Surat Terbuka untuk Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto
Gaduhnya Proyek Sekolah Rakyat di Tuban: Ketika Mimpi Anak-anak dan Keringat Buruh Menanti Keadilan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tuban - Salam hormat dan salam sehat selalu untuk Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kesehatan, dan kebijaksanaan kepada Bapak dalam menjaga amanah konstitusi serta amanah jutaan rakyat Indonesia.
Perkenankan saya, M. Abdul Rohman, seorang warga negara Indonesia yang lahir dan tumbuh di daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Tuban.
Sehari-hari saya bekerja sebagai seorang jurnalis. Saya juga memiliki hobi yang mungkin sama dengan Bapak, yakni menikmati secangkir kopi.
Bedanya, kopi yang saya minum bukan di ruang-ruang megah, melainkan di sudut-sudut warung sederhana, bersama masyarakat kecil yang setiap hari berjuang menyambung hidup.
Melalui surat ini saya menulis bukan sebagai orang yang paling tahu, bukan pula sebagai orang yang paling benar. Saya hanya seorang anak bangsa yang mencintai negeri ini dan percaya bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk mengangkat martabat rakyat.
Karena itulah, ketika Bapak melahirkan Program Sekolah Rakyat, hati saya ikut berbunga.
Saya membayangkan anak-anak dari keluarga kurang mampu akhirnya memiliki kesempatan yang sama untuk mengejar mimpi. Saya membayangkan kemiskinan tidak lagi menjadi tembok yang menghalangi cita-cita mereka.
Sungguh, gagasan itu indah.
Negara hadir untuk anak-anak yang selama ini nyaris tak terdengar suaranya.
Mereka berhak bermimpi menjadi dokter, guru, insinyur, tentara, polisi, bahkan mungkin suatu hari menjadi Presiden Republik Indonesia.
Itulah cita-cita yang membuat saya ikut bangga.
Pak Presiden,
Saya juga ingin jujur.
Saya juga pernah merasa tersinggung ketika Bapak melontarkan istilah "Londo Ireng" yang dikaitkan dengan profesi jurnalis. Namun saya memilih menjadikan perasaan itu sebagai ruang untuk berdialog, bukan alasan untuk berhenti mencintai negeri ini. Saya percaya kritik dan demokrasi adalah bagian dari ikhtiar bersama membangun Indonesia.
Hari ini saya menulis bukan untuk memperpanjang perdebatan.
Saya menulis karena saya mencintai Program Sekolah Rakyat.
Saya tidak ingin program besar yang lahir dari niat baik Bapak justru tercoreng oleh persoalan dalam pelaksanaannya.
Pak Presiden,
Di Kabupaten Tuban berdiri salah satu Proyek Strategis Nasional berupa pembangunan Sekolah Rakyat yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya.
Saat proyek itu dimulai, kami bangga. Kami berharap masyarakat sekitar memperoleh pekerjaan.
Kami berharap ekonomi rakyat bergerak. Kami berharap anak-anak miskin memiliki sekolah yang layak.
Namun perlahan harapan itu berubah menjadi kegelisahan. Persoalan demi persoalan bermunculan.
Mulai dari keluhan masyarakat sekitar proyek, keterlambatan penyelesaian pembangunan yang berdampak pada mundurnya pelaksanaan MPLS dan proses belajar siswa baru, hingga munculnya keluhan para pekerja mengenai dugaan keterlambatan pembayaran upah yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Pak Presiden,
Bagi sebagian orang, keterlambatan membayar upah mungkin hanya soal angka.
Tetapi bagi seorang buruh, upah bukan sekadar uang.
Baca juga: Pengawas Ketenagakerjaan Jatim Pasif Soal Hak Upah Buruh Sekolah Rakyat Tuban Terabaikan
Di dalamnya ada susu untuk anak. Ada beras yang harus dibeli. Ada uang sekolah. Ada obat untuk orang tua.
Ada pula harapan yang setiap malam ditunggu keluarga di rumah.
Keringat mereka telah jatuh di atas pasir, semen, besi, dan beton demi menyelesaikan bangunan yang menjadi kebanggaan negara.
Namun ketika hak mereka belum diterima tepat waktu sebagaimana yang mereka harapkan, yang ikut tertunda bukan hanya senyum mereka, tetapi juga senyum anak-anak yang menunggu ayahnya pulang membawa nafkah.
Pak Presiden,
Yang membuat hati kami semakin sedih adalah ketika para buruh merasa harus berjuang sendiri.
Pemerintah daerah menyampaikan belum menerima laporan resmi. Pengawas ketenagakerjaan juga menyampaikan hal serupa.
Sementara pihak pelaksana proyek belum memberikan penjelasan kepada publik terkait berbagai persoalan yang berkembang.
Saya memahami bahwa setiap lembaga memiliki mekanisme dan prosedur.
Namun di mata masyarakat kecil, prosedur sering kali terasa begitu panjang ketika dapur mereka sudah tidak lagi mengepul.
Pak Presiden,
Kesabaran manusia tentu ada batasnya.
Ketika hak yang mereka tunggu belum juga jelas, sebagian pekerja akhirnya memilih menghentikan aktivitas sebagai bentuk protes.
Saya percaya, mereka tidak ingin menghambat pembangunan. Mereka hanya ingin didengar.
Mereka hanya ingin memperoleh hak atas pekerjaan yang telah mereka selesaikan.
Baca juga: Polemik Upah Buruh Proyek Sekolah Rakyat Tuban Tertunggak, Disnakerin: Belum Ada Laporan
Pak Presiden,
Sekolah Rakyat adalah simbol harapan.
Jangan biarkan simbol itu kehilangan makna hanya karena persoalan yang sebenarnya masih bisa diselesaikan dengan komunikasi yang terbuka, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Saya percaya Bapak tidak pernah menginginkan program yang lahir dari cita-cita mulia justru menyisakan luka bagi para pekerja yang ikut membangunnya.
Karena itu, melalui surat ini saya memohon dengan segala kerendahan hati agar Bapak berkenan memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang berkembang di proyek Sekolah Rakyat Tuban.
Apabila memang terdapat persoalan administrasi, kontraktual, maupun ketenagakerjaan, semoga dapat segera diselesaikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku sehingga hak setiap pihak terlindungi dan kepercayaan masyarakat terhadap program ini tetap terjaga.
Kami ingin melihat Sekolah Rakyat dikenang sebagai tempat lahirnya generasi hebat Indonesia.
Bukan dikenang karena polemik yang mengiringi pembangunannya.
Semoga anak-anak bisa belajar dengan tenang. Semoga para buruh bisa pulang membawa senyum. Semoga negara benar-benar hadir untuk semua.
Terima kasih atas perhatian Bapak Presiden.
Semoga Allah SWT selalu membimbing setiap langkah Bapak dalam memimpin Indonesia.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tuban, 3 Agustus 2026
Hormat saya,
M. Abdul Rohman/ Warga Kabupaten Tuban.
Editor : Abdul Rohman