Tuban, MEMANGGIL - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Tuban menangkap dua pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang beraksi di wilayah Kabupaten Tuban. Keduanya merupakan residivis yang diduga spesialis pencurian sepeda motor asal Kota Surabaya.

Pengungkapan tersebut disampaikan dalam konferensi pers Polresta Tuban, Rabu (16/9/2026). Dalam kesempatan itu, Wakapolresta Tuban Kompol Supiyan membeberkan dua kasus curanmor yang berhasil diungkap jajarannya.

Kasus pertama merupakan pencurian sepeda motor Honda PCX warna merah bernomor polisi S 6081 GW. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (15/5/2026) sekitar pukul 21.00 WIB di area parkir Stadion Sport Center Kabupaten Tuban.

Kasus tersebut bermula ketika korban AJS (21), warga Kecamatan Semanding, datang untuk menyaksikan konser musik di lokasi tersebut. Dalam kondisi terburu-buru, korban meninggalkan karcis parkir di dasbor sepeda motor yang diparkir.

Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan pelaku untuk membawa kabur sepeda motor milik korban.

Setelah mengetahui kendaraannya hilang, korban melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Laporan kemudian ditindaklanjuti Satreskrim Polresta Tuban dengan melakukan serangkaian penyelidikan.

"Dari hasil penyelidikan didapat informasi terkait seseorang yang meminta jasa pembuatan kunci remote sepeda motor Honda PCX pada malam kejadian, hingga polisi berhasil mengamankan pelaku MNR (38) di wilayah Surabaya. Dari penangkapan itu diketahui pelaku juga merupakan residivis," jelas Kompol Supiyan.

Wakapolresta menambahkan, sepeda motor hasil pencurian yang diungkap dalam kasus ini belum sempat dijual oleh pelaku. Polisi berhasil mengamankan kendaraan tersebut sebelum berpindah tangan.

"Belum sempat dijual. Alhamdulillah sudah diamankan," jelasnya.

Ditempat yang sama, Kasat Reskrim Polresta Tuban AKP Arya Widjaya mengungkapkan bahwa pelaku diduga tidak hanya beraksi di satu lokasi. Polisi mengungkap sedikitnya lima tempat kejadian perkara (TKP) yang berkaitan dengan aksi para pelaku.

Dari lima TKP tersebut, tiga di antaranya berada di wilayah Tuban, sementara lainnya berada di Bojonegoro dan Nganjuk.

Terkait kasus di wilayah Bojonegoro, penyidik Polresta Tuban masih berkoordinasi dengan jajaran kepolisian setempat untuk memastikan keberadaan laporan maupun keterkaitan pelaku.

Sementara itu untuk wilayah Nganjuk, hasil komunikasi dengan penyidik setempat. Polisi Nganjuk disebut telah memiliki laporan terkait dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan pelaku.

"Kalau untuk Nganjuk, Kasatreskrim Nganjuk sudah komunikasi dengan kami bahwa ada LP-nya di Nganjuk. Jadi nanti proses hukum dari Nganjuk juga akan terus berjalan" jelasnya.

Dalam pengungkapan tersebut, polisi juga masih memburu barang bukti dari dua TKP lainnya. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kendaraan hasil curian diduga telah dijual melalui sistem cash on delivery (COD) ke wilayah Madura.

Polisi kini masih melakukan pendalaman untuk memastikan keberadaan kendaraan tersebut.
Selain itu, penyidik juga masih mendalami kemungkinan adanya anggota komplotan lain yang terlibat. 

Ungkap Kasus Kedua

Sementara itu, pengungkapan kasus kedua yakni pencurian sepeda motor Honda Beat warna hitam yang terjadi pada Senin, 31 Agustus 2026 sekitar pukul 08.30 WIB di depan rumah di Desa Sugihwaras Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban.

Sepeda motor tersebut tak lain milik MHD (51) yang berprofesi sebagai dosen, saat kejadian kendaraan diparkir di depan rumah dalam kondisi kontak masih tertancap. 

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, petugas memperoleh informasi terkait kejadian tersebut dan mengarahkan pada satu pelaku KMT (25) yang kemudian diamankan pada selasa di wilayah Tambaksari Kota Surabaya.

Dalam pemeriksaan KMT mengakui melakukan pencurian sepeda motor Honda Beat tersebut bersama rekannya RZL (41). Petugas juga berhasil mengamankan sepeda motor milik korban.

Motor Dikembalikan Kepada Korban 

Usai konferensi pers, Polisi mengembalikan barang bukti dua unit sepeda motor kepada para pemiliknya dengan status pinjam pakai barang bukti. 

Kebahagiaan terlihat saat para korban menerima kembali kendaraan yang sebelumnya sempat hilang. Mereka pun mengapresiasi kerja keras kepolisian yang berhasil mengungkap kasus tersebut hingga menemukan kendaraan milik para korban.

"Terima kasih Pak Kapolresta Tuban" ungkap MHD salah satu korban dengan penuh rasa syukur.

Sementara itu AJS, mengaku tidak menyangka sepeda motornya dapat ditemukan kembali setelah sebelumnya hilang saat dirinya datang untuk menyaksikan konser musik di wilayah Tuban.

Korban mengaku sempat pasrah dan tidak berharap kendaraannya bisa kembali. Namun, kabar ditemukannya sepeda motor tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri.

"Saya tidak menyangka motor saya bisa ditemukan kembali, sudah pasrah," ujarnya.

Selain mengungkapkan rasa terima kasih, para korban juga menyampaikan bahwa proses pengambilan kembali kendaraan mereka tidak dipungut biaya sepeser pun.

Kepada Media Kasat Reskrim Arya Widjaya juga menjelaskan mekanisme pengelolaan barang bukti kendaraan hasil curanmor yang berhasil ditemukan.

Kendaraan milik korban yang telah diamankan dan disita polisi nantinya dapat dikembalikan sementara kepada pemilik melalui mekanisme pinjam pakai, sehingga tetap bisa digunakan korban selama proses hukum berlangsung.

"Statusnya pinjam pakai. Karena ini sudah kita sita dan proses hukum masih berjalan, kita kembalikan dulu kepada korban biar bisa digunakan," jelasnya Kasat Reskrim AKP Arya Widjaya.

Namun, apabila kendaraan tersebut nantinya diperlukan untuk kepentingan pembuktian dalam persidangan, barang bukti akan diserahkan kepada pihak Kejaksaan dan setelah proses persidangan dan putusan berkekuatan hukum tetap selesai, kendaraan akan dikembalikan kepada korban sesuai ketentuan yang berlaku.

Polresta Tuban mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat memarkir kendaraan, memastikan kendaraan dalam kondisi terkunci, serta tidak meninggalkan kunci pada kendaraan yang diparkir.

Masyarakat juga diharapkan segera melapor kepada pihak kepolisian melalui call center 110 apabila mengetahui adanya aktivitas yang mencurigakan maupun menjadi korban tindak pidana.