifan lokal, bukan alat ramalan yang menentukan masa depan secara pasti.
Kembali Ramai di Era Digital
Menariknya, di era digital minat terhadap Primbon Jawa justru meningkat. Topik seperti makna tahi lalat, weton, dan ramalan tradisional kerap menjadi konten yang banyak dibaca karena menyentuh sisi personal pembaca.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat modern masih memiliki ketertarikan kuat pada narasi budaya yang memberi ruang untuk mengenali diri dan memahami hidup dari sudut pandang leluhur.
Bijak Memaknai Tradisi
Para tokoh budaya mengingatkan agar masyarakat bersikap bijak dalam memaknai tafsir andeng-andeng. Tradisi ini tidak untuk dipercaya secara membabi buta, melainkan dipahami sebagai warisan budaya yang mencerminkan cara berpikir masyarakat Jawa pada masanya.
Usaha, sikap hidup, dan nilai moral tetap menjadi faktor utama dalam menentukan jalan hidup seseorang.