Surabaya, MEMANGGIL.CO - Surabaya tak pernah kekurangan jejak sejarah. Namun, tak semua jejak itu mendapat sorotan. Di balik padatnya permukiman Kampung Peneleh, berdiri sebuah masjid tua yang nyaris luput dari perhatian: Masjid Peneleh.

Lokasinya tersembunyi di Gang Peneleh V, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng. Hanya berjarak sekitar 400 meter dari kawasan makam Belanda (Kerkhof) dan tak jauh dari rumah HOS Cokroaminoto. Tetapi ironi justru terasa di tengah kawasan bersejarah, keberadaan masjid ini seperti tenggelam.

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah biasa. Ia adalah salah satu jejak dakwah awal Islam di Surabaya. Dibangun oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel bersama rombongannya, Masjid Peneleh menjadi masjid kedua setelah Langgar Kembang Kuning. Dari titik ini, penyebaran Islam di wilayah Surabaya berkembang pesat.

Namun, narasi besar itu kini seperti meredup.

Terjepit Permukiman, Tersisih dari Ingatan Kota

Dulu, Masjid Peneleh berdiri terbuka. Bahkan bisa terlihat dari tepian Kali Mas. Kini, bangunannya terhimpit rumah warga. Akses sempit dan minim penanda membuatnya nyaris tak terlihat oleh orang luar.

Tak banyak warga Surabaya yang tahu bahwa di balik gang tersebut tersimpan bangunan berusia ratusan tahun dengan nilai historis tinggi. Popularitasnya kalah jauh dibanding Masjid Ampel atau Masjid Rahmat di Kembang Kuning.

Padahal hingga awal 1900-an, kawasan ini merupakan salah satu titik penting yang ramai disinggahi.

Jejak Arsitektur yang Tetap Bertahan

Meski tergerus waktu, karakter asli Masjid Peneleh masih terjaga. Renovasi besar yang dilakukan sekitar tahun 1800 tidak mengubah struktur utama bangunan.

Di bagian dalam, sepuluh tiang kayu jati masih berdiri kokoh menopang bangunan. Langit-langitnya pun tetap menggunakan material kayu jati, menciptakan nuansa klasik yang kuat.

Sementara bagian luar mengalami sentuhan arsitektur bergaya Indische Empire terlihat dari dinding tinggi, pintu dan jendela besar, serta ventilasi yang dihiasi kaca patri. Sekilas, gaya ini mengingatkan pada bangunan kolonial seperti Gedung Grahadi.

Masjid ini juga menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan. Pada 1945, kubahnya sempat terkena tembakan meriam dari arah Jembatan Merah. Meski mengalami kerusakan di sisi timur, bangunan tetap berdiri dan segera diperbaiki.

Sate Pak Rizki

Potensi Besar yang Belum Tergarap

Masjid Peneleh bukan berdiri sendiri. Ia berada di kawasan Kampung Peneleh yang kaya akan situs bersejarah: rumah tokoh pergerakan, pemukiman lawas, bangunan kolonial, hingga kompleks pemakaman kuno De Begraafplaats.

Sayangnya, potensi ini belum digarap maksimal.

Jika ditata secara serius dan terintegrasi, Kampung Peneleh bisa menjadi destinasi wisata heritage unggulan Surabaya setara dengan kawasan Kota Lama di kota-kota lain.

Masjid Peneleh bisa menjadi pusat narasi. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai titik awal perjalanan sejarah tentang dakwah Walisanga, kolonialisme, hingga perjuangan kemerdekaan.

Antara Terlupakan dan Menunggu Dibangkitkan

Hari ini, Masjid Peneleh masih berdiri. Sunyi, namun menyimpan cerita panjang.

Ia bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi perjalanan Surabaya sebagai kota peradaban.

Pertanyaannya kini: apakah ia akan terus tersembunyi di balik gang sempit, atau justru diangkat kembali menjadi bagian penting dari identitas kota?