Kecelakaan Pelajar Blora

63 Kecelakaan Libatkan Pelajar di Blora, Dinrumkimhub Siapkan Dasar Pengajuan Bus Sekolah

Reporter : Redaksi
Kepala Dinrumkimhub Kabupaten Blora, Pujiariyanto. (Foto: Dok. Pribadi/Memanggil.co)

Blora, MEMANGGIL.CO - Sebanyak 63 kejadian kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar tercatat di Kabupaten Blora sejak 1 Januari hingga 9 Juli 2026. Data tersebut berasal dari rekap Satlantas Polres Blora dan kini menjadi salah satu bahan awal Dinrumkimhub Blora untuk mendorong pengajuan bus atau armada sekolah.

Kepala Dinrumkimhub Blora, Pujiariyanto, mengatakan data kecelakaan tersebut dibutuhkan untuk menggambarkan kondisi keselamatan pelajar di jalan.

Baca juga: Bupati Blora Dorong Revitalisasi Pasar Plaza Cepu, Beras Organik Dibidik Tembus Pasar Nasional

Menurutnya, angka tersebut dapat menjadi pijakan awal ketika pemerintah daerah mengusulkan dukungan armada transportasi khusus pelajar.

“Data dari Satlantas Polres Blora ini kami minta sebagai pijakan awal untuk mengajukan bus atau armada sekolah, sehingga ada dasar data yang menunjukkan kebutuhan transportasi pelajar,” kata Pujiariyanto, ditulis Memanggil.co, Selasa (1/9/2026). 

Menurut Pujiariyanto, penyediaan armada sekolah diharapkan dapat memberikan pilihan transportasi yang lebih aman bagi siswa. Terutama bagi pelajar yang selama ini menggunakan kendaraan bermotor sendiri untuk perjalanan menuju maupun pulang dari sekolah.

Data Satlantas menunjukkan seluruh pelajar yang tercatat dalam 63 kejadian tersebut berada pada rentang usia 13 hingga 17 tahun. Kelompok usia 17 tahun menjadi yang terbanyak dengan 19 kejadian, disusul usia 16 tahun sebanyak 18 kejadian.

Selanjutnya terdapat 11 kejadian yang melibatkan pelajar usia 14 tahun, 10 kejadian usia 15 tahun dan lima kejadian usia 13 tahun. Dengan demikian, kelompok usia 16–17 tahun mencapai 37 dari 63 kejadian atau sekitar 58,7 persen.

Bus Sekolah Jadi Bagian Upaya Pencegahan

Dokumen analisis Satlantas Polres Blora mencantumkan pengadaan dan optimalisasi angkutan atau bus sekolah gratis pada rute-rute utama sekolah sebagai salah satu rekomendasi strategis. Rekomendasi tersebut ditempatkan bersama penguatan aturan sekolah, pembenahan Zona Selamat Sekolah dan edukasi keselamatan lalu lintas.

Baca juga: Warga Klokah Blora Krisis Air Bersih, Kejati Jateng Kirim 20 Tangki Bantuan

Pujiariyanto mengatakan rencana pengajuan armada sekolah tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya solusi terhadap kecelakaan pelajar. Namun, transportasi khusus siswa dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi penggunaan sepeda motor pribadi oleh anak usia sekolah.

“Harapannya anak-anak mempunyai pilihan transportasi yang lebih aman untuk berangkat dan pulang sekolah, sehingga tidak semuanya harus menggunakan kendaraan sendiri,” ujarnya.

Data kecelakaan juga menunjukkan lokasi kejadian tersebar di berbagai wilayah Blora. Sejumlah ruas yang tercatat antara lain Blora-Cepu, Blora-Rembang, Blora-Ngawen, Blora-Kunduran dan Randublatung-Doplang.

Kecelakaan juga terjadi di jalan kabupaten, jalan kecamatan hingga jalan desa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan transportasi pelajar harus mempertimbangkan cakupan wilayah dan rute perjalanan siswa.

Baca juga: Tembakau Jadi Andalan Pertanian Blora, 3.000 Hektare Digarap 10.600 Petani

Dalam dokumen tersebut, waktu kejadian juga tidak hanya berada pada jam berangkat dan pulang sekolah. Kecelakaan tercatat terjadi mulai pagi, siang, sore hingga malam hari.

Data 2025 turut menunjukkan persoalan serupa dengan total 64 kejadian kecelakaan yang melibatkan anak usia sekolah sepanjang tahun. Angka tersebut tidak dapat dibandingkan sebagai dua tahun penuh karena data 2026 baru sampai 9 Juli, tetapi jumlah 63 kejadian dalam enam bulan lebih menunjukkan tingginya frekuensi kasus.

Lebih lanjut, Pujiariyanto mengatakan data kepolisian tersebut akan menjadi salah satu bahan untuk memperkuat usulan transportasi sekolah. Kajian berikutnya diperlukan untuk menentukan kebutuhan armada, rute pelayanan dan sasaran sekolah yang akan diprioritaskan.

“Angka ini kami jadikan pijakan awal, kemudian kebutuhan armada dan rutenya tentu perlu dikaji lagi sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan,” katanya.
 

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru