Blora, MEMANGGIL.CO - Kondisi Pasar Hewan Kambing di Kelurahan Jepon, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Meski menjadi pusat aktivitas jual beli ternak yang ramai setiap hari pasaran Pahing dan Kliwon, kondisi fisik pasar tersebut memprihatinkan karena sejumlah bangunan los sudah mengalami kerusakan dan sebagian terlihat nyaris ambruk.

Menindaklanjuti laporan yang diterima dari Kecamatan Jepon, Kepala Bidang Pasar Daerah Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora, Fiqri Hidayat, turun langsung melakukan survei lapangan untuk melihat kondisi pasar secara langsung.

Dalam kunjungan tersebut, Fiqri didampingi Camat Jepon Andi Nurrohman, Sekretaris Kecamatan Jepon Marthin Ukie Andhana, Lurah Jepon Purhadi, serta sejumlah pihak terkait lainnya.

Survei dilakukan sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi kebutuhan penataan dan perbaikan pasar yang selama ini menjadi pusat perdagangan kambing bagi masyarakat Jepon dan wilayah sekitarnya.

"Kami siapkan dua opsi. Pertama, apabila pada Perubahan Anggaran Tahun 2026 tersedia alokasi anggaran, kami akan mengusulkan program perbaikan Pasar Kambing Jepon kepada Pemerintah Kabupaten Blora," ujar Fiqri Hidayat saat meninjau lokasi, ditulis Jumat (5/6/2026). 

Menurutnya, kondisi bangunan pasar saat ini memang membutuhkan perhatian agar aktivitas perdagangan dapat berlangsung dengan lebih aman dan nyaman.

Selain mengupayakan dukungan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pihaknya juga akan menjajaki kemungkinan bantuan dari pemerintah pusat.

"Opsi kedua, kami akan mengajukan usulan bantuan kepada pemerintah pusat. Harapannya, kebutuhan penataan dan pengembangan Pasar Kambing Jepon dapat segera terwujud sehingga mampu meningkatkan kenyamanan pedagang maupun pengunjung," katanya. 

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, sejumlah bangunan los pasar terlihat sudah berusia tua dan mengalami penurunan kualitas konstruksi. Beberapa tiang penyangga tampak miring dan tidak lagi tegak lurus sebagaimana mestinya.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kekuatan bangunan, terutama ketika pasar dipadati pedagang, pembeli, dan hewan ternak pada hari pasaran.

Tidak hanya itu, atap seng pada sejumlah los juga terlihat berkarat dan berlubang. Pada beberapa bagian, lembaran atap tampak melendut, sementara rangka kayu penyangga menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat usia dan faktor cuaca.

Salah satu bangunan di bagian depan pasar bahkan terlihat dalam kondisi paling memprihatinkan. Tiang-tiang penyangga tampak condong, sambungan kayu terlihat rapuh, dan sebagian konstruksi tampak tidak lagi kokoh menopang beban atap.

Sate Pak Rizki

Meski demikian, bangunan tersebut masih digunakan sebagai tempat beraktivitas oleh pedagang maupun pengunjung pasar.

Selain persoalan bangunan, kondisi lingkungan pasar juga dinilai membutuhkan penataan. Area sekitar pasar terlihat semrawut dengan keberadaan material kayu bekas yang berserakan di sejumlah titik. Rumput liar juga tumbuh di beberapa bagian kawasan pasar.

Tata letak aktivitas perdagangan dinilai belum tertata secara optimal. Kendaraan pengangkut ternak, sepeda motor, pedagang, pembeli, dan hewan ternak berada dalam satu area yang sama sehingga menimbulkan kesan kumuh dan kurang terorganisir.

Kondisi kebersihan lingkungan juga menjadi perhatian. Sisa pakan ternak dan kotoran hewan masih ditemukan di sejumlah sudut pasar yang digunakan untuk aktivitas jual beli.

Meski berada dalam kondisi fisik yang kurang memadai, Pasar Kambing Jepon tetap menunjukkan geliat ekonomi yang cukup tinggi. Puluhan kambing diperjualbelikan setiap hari pasaran, dengan aktivitas tawar-menawar yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari.

Pasar tersebut selama ini menjadi salah satu pusat perdagangan ternak rakyat di wilayah Jepon dan sekitarnya. Para peternak, pedagang, hingga pengepul dari berbagai desa datang untuk melakukan transaksi yang menjadi bagian penting dari roda perekonomian masyarakat setempat.

Tingginya aktivitas perdagangan tersebut dinilai belum diimbangi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Karena itu, hasil survei lapangan diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.

Penataan kawasan pasar dinilai perlu mencakup rehabilitasi bangunan yang rusak, peningkatan kualitas konstruksi los pasar, penataan area parkir dan bongkar muat ternak, perbaikan sanitasi lingkungan, hingga penyediaan fasilitas pendukung yang lebih layak bagi pedagang dan pengunjung.

Dengan kondisi bangunan yang sebagian sudah mengalami kerusakan cukup berat, upaya revitalisasi dinilai mendesak untuk dilakukan guna menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Blora berharap Pasar Hewan Kambing Jepon tidak hanya tetap menjadi pusat perdagangan ternak yang produktif, tetapi juga memiliki fasilitas yang aman, tertata, dan representatif sehingga mampu mendukung peningkatan ekonomi masyarakat peternak secara berkelanjutan.