Surabaya, MEMANGGIL.CO – Pelaku usaha ritel di Surabaya memasuki paruh kedua 2026 dengan optimisme yang meningkat. Bank Indonesia mencatat ekspektasi penjualan beberapa bulan ke depan menunjukkan tren membaik seiring dimulainya tahun ajaran baru dan berbagai agenda ekonomi yang diperkirakan mendorong konsumsi masyarakat.
Optimisme tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juli 2026 yang naik menjadi 174,1 dibandingkan periode sebelumnya sebesar 164,2. Sementara itu, IEP Oktober 2026 juga meningkat menjadi 135,8 dari 134,6. Kenaikan ini menunjukkan pelaku usaha memperkirakan aktivitas perdagangan akan semakin bergairah pada semester II tahun ini.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan prospek positif tersebut didukung oleh sejumlah momentum yang secara tradisional mampu meningkatkan belanja rumah tangga. “Dimulainya tahun ajaran baru akan meningkatkan kebutuhan konsumsi masyarakat, terutama untuk perlengkapan sekolah, sandang, dan kebutuhan pendukung lainnya,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Selain itu, penyelenggaraan Pekan Raya Jatim (PRJ) pada Oktober mendatang diperkirakan menjadi salah satu penggerak aktivitas perdagangan di Surabaya dan sekitarnya. Ajang tahunan tersebut dinilai mampu meningkatkan transaksi ritel sekaligus memperluas perputaran ekonomi daerah.
Di tengah optimisme tersebut, kinerja perdagangan eceran Surabaya pada Mei 2026 juga menunjukkan ketahanan. Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 473,4 atau relatif stabil dibandingkan April 2026 yang mencapai 473,3. Secara bulanan, penjualan eceran bahkan kembali tumbuh sebesar 0,02 persen setelah pada April mengalami kontraksi 9,3 persen.
Perbaikan kinerja perdagangan terutama ditopang oleh meningkatnya penjualan suku cadang dan aksesori kendaraan bermotor serta kelompok barang lainnya, termasuk sandang. Meningkatnya aktivitas konsumsi selama perayaan Iduladha dan Waisak turut memberikan dorongan terhadap sektor perdagangan.
Meski demikian, secara tahunan penjualan eceran masih mengalami kontraksi 3,1 persen. Namun angka tersebut membaik dibandingkan April 2026 yang terkontraksi 3,7 persen. Kondisi ini menunjukkan proses pemulihan konsumsi masyarakat masih berlangsung setelah lonjakan belanja pada periode Ramadan dan Idulfitri.
Bank Indonesia mengingatkan optimisme tersebut tetap harus dibarengi kewaspadaan terhadap risiko global, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memicu kenaikan harga energi dunia. “Perkembangan geopolitik global perlu terus dicermati karena dapat memengaruhi harga energi dan komoditas. Jika tekanan harga meningkat, hal tersebut berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan aktivitas konsumsi ke depan,” kata Ibrahim.
Dengan prospek penjualan yang membaik dan berbagai agenda ekonomi yang akan berlangsung sepanjang semester II, sektor perdagangan eceran diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Surabaya dan Jawa Timur hingga akhir 2026.