Kudus, MEMANGGIL.CO - Di tengah menjamurnya jajanan modern dan kuliner kekinian, sebuah panganan tradisional khas Kudus masih bertahan menjaga identitasnya. Jajanan tersebut adalah intip ketan, kuliner berbahan dasar beras ketan dan kelapa parut yang hanya dapat dijumpai satu kali dalam setahun, tepatnya menjelang dan selama bulan Ramadan.

Keberadaan intip ketan kini terbilang langka. Di Kabupaten Kudus, jajanan ini tidak lagi mudah ditemukan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun justru karena kelangkaannya, intip ketan menjadi salah satu kuliner tradisional yang selalu diburu masyarakat setiap Ramadan tiba.

Salah satu penjual yang masih setia mempertahankan tradisi ini adalah Layli. Bersama suaminya, ia membuka lapak sederhana di sekitar kawasan Menara Kudus sejak sore hari hingga malam selama rangkaian Ramadan. Lapak tersebut menjadi salah satu titik yang masih konsisten menghadirkan intip ketan dengan cara memasak tradisional.

Layli tidak sekadar menjual makanan, tetapi juga menjaga cara pengolahan yang diwariskan turun-temurun. Proses pembuatan intip ketan dilakukan menggunakan cobek tanah dan tungku api, bukan peralatan modern.

“Kalau pakai wajan biasa, rasanya beda,” kata Layli, ditulis ulang Memanggil.co pada Minggu (22/2/2026). 

Menurutnya, cobek tanah memberikan aroma khas sekaligus membuat ketan tidak mudah lengket saat dimasak. Beras ketan yang telah dimasak dicampur parutan kelapa, kemudian dipipihkan di atas cobek tanah dan ditaburi gula pasir sebelum dipanaskan.

Seiring proses pemanasan, bagian bawah ketan akan berubah warna menjadi cokelat kehitaman menyerupai kerak nasi gosong. Lapisan inilah yang disebut intip dalam istilah Jawa, sekaligus menjadi ciri utama jajanan tersebut.

Setelah matang, intip ketan dibungkus menggunakan daun pisang untuk menjaga aroma dan rasa alaminya. Penyajian sederhana ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat kuliner tradisional.

Layli mengaku, dirinya hanya menjual intip ketan saat Ramadan.

“Intip ketan ini hanya ada saat Dandangan. Satu tahun sekali,” ujarnya.

Ia menyebut, di luar momentum tersebut hampir tidak ada permintaan, sekaligus sulit menemukan pembeli yang memahami nilai tradisi di balik jajanan tersebut.
Lebih dari sekadar makanan, intip ketan diyakini memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dakwah Sunan Kudus.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Sunan Kudus semasa hidupnya kerap menikmati intip ketan sambil minum kopi.

Sate Pak Rizki

“Konon ceritanya dulu Sunan Kudus ngopi sambil makan intip ketan,” kata Layli.

Kebiasaan tersebut kemudian diwariskan dan berkembang menjadi tradisi kuliner yang hanya muncul menjelang Ramadan, seiring dengan tradisi Dandangan yang menjadi penanda datangnya bulan puasa di Kudus.

Sementara itu, Rani, salah satu pembeli asal Pati, mengaku selalu menyempatkan diri berburu intip ketan setiap Ramadan tiba.

“Sekarang sudah jarang sekali,” ujarnya.

Menurut Rani, rasa gurih dan manis intip ketan memiliki kekhasan tersendiri dan sangat cocok dijadikan menu takjil berbuka puasa.

“Enak dan gurih. Cocok buat buka puasa,” katanya singkat.

Di tengah gempuran jajanan modern, keberadaan intip ketan menjadi simbol ketahanan kuliner tradisional Kudus. Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga ruang bagi warisan budaya lokal untuk kembali hadir dan dikenang.