Surabaya, MEMANGGIL.CO — Penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif tidak hanya soal kecanggihan, tetapi juga soal konsumsi air bersih yang besar.
Air digunakan untuk sistem pendinginan server data center agar tidak overheat, termasuk untuk produksi chip semikonduktor.
Hal itu diungkapkan Direktur Direktorat Sistem Informasi (DSI) Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, Eko Halim Santoso, S.Kom., M.Kom.
Menurutnya, kemajuan AI tidak seharusnya hanya dinilai dari kecepatan komputasi, tetapi juga dari efisiensi penggunaan air dan energi.
“Air, listrik, dan sumber daya lainnya juga harus digunakan secara efisien. Kita akan memasuki tahap ketika efisiensi menjadi bagian dari inovasi itu sendiri,” ujarnya, Selasa (15/09/2026).
Eko mengingatkan, di balik perintah sederhana yang diketik pengguna, terdapat data center, server performa tinggi, dan infrastruktur yang bekerja terus-menerus.
Hal inilah yang sering tidak terlihat. Meski AI sudah menjadi bagian aktivitas harian, manusia harus tetap memegang kendali.
“AI pada dasarnya hanyalah tools atau alat untuk menambah dan memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan peran manusia. Jadi, AI seharusnya menjadi co-pilot, bukan autopilot,” tegasnya.
Artinya manusia tetap memegang kendali atas keputusan, etika, moral, dan tanggung jawab. Yang perlu diperhatikan bukan seberapa sering menggunakan AI, tetapi apakah kita masih mampu berpikir, memvalidasi, dan mengambil keputusan mandiri.
Solusinya bukan menghentikan perkembangan AI. Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan manfaat besar dengan sumber daya yang semakin efisien. Saat ini sudah banyak pengembangan chip hemat energi dan model AI yang lebih efisien.
“AI yang lebih canggih belum tentu menjadi AI yang lebih baik, apalagi jika sumber daya yang digunakan tidak sebanding dengan manfaat yang dihasilkan,” katanya.
Eko mengajak pengguna untuk tepat guna. Tidak semua pekerjaan harus diserahkan ke AI. Untuk analisis dan pengolahan data besar, AI sangat membantu, tetapi untuk hal sederhana bisa dilakukan sendiri.
Ia juga mengingatkan pentingnya verifikasi informasi, keamanan data, privasi, dan hak cipta. Jangan memasukkan data sensitif sembarangan ke layanan AI.
Institusi pendidikan punya tanggung jawab besar membentuk cara generasi berikutnya menggunakan teknologi. Di DSI, posisinya ada dua: sebagai enabler dan governor.
Sebagai enabler, DSI membuka ruang pemanfaatan AI untuk pendidikan, administrasi, penelitian, dan layanan.
Sebagai governor, DSI memastikan pemanfaatannya tetap aman, menjaga data pribadi, etika, dan validitas informasi.
“Pendekatan yang menurut saya tepat bukan melarang penggunaan AI, tetapi membangun literasi AI. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa perlu memahami bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga kapan AI layak digunakan,” jelasnya.
Menurut Eko, masa depan bukan tentang memilih manusia atau AI, melainkan kolaborasi keduanya.
“Teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang semakin canggih atau pintar, tetapi teknologi yang manfaatnya semakin besar dengan dampak yang semakin terkendali,” pungkasnya.