Surabaya, MEMANGGIL.CO – Rumah Sakit Daerah (RSD) Prof. dr. Moeljono Surabaya atau RS Jiwa Menur mencatat peningkatan signifikan kasus percobaan bunuh diri dan melukai diri sendiri. 

Rata-rata Instalasi Gawat Darurat rumah sakit menerima hampir satu kasus baru setiap hari.

Direktur RS Menur, drg. Vitria Dewi, mengungkapkan lonjakan tersebut terjadi pada Mei dan Juni 2026.

"Kalau sekarang kami merata-rata di bulan Mei dan Juni itu, kami bisa mengatakan satu hari satu kasus," ujar Vitria, Rabu (26/08/2026).

Sepanjang Mei 2026 tercatat 27 kasus. Hingga 27 Juni 2026, kembali masuk 22 pasien dengan kondisi serupa. 

"Padahal dulu kami hanya mendapatkan kasus itu di hari Sabtu atau Minggu. Artinya ada satu peningkatan riil yang memprihatinkan," katanya. 

Data medis menunjukkan lebih dari 80 persen pasien berusia di bawah 30 tahun. Tingginya jumlah pasien membuat keterisian 362 tempat tidur khusus jiwa di RS Menur mencapai lebih dari 80 persen.

Psikiater Anak dan Remaja RS Menur, dr. Ivana Sajogo, menyebut pasien termuda yang dirawat inap berusia 9 tahun. 

Ruang perawatan anak dengan kapasitas 12 ranjang saat ini juga terus penuh.

"Usia termuda rawat inap itu usia sembilan tahun waktu itu, dengan kondisi gangguan mental yang sudah mengganggu lingkungannya," ungkap Ivana.

Penanganan dilakukan secara holistik dengan melibatkan keluarga, guru, hingga pemuka agama. 

"Penanganan di psikiatri itu holistik. Jadi kalau perlu gurunya dihadirkan, atau jika orang tua meminta didampingi pemuka agama juga kami fasilitasi," imbuhnya.

Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jatim, Suko Widodo, menyoroti faktor gaya hidup digital sebagai salah satu pemicu. 

Suko Widodo menilai interaksi manusia kini minim empati karena terlalu bergantung pada gawai.

"Di masa silam orang bisa saling bercakap-cakap, ketemu, dan mendengarkan. Tapi hari ini mereka berjumpa dalam ruang digital yang tidak touchable, sehingga tingkat kepekaan emosinya tidak ada," terang Suko.

Ia mengajak masyarakat membangun komunikasi humanis di keluarga dan mengelola penggunaan gawai secara wajar. 

Suko juga menekankan orang tua harus memahami perubahan zaman agar bisa mendampingi anak dengan baik.

"Orang tua mau tidak mau harus memahami bahwa zaman sudah berubah. Harusnya orang tua lebih sering bertemu dengan anak dan membicarakannya bersama," pungkasnya.