Tuban, MEMANGGIL.CO – Malam itu, suasana di depan proyek pembangunan Sekolah Rakyat Tuban tak lagi dipenuhi suara alat berat ataupun lalu lalang pekerja proyek.
Yang terdengar justru lantunan doa, isak haru, dan suara lirih rekan-rekan ojek online yang datang membawa luka kehilangan.
Puluhan driver ojol berkumpul di pintu masuk proyek Sekolah Rakyat di Jalan Letda Sucipto, Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban, Rabu malam, 13 Mei 2026.
Mereka mengenakan atribut komunitas, menyalakan lilin, menabur bunga, lalu menundukkan kepala untuk satu nama yang kini tinggal kenangan yakni M. Iqbal Firmansyah.
Bagi mereka, Iqbal bukan sekadar rekan sesama pencari nafkah di jalanan. Ia adalah sosok pekerja keras yang setiap hari berjuang menjemput pesanan demi keluarga di rumah.
Namun perjuangan itu terhenti di depan proyek pembangunan senilai lebih dari Rp50 miliar yang kini justru menyisakan duka mendalam.
Doa bersama digelar di dua titik berbeda. Titik pertama berada tepat di pintu masuk proyek yang diduga menjadi lokasi awal kecelakaan.
Di tempat itu, motor yang dikendarai Iqbal disebut menabrak gundukan aspal bekas galian saluran air hingga kehilangan kendali.
Sekitar 50 meter dari lokasi pertama, para driver kembali berhenti. Di situlah Iqbal menghembuskan napas terakhirnya.
“Ada dua lokasi. Yang pertama tempat korban diduga terpeleset setelah menabrak bekas galian dan gundukan aspal, lalu lokasi kedua tempat teman saya meninggal dunia,” ujar Ali Syafaat di sela aksi solidaritas.
Lilin-lilin kecil menyala di tepi jalan. Sebagian driver terlihat mematung memandang titik lokasi kecelakaan, sementara lainnya larut dalam doa.
Bagi komunitas ojol Tuban, peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa.
Mereka menilai ada kelalaian serius dalam pengamanan proyek.
Minimnya rambu peringatan dan tanda bahaya di area pengerjaan proyek disebut menjadi ancaman nyata bagi pengguna jalan, terutama saat malam hari.
“Teman-teman meminta pihak Sekolah Rakyat bertanggung jawab atas kejadian ini,” kata Ali.
Nada suaranya terdengar berat. Ia menegaskan komunitas ojol akan terus mengawal kasus tersebut dan berencana kembali menggelar aksi serupa dalam tujuh hari mendatang.
“Ini murni kelalaian pihak proyek. Kami berharap jangan sampai ada korban lagi setelah ini,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Mujiono, driver ojol lainnya yang hadir malam itu. Ia mengungkapkan bahwa keluarga korban sebelumnya sempat menerima santunan dari rekanan proyek sebesar Rp20 juta.
Namun santunan tersebut dinilai tidak sebanding dengan kehilangan yang dialami keluarga korban.
“Santunan itu tidak pantas dan rencananya akan dikembalikan. Karena ini bukan sekadar musibah biasa, tapi ada kelalaian yang menyebabkan teman kami meninggal dunia,” ujarnya.
Iqbal, kata Mujiono, selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Kepergiannya meninggalkan luka yang tak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga komunitas ojol yang setiap hari hidup bersama kerasnya jalanan.
Korwil Pembangunan Sekolah Rakyat Tuban
Ironisnya, hingga aksi berlangsung, tidak satu pun perwakilan pelaksana proyek hadir menemui massa. Pihak kontraktor maupun Koordinator Wilayah (Korwil) pembangunan Sekolah Rakyat Tuban, Agus Saputra, juga belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan para driver ojol.
Belum ada penjelasan mengenai evaluasi pengamanan proyek, penambahan rambu keselamatan, maupun langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Padahal sebelumnya, proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Kelurahan Mondokan tersebut juga sempat menuai berbagai keluhan warga.
Sejak Maret 2026, sejumlah warga mengeluhkan dampak aktivitas proyek mulai dari rumah retak akibat getaran alat berat, debu yang beterbangan, kebisingan hingga larut malam, sampai saluran drainase yang terganggu.
Minimnya keterlibatan tenaga kerja lokal pun sempat menjadi sorotan masyarakat sekitar.
Kronologi Kecelakaan
Sementara itu, berdasarkan keterangan Kanit Gakkum Satlantas Polres Tuban IPTU Eko Sulistyono, kecelakaan yang merenggut nyawa Iqbal terjadi pada Senin malam, 11 Mei 2026 sekitar pukul 23.55 WIB.
Malam itu, Iqbal baru saja menyelesaikan pesanan makanan dari wilayah Merakurak dan melaju dari arah barat menuju timur menggunakan sepeda motor bernopol S 2408 EX.
Namun ketika melintas di depan pintu masuk proyek, ia diduga kehilangan kendali setelah melewati gundukan aspal bekas galian saluran air.
Motor terjatuh, dan nyawanya tak terselamatkan. Kini, di lokasi tempat Iqbal mengembuskan napas terakhir, doa-doa terus dipanjatkan.
Di antara cahaya lilin yang perlahan meredup, para driver ojol hanya berharap satu hal sederhana yakni jangan ada lagi nyawa yang hilang di jalan yang seharusnya aman dilalui.