Blora, MEMANGGIL.CO - Pengelolaan sumur minyak rakyat di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, mulai menarik perhatian daerah lain. Tata kelola yang diklaim mampu menjaga produksi, keselamatan kerja, sekaligus hubungan sosial masyarakat membuat wilayah tersebut dijadikan salah satu rujukan dalam pengelolaan sumur minyak masyarakat.
Ketertarikan itu terlihat dari kedatangan rombongan Badan Kelola Usaha Musi Banyuasin (BKU Muba), Sumatera Selatan, ke Blora, Selasa (15/9/2026). Rombongan yang berjumlah lima orang tersebut datang untuk melakukan studi banding dan melihat langsung aktivitas sumur minyak rakyat di Gandu.
Kunjungan dilakukan melalui PT Keban Berkah Energi dan menjadi bagian dari upaya mempelajari pola pengelolaan sumur minyak masyarakat yang telah berjalan di Blora.
Perwakilan PT Keban Berkah Energi, Rezky Nugraha, mengatakan Gandu dipilih karena dinilai memiliki pola pengelolaan yang cukup baik dan mampu menjaga aktivitas produksi tetap berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat.
“Kami datang dalam rangka studi banding. Kami ingin melihat implementasi sumur masyarakat yang sudah sangat baik di daerah Gandu, Kabupaten Blora,” ujar Rezky.
Menurut dia, kunjungan tersebut bukan sekadar melihat aktivitas produksi minyak. Pihaknya ingin mempelajari bagaimana pengelolaan sumur masyarakat dapat dilakukan secara aman, tertib, berkelanjutan, sekaligus tetap memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Supaya kita di sini berguru dan mencari bagaimana solusi terbaik untuk produksi sumur minyak masyarakat yang sudah sangat baik, sangat rapi, dan guyub rukun di daerah Gandu ini,” katanya.
Ada sejumlah aspek yang menjadi perhatian rombongan selama berada di Blora. Salah satunya penerapan standar operasional dan keselamatan dalam kegiatan produksi.
Rezky menyebut pengelolaan di Gandu dinilai memiliki catatan yang positif dari sisi penerapan kaidah operasional, keselamatan, serta konsistensi produksi.
“Penerapan PEP-nya sudah sangat baik, terus juga panennya tidak ada insiden, kemudian hasil produksinya cukup konsisten dan stabil,” ungkapnya.
Namun, bagi rombongan dari Musi Banyuasin, hal yang tidak kalah penting justru berada di luar sumur minyak. Mereka melihat hubungan antara aktivitas produksi dengan kehidupan sosial masyarakat menjadi salah satu kekuatan yang perlu dipelajari.
Menurut Rezky, kondisi sosial di Gandu relatif kondusif. Masyarakat, pengelola, pemerintah, dan pihak-pihak yang terlibat dinilai mampu menjaga hubungan sehingga aktivitas produksi tidak berkembang menjadi konflik horizontal.
“Masyarakat di sini sudah sangat guyub rukun. Jadi, tidak ada lagi konflik horizontal,” tegasnya.
Ia juga menilai dukungan masyarakat dan pemerintah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pengelolaan sumur minyak rakyat.
“Pemerintah di sini sudah sangat mendukung,” ujarnya.
Selain keselamatan dan hubungan sosial, rombongan BKU Muba juga ingin menggali mekanisme pembagian hasil dari pengelolaan sumur minyak masyarakat. Aspek tersebut dinilai penting agar peningkatan produksi tidak hanya berorientasi pada hasil minyak, tetapi juga memberikan dampak terhadap kesejahteraan warga.
“Nah, itu yang ingin kita pelajari: bagaimana pembagian hasil, bagaimana komitmen masyarakat, dan juga komitmen dari BKS,” kata Rezky.
Menurutnya, peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan penguatan kehidupan sosial masyarakat. Jangan sampai aktivitas ekonomi meningkat, tetapi manfaatnya tidak dirasakan secara merata oleh warga di sekitar wilayah produksi.
“Jangan sampai meningkatkan produksi, tapi kehidupan sosialnya tidak terjaga secara merata,” ujarnya.
Program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR juga menjadi salah satu hal yang menarik perhatian rombongan. Menurut Rezky, keberadaan program sosial dapat menjadi instrumen untuk menjaga hubungan antara kegiatan produksi dengan masyarakat.
Ia menyebut pola komunikasi dan kolaborasi berbagai pihak di Gandu menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dibawa pulang untuk dipelajari lebih lanjut.
Dari sisi Musi Banyuasin, Rezky mengakui kegiatan produksi sumur minyak masyarakat di daerah tersebut sebenarnya telah berjalan cukup baik. Masyarakat juga dinilai telah memahami aktivitas produksi dan manfaatnya terhadap ketahanan energi.
“Kalau Musi Banyuasin saat ini produksinya cukup baik. Masyarakatnya juga sudah sangat mengerti terkait bagaimana memproduksi hasil minyak sumur masyarakat dan berdampak langsung untuk kedaulatan energi nasional,” katanya.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah aspek yang menurutnya perlu dibenahi. Karena itu, studi banding ke Blora diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pola pengelolaan yang lebih tertata.
Selama berada di Gandu, rombongan juga melihat langsung bagaimana aktivitas sumur minyak berada di tengah lingkungan perkebunan dan permukiman warga.
Rezky menilai keberadaan aktivitas produksi tersebut tidak secara signifikan mengganggu kehidupan masyarakat di sekitar lokasi.
“Di sini meskipun kita berada di tengah perkebunan, di tengah-tengah masyarakat, tapi hasil dari minyak ini tidak mengganggu kehidupan masyarakatnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, aktivitas warga tetap berjalan seperti biasa meskipun kegiatan produksi minyak berlangsung di wilayah tersebut.
“Kehidupan masyarakat di sini yang saya lihat berjalan sebagaimana mestinya. Ada yang pergi ke kebun. Perumahan di sini tidak terganggu sama sekali,” pungkasnya.
Kunjungan tersebut mendapat sambutan positif dari Penanggung Jawab PT Mataram Connection Nusantara (MCN) wilayah Blora, Rony Mey Yudha. Menurutnya, kedatangan rombongan dari Sumatera Selatan menjadi sinyal bahwa pengelolaan sumur minyak rakyat di Blora mulai mendapat perhatian lebih luas.
“Ini mereka datang memang untuk studi banding. Potensi yang cukup bagus, sumur minyak rakyat yang ada di Blora dijadikan percontohan skala nasional,” ujar Rony.
Menurut Rony, pembelajaran tidak hanya dilakukan di Gandu. Rombongan juga diarahkan untuk melihat lokasi sumur minyak rakyat lainnya yang berada dalam wilayah binaan MCN.
Salah satunya adalah sumur minyak rakyat di Desa Soko, Kecamatan Jepon.
“Selain sumur minyak Desa Gandu ini, kita juga arahkan ke sumur minyak rakyat Desa Soko, karena itu juga wilayah yang dinaungi pihak MCN,” paparnya.
Bagi Pemerintah Desa Gandu, perhatian dari daerah lain terhadap pengelolaan sumur minyak di wilayahnya menjadi kebanggaan tersendiri.
Kepala Desa Gandu Iwan Sucipto mengaku bersyukur karena potensi yang selama ini berada di wilayah desanya kini mendapat perhatian hingga luar Pulau Jawa.
“Pertama saya ucapkan Alhamdulillah. Kami senang kalau potensi sumur minyak rakyat ini dijadikan percontohan skala nasional,” ujar Iwan.
Ia juga mengaku bangga karena rombongan dari Sumatera Selatan datang langsung untuk melihat pengelolaan sumur minyak rakyat di desanya.
“Saya sangat senang, jauh-jauh dari Sumatera Selatan dapat berkunjung di desa kami,” katanya.
Studi banding tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan sumur minyak rakyat tidak hanya berbicara mengenai seberapa besar produksi yang dihasilkan. Aspek keselamatan, keteraturan operasional, pembagian manfaat, hubungan dengan masyarakat, serta dukungan pemerintah menjadi bagian penting agar aktivitas ekonomi tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Gandu kini tidak hanya menjadi lokasi produksi minyak rakyat di Kabupaten Blora. Wilayah tersebut mulai ditempatkan sebagai salah satu contoh bagaimana aktivitas produksi dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat ketika tata kelola, komunikasi, dan kepentingan sosial dijaga secara bersama-sama.