Surabaya, MEMANGGIL.CO – Kawasan Kalianak di Surabaya kembali dilanda banjir rob pada pertengahan Juli 2026.
Genangan air laut ini dinilai semakin sering terjadi dan berdampak pada aktivitas warga. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius.
Dosen Program Studi (Prodi) Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Dr. Hijrah Saputra, ST, M.Sc, membedah akar masalah fenomena tersebut.
Menurut Hijrah, banjir rob merupakan fenomena alamiah akibat pasang surut air laut yang dipengaruhi gravitasi bulan dan matahari.
Lokasi Kalianak yang berada di muara menjadikannya zona rawan genangan saat air laut pasang.
Namun, ada tiga faktor utama yang memperparah kondisi ini. Pertama, kenaikan muka air laut akibat pemanasan global sebesar 0,3–0,6 cm per tahun.
Kedua, penurunan muka tanah di Surabaya timur dan utara karena eksploitasi air tanah berlebihan.
Ketiga, perubahan tata guna lahan di hulu dan pesisir Kalianak yang mengurangi daerah resapan.
"Sekarang banjir rob dapat terjadi lima hingga enam kali dengan ketinggian 30–40 cm yang berperan sebagai ancaman yang cukup serius," jelas Hijrah, Kamis (23/07/2026).
Selain itu, sedimentasi dan sampah menyebabkan pendangkalan drainase sehingga kapasitas saluran menyempit.
Untuk mengatasinya, diperlukan mitigasi struktural seperti pengerukan berkala, revitalisasi saluran dengan konsep ekodrainase, perbaikan tanggul dan pintu air otomatis, serta pembangunan polder.
Mitigasi non-struktural berupa sistem peringatan dini dan sosialisasi kepada masyarakat juga penting.
Hijrah menekankan solusi jangka panjang harus terintegrasi, termasuk penggunaan teknologi IoT untuk pompa dan pintu air adaptif.
"Selain itu juga pembangunan flood wall ramah lingkungan, serta relokasi terencana bagi warga di zona bahaya tinggi," pungkas Hijrah.