Surabaya, MEMANGGIL.CO  — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan stabilitas sektor jasa keuangan nasional hingga saat ini masih terjaga dengan kuat.  

Kondisi solid ini berhasil dipertahankan di tengah meningkatnya tekanan inflasi global dan tingginya volatilitas pasar keuangan internasional. 

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan, hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) pada 26 Mei 2026 menunjukkan industri jasa keuangan Indonesia memiliki daya tahan yang baik, meskipun harus berhadapan dengan rentetan tantangan eksternal. 

"Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, kinerja sektor jasa keuangan nasional masih terjaga dengan baik dan tetap mampu mendukung aktivitas perekonomian domestik," kata  Friderica dalam keterangan resminya, Senin, 8 Juni 2026. 

Menurutnya, OJK mencatat ketidakpastian global saat ini masih dipicu oleh berlanjutnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan tersebut memaksa harga energi dunia bertahan di level tinggi, yang pada gilirannya mendongkrak inflasi di berbagai negara. 

Situasi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global akan tertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Friderica menilai, dampak  nyata dari tren ini sudah terlihat pada lonjakan imbal hasil  obligasi pemerintah di berbagai belahan dunia serta meningkatnya fluktuasi pasar keuangan global. 

Seperti di Amerika Serikat, Aktivitas ekonomi relatif kuat berkat pasar tenaga kerja yang solid, meski tekanan inflasi mulai menggerus tingkat kepercayaan konsumen. 

Sate Pak Rizki

Sementara di Tiongkok, perekonomian terindikasi melambat akibat tekanan pada investasi dan permintaan domestik, walaupun sektor ekspor masih menjadi penopang utama. 

Rentetan sentimen negatif ini diakui OJK meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global, sekaligus memicu arus modal yang lebih fluktuatif ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. 

"Meski dikepung sentimen negatif global, aktivitas ekonomi di dalam negeri dilaporkan masih berkinerja positif.," ungkap Friderica  

Dari sisi produksi, sektor manufaktur Indonesia kembali mencatatkan ekspansi pada Mei 2026. Sementara dari sisi konsumsi, aktivitas domestik tetap terjaga dengan baik. 

Walaupun kenaikan harga energi global sempat memicu kenaikan inflasi di dalam negeri, OJK memastikan tingkat inflasi nasional masih berada dalam batas yang terkendali. Sentimen positif lainnya adalah neraca perdagangan Indonesia yang tetap konsisten mencatatkan surplus, meski nominalnya lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. 

" Fungsi intermediasi keuangan di Indonesia terus tumbuh positif. Didukung oleh tingkat solvabilitas industri yang berada pada level tinggi, sektor keuangan nasional dinilai siap menjadi benteng pertahanan utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik," pungkas Friderica.