Surabaya, MEMANGGIL.CO — Daya beli masyarakat Kota Surabaya terbukti menunjukkan ketahanan yang solid di tengah gempuran ketidakpastian ekonomi domestik maupun global.  

Sinyal positif ini tecermin dari kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 yang tetap stabil, di mana Indeks Penjualan Riil (IPR) menyentuh level 473,4, bergerak positif dari bulan April 2026 yang berada di angka 473,3. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan, stabilnya aktivitas perdagangan ritel ini merupakan indikator kuat bahwa konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama perekonomian daerah masih terjaga dengan sangat baik. 

Menurut Ibrahim, performa apik ini didorong oleh lonjakan belanja masyarakat selama momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya perayaan Iduladha dan Waisak. 

"Permintaan masyarakat yang meningkat selama periode HBKN menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja perdagangan eceran pada Mei 2026. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Jawa Timur, khususnya di Surabaya, masih cukup terjaga," kata Ibrahim dalam keterangan resminya, Jumat lalu, 19 Juni 2026. 

Kendati secara tahunan (year-on-year) penjualan eceran masih mengalami kontraksi sebesar 3,1 persen, angka tersebut sebetulnya menunjukkan perbaikan signifikan dibanding April 2026 yang sempat terkontraksi hingga 3,7 persen.  

Perbaikan performa ini utamanya ditopang oleh meroketnya penjualan suku cadang dan aksesori kendaraan bermotor, serta kelompok barang budaya dan rekreasi. 

Sate Pak Rizki

Secara bulanan, kinerja ritel bahkan sukses berbalik arah ke zona hijau dengan pertumbuhan sebesar 0,02 persen. Capaian ini menjadi angin segar mengingat pada bulan April lalu, sektor ritel sempat mengalami hantaman kontraksi yang cukup dalam sebesar 9,3 persen akibat normalisasi belanja pasca-Lebaran. 

Optimisme Bank Indonesia terhadap prospek konsumsi masyarakat pada semester II 2026 juga kian menebal. Hal ini divalidasi oleh lonjakan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juli 2026 yang melesat ke angka 174,1 dari posisi sebelumnya yang tertahan di level 164,2. Kenaikan tersebut dipicu oleh siklus tahun ajaran baru sekolah yang dipastikan mendongkrak belanja kebutuhan pendidikan. 

Tak hanya itu, geliat ekonomi diproyeksikan akan semakin membara pada Oktober mendatang berkat magnet dari penyelenggaraan Pekan Raya Jatim (PRJ). Terbukti, IEP Oktober 2026 merangkak naik ke level 135,8 dari 134,6 pada periode sebelumnya. 

Meski indikator domestik menunjukkan performa impresif, Bank Indonesia tetap memberikan catatan kuning terkait risiko eksternal yang wajib diantisipasi, terutama eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. 

"Perkembangan geopolitik global perlu terus dicermati karena dapat memengaruhi harga energi dan komoditas. Jika tekanan harga meningkat, hal tersebut berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan aktivitas konsumsi ke depan," pungkas Ibrahim.