Rembang, MEMANGGIL.CO - Data siswa SMAN 1 Lasem yang mengalami gangguan kesehatan setelah menerima makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian setelah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan memberikan klarifikasi mengenai jumlah pasien yang menjalani perawatan.

SPPG Soditan menyebut terdapat 32 siswa yang terverifikasi mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan, berdasarkan hasil pencocokan data dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.

Klarifikasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Kamis sore (10/9/2026), setelah sebelumnya beredar angka jauh lebih besar yang menyebut 777 siswa dan guru mengalami gejala mual, muntah hingga diare.

Kuasa hukum SPPG Soditan, Abdul Mun’im, menjelaskan dari 32 siswa yang tercatat mendapat perawatan tersebut, 31 siswa ditangani di Puskesmas Lasem dan satu siswa dirawat di Puskesmas Pancur.

“Rinciannya 31 dirawat di Puskesmas Lasem dan 1 orang di Puskesmas Pancur. Jadi total 32 anak, ini yang terverifikasi resmi oleh Dinas Kesehatan dan mereka semua sudah pulang ke rumah per hari Minggu kemarin (6/9),” ungkap Mun’im.

Perbedaan data tersebut muncul setelah kejadian pada Rabu (2/9/2026), ketika sejumlah siswa dan guru SMAN 1 Lasem dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menerima makanan MBG.

Angka 777 sebelumnya menjadi data yang ramai diberitakan karena mencakup siswa dan guru yang mengalami sejumlah keluhan, bukan semata-mata jumlah pasien yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.

Mun’im mengatakan pihaknya tidak mempersoalkan data 777 tersebut karena kemungkinan merupakan hasil pendataan awal yang dilakukan di lingkungan sekolah.

“Jadi kita tidak menyalahkan pihak yang menyampaikan data 777, tapi kami mengacu pada data Dinas Kesehatan,” bebernya.

Di tengah polemik perbedaan data tersebut, SPPG Soditan juga tengah menjalani penghentian sementara operasional selama 20 hari.

Penghentian sementara itu diberikan Badan Gizi Nasional (BGN) setelah muncul kejadian dugaan keracunan yang dialami siswa SMAN 1 Lasem usai menerima MBG.

Masa penghentian operasional kemudian dimanfaatkan pengelola untuk melakukan pembenahan berdasarkan rekomendasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sejumlah fasilitas yang menjadi perhatian antara lain saluran pembuangan air serta ruang penyimpanan susu yang dilakukan penataan ulang untuk memperkuat aspek kebersihan dan keamanan pangan.

“Saluran air dengan tujuan pembuangan lebih lancar. Khusus ruang penyimpanan susu di dalam kan ruang ber-AC dan lembab ya, jadi untuk antisipasi kemungkinan munculnya hewan, kayak serangga gitu, kita tutup,” ungkap salah satu mitra SPPG Soditan.

Selain pembenahan fasilitas, pengelola juga mengevaluasi prosedur penerimaan dan penyimpanan bahan makanan.

Pengecekan tersebut mencakup pencatatan waktu kedatangan bahan hingga pemantauan masa kedaluwarsa untuk memastikan bahan yang digunakan sesuai standar.

“Tiap perubahan, kami sampaikan progressnya. Ada batas waktu. Di masa tutup sementara ini, kita manfaatkan betul. Termasuk evaluasi check list kapan barang datang dan kapan masa kadaluwarsanya,” jelasnya.

SPPG Soditan menyatakan proses evaluasi terus dilakukan selama masa penghentian sementara sebagai bagian dari tindak lanjut terhadap rekomendasi perbaikan.

Sementara itu, pihak SPPG mengaku telah melakukan pendampingan terhadap pasien yang mengalami keluhan sebagai bentuk tanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Klien kami sudah berupaya melakukan langkah-langkah pendampingan kepada pasien, sebagai bentuk pertanggungjawaban,” tandas Mun’im.

Klarifikasi mengenai data pasien sekaligus pembenahan fasilitas dan prosedur tersebut kini menjadi bagian penting sebelum SPPG Soditan kembali menjalankan pelayanan MBG di wilayah Lasem.