Teknologi AI Unesa Bongkar Sindikat Joki Ujian Masuk PTN: Dokumen Palsu hingga Identitas Bodong Terungkap

Reporter : Adji
Warek 1 Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi (Adji/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO  – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil menggagalkan upaya kecurangan dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru. 

Aksi perjokian ini berhasil dibongkar berkat pemanfaatan teknologi Generative AI yang digunakan panitia untuk memverifikasi data peserta secara ketat.

​Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, mengungkapkan, temuan ini bermula dari analisis data awal yang dilakukan panitia. 

Sistem AI mendeteksi tingkat kemiripan foto sebesar 95 persen dari data peserta yang pernah mendaftar di dua jalur seleksi berbeda pada tahun sebelumnya.

​"Foto yang digunakan pelaku sama dengan yang dipakai pada percobaan tahun lalu di lokasi yang berbeda, namun saat itu pelaku tidak hadir karena sempat tertangkap di Bandung. Tahun ini, pelaku kembali mencoba dengan nama yang berbeda sesuai data tahun 2025," kata Martadi saat menggelar konferensi pers di Gedung Rektorat Unesa, Rabu, 22 April 2026.

​Martadi juga mengungkapkan, praktik ini melibatkan sindikat yang terstruktur. Pelaku tidak membawa dokumen sendiri, melainkan telah disiapkan oleh oknum di balik layar. 

Dari hasil pendalaman, ditemukan bukti berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan ijazah palsu dengan kualitas cetak tinggi, lengkap dengan stempel basah.

​"Ijazah yang dibawa pelaku sangat mirip dengan aslinya, hanya fotonya saja yang diganti. Pelaku direkrut di sebuah kafe dan diberikan seluruh dokumen palsu tersebut. Ada lapisan-lapisan (sindikat) di atasnya yang sulit dijangkau," ungkap Martadi.

​Untuk melancarkan aksinya, pelaku bahkan dilatih untuk menghafal identitas peserta asli, mulai dari nama hingga latar belakang orang tua. 

Namun, kedok pelaku terbongkar saat interogasi petugas. Pelaku yang mengaku berasal dari Madura tidak mampu menjawab pertanyaan dalam bahasa daerah tersebut. Selain itu, petugas juga menemukan sejumlah blangko kosong untuk pencetakan KTP di dalam kendaraan pelaku.

​Terkait teknis penindakan, Unesa tetap mengizinkan pelaku mengikuti ujian hingga selesai. Hal ini dilakukan untuk memastikan pelaku tetap berada di lokasi sebelum akhirnya diamankan oleh tim supervisi dan kepolisian.

​"Setelah ujian selesai, kami langsung mengamankan yang bersangkutan untuk pendalaman lebih lanjut di sekretariat. Kami kemudian berkoordinasi dengan pusat dan memutuskan untuk menempuh jalur hukum," tandas  Martadi.

​Saat ini, kasus tersebut telah diserahkan kepada pihak kepolisian. Unesa secara resmi melaporkan dugaan pelanggaran ketentuan tes dan penggunaan dokumen palsu. 

Pihak kepolisian kini tengah mendalami jaringan sindikat tersebut, termasuk modus pembuatan dokumen palsu yang diduga melibatkan profesional.

​"Kami fokus pada pelanggaran tes dan penggunaan data palsu. Untuk urusan pemalsuan dokumen dan jaringan di baliknya, kami serahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk diproses lebih lanjut," pungkas Martadi.

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru