Surabaya, MEMANGGIL.CO - Di tengah gempuran budaya modern, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memilih kembali ke akar tradisi.
Dalam rangka Dies Natalis ke-68, kampus Merah Putih ini menggelar pagelaran wayang kulit sebagai bentuk nyata pelestarian budaya.
Ribuan masyarakat, sivitas akademika, dan jajaran pimpinan YPTA Surabaya yang memadati Pelataran Gedung Fakultas Kedokteran Untag Surabaya, larut dalam semarak pertunjukan semalam suntuk.
Mengangkat lakon "Wahyu Katentreman", panggung wayang menghadirkan dua maestro dalang Ki Minto Darsono dan Ki Thathit Kusuma Wibathsuh.
Gending dari kelompok karawitan Sekar Gadung Indonesia serta lawakan segar dari Cak Percil Cs menambah khidmat dan meriah suasana.
Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., menegaskan, pemilihan lakon bukan tanpa alasan.
"Kami memilih lakon ini karena berharap semoga katentreman selalu hadir di lingkungan YPTA. Kami ingin melestarikan kebudayaan dan bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan masyarakat," ujarnya, Senin (31/08/2026).
Bagi Untag, wayang kulit bukan sekadar hiburan. Pagelaran ini sudah menjadi agenda rutin tahunan kampus.
Tujuannya jelas: menjaga warisan budaya tetap hidup dan mempererat hubungan kampus dengan masyarakat sekitar.
Ketua YPTA Surabaya J. Subekti, S.H., M.M., juga mengapresiasi konsistensi itu. Ia menyebut budaya adalah identitas yang harus terus dirawat bersama.
Kemeriahan makin terasa dengan hadirnya ribuan warga dari berbagai daerah. Salah satunya Yanti dari Semolowaru yang mengaku senang bisa menikmati wayang gratis di kampus.
"Semoga di ulang tahun Untag Surabaya ini semakin jaya, dan rutin mengadakan pagelaran untuk masyarakat seperti ini," ungkapnya.
Melalui pagelaran ini, Untag Surabaya membuktikan kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga penjaga dan penggerak kebudayaan.
Di usia ke-68, semangat melestarikan warisan leluhur tetap menjadi bagian dari napas universitas.