Blora, MEMANGGIL.CO - Kunjungan Bupati Blora, H. Arief Rohman ke Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, yang awalnya menuai apresiasi, justru berbalik menjadi perbincangan panas di media sosial. Aksi yang disebut-sebut “nyengkuyung” atau berjalan kaki meninjau jalan swadaya warga itu kini dirujak netizen dengan beragam komentar pedas.
Kedatangan orang nomor satu di Blora bersama Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini pada Rabu (18/3/2026) dilakukan setelah viralnya aksi gotong royong warga memperbaiki jalan secara mandiri. Warga diketahui membangun jalan rabat beton melalui sistem urunan, mulai dari material hingga tenaga kerja.
Namun di tengah viralitas tersebut, sebagian warganet menilai kehadiran kepala daerah itu sekadar ikut arus popularitas di media sosial.
Menanggapi hal itu, Bupati yang akrab disapa Gus Arief membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk membuat konten, melainkan bentuk dukungan nyata kepada masyarakat.
“Saya datang tidak semata-mata untuk konten, tapi memberi apresiasi dan bantuan,” tegasnya.
Gus Arief menyebut telah memberikan bantuan berupa 300 sak semen serta menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk membantu material grosok guna mendukung pembangunan jalan.
“Kami bantu semen 300 sak dan perintahkan bantuan grosok,” ujarnya.
Di lapangan, Gus Arief bersama rombongan meninjau langsung ruas jalan Menden - Megeri hingga Getas Kalikangkung dengan berjalan kaki. Ia juga berdialog dengan warga yang terlibat dalam pembangunan swadaya tersebut.
Kepala Desa Nglebak, Eko Puryono, turut membantah anggapan negatif yang berkembang di media sosial. Ia menegaskan bahwa kehadiran Bupati justru membawa manfaat langsung bagi warga.
“Pak Bupati datang atas undangan desa dan membawa bantuan nyata,” jelasnya.
Menurutnya, gerakan swadaya ini murni inisiatif warga yang berangkat dari musyawarah tingkat RT. Seluruh proses pembangunan dilakukan secara gotong royong dan dicatat secara transparan.
Meski demikian, polemik di media sosial terus bergulir. Banyak netizen menilai langkah pemerintah daerah masih lambat dalam menangani infrastruktur, sehingga warga harus turun tangan secara mandiri.
Kaitan persoalan infrastruktur, Gus Arief mengakui masih banyak ruas jalan yang belum tertangani. Ia menyebut keterbatasan anggaran menjadi salah satu tantangan.
“Kami mohon maaf, masih banyak jalan yang belum tertangani,” ungkapnya.
Ke depan, Pemkab Blora berkomitmen mengupayakan pembangunan jalan di wilayah tersebut melalui berbagai skema anggaran, termasuk Inpres Jalan Daerah (IJD).
“Saya akan mengupayakan bisa dapat dana IJD,” tandasnya.
Ia juga membuka peluang percepatan melalui anggaran perubahan 2026, meskipun secara perencanaan utama ditargetkan pada 2027.
Terlepas dari polemik yang berkembang, kondisi jalan di Desa Nglebak memang menjadi kebutuhan mendesak.
Desa dengan sekitar 3.000 jiwa tersebut memiliki aktivitas ekonomi yang tinggi, terutama di sektor pertanian tebu dan peternakan. Akses jalan yang terbatas membuat sebagian besar warga lebih memilih beraktivitas ke wilayah Ngawi yang jaraknya lebih dekat dibanding pusat Kota Blora.
Situasi inilah yang kemudian menjadi latar belakang kuat munculnya gerakan swadaya warga, sekaligus memantik perhatian publik hingga tingkat kabupaten.
Kini, sorotan tidak hanya tertuju pada aksi warga, tetapi juga respons pemerintah daerah. Di tengah kritik dan dukungan yang sama-sama menguat, publik menunggu realisasi janji perbaikan jalan yang telah disampaikan.