Rembang, MEMANGGIL.CO- Perputaran ekonomi Ramadan mulai terasa di Kabupaten Rembang. Kampung Ramadan 2026 resmi dibuka di Jalan Gatot Subroto, tepat di depan Radio CBFM Rembang, Rabu (18/2/2026). Bukan sekadar bazar takjil, agenda tahunan ini diproyeksikan menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat selama bulan suci.
Sebanyak 40 stan di Jalan Gatot Subroto diisi sekitar 80 pelaku usaha mikro. Secara keseluruhan, sekitar 250 UMKM terlibat di sejumlah titik penyelenggaraan, mulai dari Alun-alun Lasem, Pasar Kragan, pusat kuliner Pamotan, hingga Kecamatan Sumber. Pemerintah daerah menargetkan lonjakan transaksi signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’, menegaskan pemindahan lokasi pusat Kampung Ramadan di wilayah kota bukan keputusan spontan. Menurutnya, perubahan tersebut melalui kajian matang dan penyerapan aspirasi masyarakat.
“Penempatan di Jalan Gatot Subroto ini melalui beberapa kajian dan aspirasi masyarakat. Jadi bukan asal pindah, tetapi berdasarkan kajian dari Disdag dan Disdagkop UMKM,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Pria yang akrab disapa Gus Hanies itu menilai, faktor keramaian tidak semata-mata ditentukan lokasi. Strategi promosi dinilai lebih menentukan daya tarik dan volume transaksi.
“Promosi sekarang bisa lewat media sosial, TikTok, dan lainnya. Kalau masyarakat sudah tahu ini pusat jajanan dan UMKM, pasti akan tersedot ke sini,” katanya.
Pemkab Rembang, lanjutnya, berkomitmen mendorong UMKM naik kelas. Dukungan tidak hanya bersumber dari APBD, tetapi juga melalui sinergi dengan BUMN dan BUMD, termasuk dalam hal pembinaan, pemasaran, dan akses permodalan.
“Kampung Ramadan ini harus jadi etalase produk UMKM Rembang. Bukan hanya wisata kuliner, tetapi kesempatan menunjukkan bahwa produk lokal mampu bersaing,” tegasnya.
Kepala Dindagkop UKM Kabupaten Rembang, Mahfudz, menyebutkan kegiatan berlangsung mulai 18 Februari hingga 14 Maret 2026. Menurutnya, Ramadan selalu menjadi momentum strategis untuk mendorong kebangkitan ekonomi lokal.
“Kegiatan ini tidak hanya memeriahkan Ramadan, tetapi mendorong pemberdayaan UMKM agar ekonomi lokal tumbuh,” jelasnya.
Respons positif datang dari pelaku usaha. Nur Hidayah, salah satu peserta, menyebut Kampung Ramadan menjadi momentum penting memperluas jaringan pemasaran dan memperkuat eksistensi produk lokal.
“Kami berharap dukungan pembinaan dan promosi tidak hanya saat Ramadan. Kalau ada event tambahan seperti lomba atau hiburan, pengunjung pasti semakin banyak,” ujarnya.
Meski lokasi pusat kegiatan berpindah, pelaku UMKM optimistis daya beli masyarakat tetap stabil, bahkan meningkat. Ramadan 2026 pun diharapkan tidak hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga menjadi titik akselerasi ekonomi kerakyatan di Rembang.