Surabaya, MEMANGGIL.CO - Suasana berbeda terasa di kampung nelayan RW 02, Kelurahan Sukolilo Baru, kawasan pesisir Kenjeran, Surabaya. Seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri, warga setempat kembali menggelar tradisi Lebaran Ketupat, sebuah perayaan penuh makna yang dirayakan dengan cara sederhana namun meriah dengan berbagi makanan secara gratis.
Sejak siang hari, ratusan warga telah memadati jalan sepanjang kurang lebih 300 meter. Mereka antusias menyambangi lapak-lapak yang berjajar, menikmati aneka hidangan ketupat yang disediakan secara cuma-cuma oleh warga.
Beragam menu tersaji menggugah selera. Mulai dari sate daging ketupat, urap-urap, bakso ketupat, sop ketupat, mie ketupat, hingga aneka minuman segar.
Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 20 menit, seluruh hidangan yang disiapkan ludes diserbu pengunjung.
Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Bahari Sukolilo Baru, Tri Eko Sulistyowati, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan turun-temurun masyarakat pesisir.
“Ini adalah wujud rasa syukur kami kepada Allah SWT atas berkah laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Menariknya, tradisi ini memiliki akar yang unik. Dahulu dikenal sebagai “Kupat Mini”, kegiatan ini dilakukan oleh anak-anak di bawah usia 12 tahun dengan konsep barter tanpa uang.
“Anak-anak dulu membuat ketupat di depan rumah, lalu saling ‘bertransaksi’ dengan istilah ‘tumbas’ atau ‘tuku’. Dari situ mereka belajar nilai kewirausahaan sejak dini, meski dalam bentuk sederhana,” jelas Tri.
Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi perayaan massal. Sejak 2016, kegiatan mulai dipusatkan di depan SD Muhammadiyah 9, sebelum akhirnya sempat terhenti dan menyebar ke gang-gang warga saat pandemi Covid-19 melanda.
Dalam tiga tahun terakhir, setelah kondisi kembali normal, tradisi ini kembali digelar lebih meriah dan terbuka untuk umum.
Namun, ada perubahan yang terjadi, peran penjual kini didominasi orang dewasa, dengan ragam hidangan yang lebih banyak dan porsi yang lebih besar.
Waktu pelaksanaan pada sore hari juga bukan tanpa alasan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk toleransi antarwarga yang memiliki perbedaan penetapan hari raya.
“Di sini ada warga NU dan Muhammadiyah. Dengan menggelar sore hari, semua bisa ikut merayakan karena dalam hitungan Jawa sudah masuk hari berikutnya,” tutur Tri.
Menariknya, seluruh kegiatan ini murni swadaya warga tanpa campur tangan pihak luar.
Setiap keluarga berkontribusi dengan menu berbeda, mulai dari mie, lodeh jeroan, urap keroan, hingga jajanan tradisional seperti apem dan es tape.
Bahkan, ada warga yang menyiapkan hingga sepuluh jenis hidangan sekaligus. Para pengunjung pun tak segan membawa pulang berbagai makanan dari lapak berbeda, memenuhi nampan mereka untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.
Lebaran Ketupat di Sukolilo Baru bukan sekadar perayaan kuliner, tetapi juga simbol kebersamaan, rasa syukur, dan semangat gotong royong yang terus hidup di tengah masyarakat pesisir Kenjeran.